Three Words For You?

72 7 0
                                        

(Bagian 2)

               🌌🌌🌌🌌🌌

📅 15 February 2018
🕤 09.30
🏫 My School Yard
📆 Thursday

         “Tak perlu berlama-lama lagi, kita tampilkan duet yang sangat serasi ini, Leiony dan Ravel!!” Sorak penonton mulai ricuh dikala nama kami disebut.

         Selama sehari ini, aku dan Lei sama sekali tidak bertegur sapa. Ia seperti tidak melihatku. Mungkin karena kejadian kemarin dilihat oleh Lei.

         Aku mulai menaiki panggung, begitu juga Lei. Ia langsung melihat penonton seraya tersenyum lebar. Aku menyukai senyum itu, senyum yang selalu kulihat dalam diam di taman belakang.

         Setelah menyapa penonton, aku memainkan gitarku dan Lei menyanyikan lagu Usai Disini yang dinyanyikan oleh artis cantik, Raisa.

         “Lebih baik, kita usai disini. Sebelum cerita indah, tergantikan pahitnya sakit hati.” Suara Lei membuat aku terbuai dengan alunan gitar yang ku mainkan. Aku menyadari bahwa dia sangat sakit hati melihat aku dan Shelly kemarin, namun aku memiliki alasan.

         “Bukannya, aku mudah menyerah, tapi bijaksana. Mengerti kapan harus berhenti. Ku kan menunggu, tapi tak selamanya.” Akhir yang baik dari Lei membuat penonton bertepuk tangan meriah. Ia melihatku dengan tatapan sendu, seperti ingin menangis.

         “Baik, sekarang kita lanjut ke lagu kedua. Jika tahu lagunya silahkan bernyanyi bersama.” Sekarang, ia memposisikan duduknya tepat di sebelahku. Berbeda dengan tadi yang berdiri dan menghadap penonton.

          Lagu Katakan Cinta dari Prilly sudah ku mulai. Suara Lei memang sangat merdu, seperti bidadari. Entah kenapa, aku suka sekali melihatnya. Melihat gadis ini selalu di taman belakang bersama temannya.

         “Kapan aku bisa mendapatkan gadis itu?” tanyaku dalam hati. Ya, aku menyukai gadis di sebelah ini. Selama ia masuk sekolah ini, aku sudah sering melihatnya dari jauh.

         “Katakan sayang, bila sayang. Katakan cinta, bila cinta.” Lagu itu memang selalu mengena di hatiku. Aku sayang Lei, aku cinta Lei, namun aku tak bisa mengungkapkan. 

         “Jangan coba berpura-pura, seperti tak ada rasa. Tapi dihati, sayang.” Penghayatan lagu yang Lei beri benar-benar bagus. Aku jadi iri kepada Leo yang selalu bersamanya. Sedangkan aku hanya berkenalan dengannya selama tiga hari belakangan ini.

         “Terima kasih telah melihat penampilan kami, maaf bila menyinggung perasaan kalian semua.” Kalimat terakhir yang membuat kami harus turun dari panggung yang megah ini.

         Sorakan penonton membuatku semakin percaya diri untuk bisa berkarya, apalagi jika bersama Lei. Sepertinya aku harus memperbaiki hubungan yang renggang ini. Ya, aku harus menjelaskan semua bahwa dia salah paham dan aku akan menembaknya hari ini juga.

         Aku mencari Leo yang ada di balik panggung. Leo adalah temanku semasa kecil. Rumah kami satu komplek dan Lei sama sekali tidak mengetahuinya. Aku dan Leo berbeda sekolah semasa SMP.

         Karena aku ke rumah Leo pada malam hari, Lei tidak pernah mengetahuinya. Ya, aku menyukai Lei pada saat aku duduk di kelas 3 SMP. Saat aku hendak ke rumah Leo, aku melihat seorang gadis manis membunyikan bel rumah Leo.  

         Saat itulah aku bertemu dengannya dan mulai menyukainya. Aneh memang, namun inilah kenyataan. Aku sendiri tak bisa memungkiri bahwa aku menyukai Lei.

         Pada saat aku kelas 12 dan ditunjuk sebagai ketua pelaksana MPLS, aku melihat dia hampir telat dengan menenteng tas yang sepertinya cukup berat.

Kumpulan CerpenkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang