Camellia Flowers

558 24 0
                                        

Musim semi telah tiba. Bunga-bunga terlihat bermekaran di setiap mata memandang. Angin sepoi-sepoi membuat dedaunan dan rumput menari-nari. Taman pun kini menjadi sorotan tempat untuk berfoto ria. Tampak seorang gadis dengan netra mahoninya yang memukau itu sedang duduk dengan mendengarkan lagu kesukaannya, Sazanka milik Sekai no Owari.

Di sisi lain, terdapat seorang lelaki yang sedang duduk juga, tepat di depan si gadis yang daritadi diam seribu kata dan mendengarkan lagu. Karena merasa iba, lelaki tersebut mendekatinya. Dengan perlahan, roda itupun berjalan pelan menuju tempat si gadis.

“Nona, apa kau kesepian?” tanya sang lelaki. Sontak, gadis itu langsung kaget. Ia buru-buru membuka sebuah tas yang dalamnya terdapat buku catatan ukuran A5. Gadis itu menulis huruf demi huruf dan memperlihatkannya pada lelaki di depannya.

Lelaki itupun kebingungan, gadis itu menuliskan kata ‘Sedikit’ pada bukunya. Hanya dalam beberapa detik, kebingungan itu sirna berganti dengan senyuman yang membuat gadis di depannya salah tingkah. Padahal mereka baru saja bertemu. Sepertinya, takdir sudah mengikat kedua remaja belasan tahun ini.

“Jika boleh tau, siapa namamu?” tanya lelaki itu. Si gadis menutup bukunya dan menujuk ke arah nama buku itu. “Ohh ..., Sazanka Reyna. Nama yang indah, seperti orangnya,” ujar lelaki tersebut dan membuat gadis yang bernama Reyn itu kembali salah tingkah.

“Ahh iya, namaku Zavier. Salam kenal,” ujar lelaki itu kepada Reyn dengan memberikan senyuman. Reyn pun membalas senyuman itu. “Dinamamu ada kata ‘Sazanka’. Apa kau menyukai bunga itu?” Tanya Zavier. Gadis itu mengangguk dan menunjuk ke arah bunga kecil bewarna pink dengan tengahnya yang bewarna kuning itu.

“Baiklah, Ayo kita kesana” Ujar Zavier dan dilanjutkan dengan anggukan dari Reyn. Reyn pun beranjak dari tempat duduk dan mendorong kursi milik Zavier perlahan. Selang beberapa menit, mereka sampai di tempat penuh bunga Sazanka. Dari kursinya, Zavier memetik sekuntum bunga Sazanka.

“Kemarilah Reyn, aku ingin berbicara denganmu,” ujar Zavier. Reyn pun berjalan menuju ke hadapan Zavier. “Ini untukmu, simpanlah dan berjanjilah bahwa hatimu hanya untukku. Meski kita baru saja bertemu beberapa menit yang lalu, aku tak mau ini berakhir begitu saja. Aku juga akan memetik satu untukku dan berjanji bahwa hatiku hanya untukmu. Meski kau tak bisa berbicara, kau sempurna di hadapanku,” ujar Zavier dengan nada yang serius.

Butiran-butiran permata cair jatuh dengan sangat deras di pipi sang gadis. Bukan karena ia menangis, melainkan ia terharu bercampur dengan rasa senang karena ada lelaki yang menerima kekurangnya. Sama seperti pemikiran Zavier, meski Zavier memiliki cacat pada kaki yang membuatnya tak bisa berjalan, di mata Reyn, Zavier tampak seperti pangeran. Hanya dalam beberapa menit yang lalu, Reyn dibuat jatuh cinta pada pandangan pertama.

Reyn pun mengambil Bunga Sazanka itu dan dalam hatinya berjanji bahwa ia akan selalu menunggu lelaki dihadapannya, kapanpun. Setelah itu, ia menghilangkan butiran-butiran air di pipinya dan melihat lelaki di depannya tersenyum. Tetapi, yang Reyn lihat bukan itu. Reyn melihat setetes air mata jatuh di bajunya. Menimbulkan bercak basah yang tercetak dengan jelas.

Zavier yang tau ekspresi kebingungan Reyn pun mulai angkat bicara. “Maafkan aku, aku cacat begini. Jadi, aku takut kau menghilang dari hadapanku karena kau malu denganku,” ujarnya seraya menunduk.

Reyn melihat Zavier dengan tersenyum, mengangkat kepala Zavier yang menunduk itu dan menciumnya singkat. Reyn tau, Zavier mungkin orang yang tepat untuk mendapatkan ciuman pertamanya. Reyn sudahi ciuman tersebut, tetapi Zavier masih diam terpaku tak percaya karena ciuman pertamanya telah direnggut.

Hari sudah semakin gelap, itu menandakan bahwa pertemuan mereka hampir berakhir. Karena terburu-buru, Reyn pun meninggalkan Zavier tanpa memberikan apapun. Hanya Bunga Sazanka yang mereka pegang masing-masing yang menjadi bukti kedua remaja yang mabuk akan namanya cinta.

-------------------------

Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun telah dilewati oleh gadis dengan netra mahoni itu. Tepat hari ini adalah hari dimana ia bertemu dengan pujaan hatinya 9 tahun lalu. Ia masih saja menunggu di taman yang sama, di tempat yang sama dan aktifitas yang sama. Yaitu, mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh Sekai no Owari tersebut. Bedanya, ia tidak hanya mendengarkan lagu saja. Tetapi, ia membaca buku juga. Dengan pembatas bunga layu yang dilapisi oleh plastik, setidaknya tidak membuat rusak total bunga tersebut.

Sejak 9 tahun lalu, Reyn tak pernah bertemu dengan Zavier lagi. Sempat Reyn mundur untuk menunggu. Tetapi, Reyn masih saja setia hingga sekarang. Orang tua Reyn sudah menyuruhnya untuk menikah. Secara, sekarang ia berusia 25 tahun dan sama sekali tak berpengalaman dalam hal asmara karena hatinya telah direnggut oleh lelaki berkursi roda yang ia kenal 9 tahun lalu.

“Kau benar-benar menungguku, Reyn,” ujar seorang dari belakang yang membuat Reyn kaget dan langsung saja ia menoleh ke belakang. Pada saat Reyn melihat kebelakang, Ia mendapati lelaki dengan badan tegap dan atletis, kaki panjangnya yang jenjang dan muka yang sangat Reyn kenal, meski sudah sedikit berubah.

“Kau kaget kenapa aku tak memakai kursi roda lagi?” ujarnya yang mengena dengan pertanyaan yang Reyn pikirkan.

“Dulu, aku kecelakaan yang mengakibatkan kakiku lumpuh. Kata dokter, aku memiliki kemungkinan kecil untuk dapat berjalan kembali. Aku sudah tak memiliki semangat hidup. Orang tuaku sudah menawariku terapi, tetapi aku menolaknya. Sampai aku ke taman ini dan bertemu denganmu,” ujar lelaki itu seraya berjalan mendekati Reyn.

Reyn yang rindunya sudah mencapai ubun-ubun itu langsung berlari dan memeluk lelaki yang ia tunggu selama 9 tahun itu, Zavier. Ia menangis di pelukan Zavier, melepas rasa rindu yang teramat dalam. Reyn mengira Zavier sudah lupa dan meninggalkannya.

“Maafkan aku yang membuatmu menunggu terlalu lama, aku hanya ingin kau bahagia. Aku tau kau tak bisa berbicara permanen. Tetapi, kau tau kan janji kita? Aku akan wujudkan sekarang,” ujar Zavier dengan melepas pelukan dan mulai merogoh saku celananya.

Zavier pun memperlihatkan kotak kecil bewarna merah. Selanjutnya, Zavier pun berlutut di hadapan Reyn dan membuka kotak merah yang isinya adalah cincin dengan berlian di atasnya.

“Will you marry me?” tanya Zavier yang membuat Reyn kembali menangis terharu. Dengan rasa senang, Reyn mengangguk mengiyakan lamaran Zavier. Keduanya itupun berpelukan kembali di taman yang indah di bawah langit senja menawan.

“Terimakasih telah menungguku,” ujar Zavier hangat. “You’re my Princess,” bisik Zavier. Reyn hanya bisa tersipu malu mendengar pernyataan itu. Ia pasti berterima kasih kepada Bunga Sazanka yang menjadi pengerat mereka berdua, esok dan selamanya.

Kumpulan CerpenkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang