Pagi hari di Kota Malang memang sangat dingin. Jalanan-jalanan yang sepi mulai ditutupi oleh kabut halus. Semua orang masih saja menikmati dunia mimpinya di atas kasur mereka, kecuali 10 orang yang tengah bersiap untuk membelah awan agar bisa sampai ke Puncak Gunung Arjuno.
Sebagai salah satu gunung tertinggi di Jawa, Gunung Arjuno biasanya digunakan sebagai sarana pendakian. Selain itu, gunung ini juga melewati Kota Malang dan Pasuruan.
“Apa kalian sudah siap?” tanya seorang pemuda bernama Fariz. Di sebelah Fariz terdapat pemuda dengan badan yang tegap dan proporsional. Jelas sekali perbedaan antara Fariz dan pemuda itu.
“Siap!” Semua orang berseru untuk mendaki Gunung Arjuno.
Setelah berada di pos pemberangkatan, mereka melangkahkan kakinya untuk mendaki. Sejauh mata memandang hanya ada pohon yang menjulang tinggi sekali. Semakin tinggi, gunung ini sudah menyuguhkan rintangannya. Jalan bebatuan yang licin sudah menjadi santapan para pendaki.
Bugh!
“Sora! Kamu tak apa?” tanya Fariz yang berada di belakang Sora. Sora hanya bisa mengaduh kesakitan. Sedetik kemudian, ia berdiri lagi.
“Aku tak apa. Ayo kita lanjutkan perjalanannya!” Sora menyemangati teman-temannya. Teman-temannya tersenyum dengan semangat Sora yang berkobar layaknya api.
Di barisan paling depan, pemuda itu terus melihat Sora dengan mata sendu dan layu. Ia sendiri tidak tahu kenapa menatap Sora seperti itu.
Di dalam dirinya selalu ada rasa ingin memiliki, namun ia tahu rasa itu masih kalah besar dengan Fariz. Fariz adalah pemuda yang supel dan mudah sekali bergaul. Sedangkan dia? Hanya seorang yang berteman dengan alam dan Komunitas Pecinta Alam saja.
“Hoy, kenapa melamun? Ayo jalan.” Gembul membuyarkan suasana hati sang pemuda. Perjalanan pun dilanjutkan dengan panduan si pemuda yang berada di paling depan barisan dan Fariz yang berada paling belakang.
Tak terasa hari sudah sore. Matahari senja itu terhalang oleh tingginya pohon pinus dan karet. Beruntungnya, mereka menemukan sebuah pondok tua dan halaman di depan pondok yang cukup luas untuk membangun 5 tenda setengah lingkaran. Tenda itu sebenarnya cukup untuk 3–4 orang, namun Fariz melarang kita tidur hingga berempat dan hanya boleh tidur satu tenda berdua.
“Kamu tidur denganku, ya?” ajak Shelly pada Sora yang terlihat kebingungan mencari tenda yang dihuni oleh satu orang.
Sora hanya mengangguk dan membantu Shelly membangun tenda. Tak membutuhkan waktu yang lama, hanya 15 menit pun tenda mereka telah nampak kokoh.
Di tengah-tengah tenda, dibangun sebuah tumpukan kayu bakar yang mereka dapat dari hasil berburu kayu di sekitar gubuk tua itu. Mereka menyusunnya dengan sangat rapi agar api unggunnya tidak terlalu cepat padam.
Dimulai dari kayu besar dan panjang di tengah-tengah kayu lain, mereka akhirnya menyelesaikan pondasi api unggun.
Hari sudah semakin gelap. Sora melirik jam di tangannya, pukul 19.45. Api unggun pun sudah mulai dinyalakan.
Setelah menyanyikan lagu “Mars Api Unggun”, mereka mulai menyanyikan lagu-lagu kesukaan mereka.
“Ayo, Fariz. Sekarang giliranmu.” Gembul memberikan gitar pada Fariz.
“Oke, gue akan menyanyikan lagu ‘Jangan Rubah Takdirku’ dari Andmesh.” Fariz memulai lagu itu dengan intro yang sangat menawan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kumpulan Cerpenku
Short StoryDari sini, aku bisa berkomunikasi langsung secara tersirat tanpa harus melihat raut wajah manusia. Jika kalian suka, boleh tinggalkan sesuatu untukku? Hanya itu dukungan yang aku mau untuk terus menjalani hidup dan berkarya. Cerita di dalam sini se...
