I Love My Halu Time

23 1 0
                                        

Aku duduk di depan meja belajar dengan kertas yang masih bersih. Semua tenaga telah kukerahkan, tetapi hasilnya nihil.

Pikiranku seakan tersumbat kotoran telinga, apalagi jari yang sudah mulai lelah memegang pensil. Ya, aku seperti orang yang sudah tidak bisa membuat cerita lagi.

Ini jahat. Aku tidak suka keadaan ini. Writer's block? Ya, mungkin semacam itu. Namun, ini mungkin lebih parah lagi. Aku tidak bisa berpikir jernih. Otakku hanya mengakses, “Bagaimana jika cerita ini tidak akan diterima?”

DUAKK!!

MEEOONGGGH-!!

“Oy, diem napa. Gatau orang lagi mi-” Perkataanku terputus saat melihat burung elang sekarat di samping rumah. Di langit yang biru itu, tidak tahu datangnya kapan dan dari mana, banyak sekali burung-burung berterbangan.

Hah, sudah berapa kali ada makhluk bersayap jatuh di samping rumahku. Selain elang ini, ada burung kecil dan dua manusia burung. Eh, tunggu sebentar.

“Aku memiliki ide cerita.” Akhirnya otakku tidak lelah untuk diajak kompromi. Aku menulis semua adegan yang terekam di otak … kejadian sebulan yang lalu.

*****

“Momo, maukah kau menjadi ratu dalam hatiku?” tanya seorang makhluk Tuhan yang kesebut namanya, Jimin.

“Iya, Jimin. Aku ingin menikah denganmu!” seruku senang. Jimin yang tadinya berlutut di depanku, kini berdiri dan mendekatkan wajahnya. Aku pun sontak menutup mata dan …

BYURRR!!

“SADAR, OY!! DAH SIANG!!”

… kakakku menghancurkan semuanya. Oke, aku terbangun dengan tubuh yang basah kuyup, kasurku pun sama basahnya. Padahal sesi ciumannya hanya tinggal satu sentimeter lagi.

“Tenang saja, jodoh tidak akan ke mana.”

“Udah jangan halu. Mending bantuin kakak masak. Itung-itung buat calon-calon suami kita pas pulang konser nanti.” Kakakku bergegas menuju dapur setelah mengatakan itu. Setelah mandi, aku langsung membantu kakak membuat Tteokpokki dan Japchae.

Tok ….

Tok ….

Tok ….

“Dek, itu tolong bukain pintunya.” Aku menangguk lalu beranjak ke pintu utama rumah. Ah, rumah ini pemberian dari orang tua untuk kami berdua. Selama belajar di Indonesia, rumah ini sudah menjadi hadiah.

Aku pun membuka pintu dan langsung ditodong oleh senapan angin. Sontak, aku langsung angkat tangan dan menutup mata.

“Eh, kuda lumping makan beling! Maaf, Pak! Sa-saya tidak akan halu lagi. Sa-saya janji tidak akan men-mencuri poster Jimin di pasar lagi,” ujarku seraya mundur perlahan. Bapak itu masuk ke rumah kami tanpa izin seraya terus menodongku.

“Di mana manusia burung itu?! Saya tadi melihatnya jatuh di sini!” Bapak tua itu membentakku. Aku langsung menggeleng kuat. Manusia burung? Ini orang hidup di zaman apa, sih? Kenapa masih percaya mitos?

“Jangan berbohong!”

“Adek saya jujur, kok. Bapak saja yang gaada sopan santun main todong aja.” Kakakku datang dari belakang dan semakin mendekat. Ia lalu menyepak senapan angin itu jauh dari hadapan kami, membuat sang bapak itu ketakutan.

Dengan tatapan mengancam dan kepalan tangan kakak, bapak tua itu kabur. Diambilnya senapan angin itu dan disimpan entah di mana. Huh, aku masih gemetar.

Tok ….

Tok ….

Aku membuka pintu, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. Bunyi ketukan itu datang lagi, ternyata bersumber di kamarku. Huft, sekarang maling kalau mau mencuri wajib ketuk jendela dulu? Manusia memang sudah tidak sehat.

Kumpulan CerpenkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang