"Ahh, dasar. Begini saja tidak becus," gerutuku mengutuk diri. Ini sudah kesekian kali aku menulis surat untuk ..., namun tak ada satu pun kata indah muncul dibenakku.
"Dion, ayo makan." Terdengar suara ibu dari balik pintu kamarku.
"Iya, Bu." Aku membuka pintu, melihat ibuku sekilas, dan melanjutkan langkahku pergi ke ruang makan.
Di sana sudah ada kakak dan ayah yang menungguku untuk makan malam bersama. Ahh, melihat keluargaku saja aku sudah nyaman sekali.
"Bagaimana sekolahmu, Dion?" Ayahku memulai pembicaraan di tengah asiknya makan bersama.
"Alhamdulilah, lancar. Dion ditunjuk untuk ikut olimpiade mewakili sekolah." Aku menyunggingkan senyum.
"Kalau kamu, Celin. Bagaimana kuliahnya?" tanya ayah pada kakakku, Marcelina Putri Riserion.
"Sukses, Yah. Alhamulillah, Celin dapat undangan untuk ikut seminar tentang rumus matematika yang baru dicetuskan minggu-minggu ini," ujar Kak Celin dengan nada senang, seperti mendapat nilai sempurna pada mata kuliah utamanya-kakakku jurusan statistika semester kedua.
"Wah, Ayah bangga sekali pada kalian. Maaf bila Ayah dan Ibu belum bisa memberikan yang terbaik untuk kalian." Ayah meraih tanganku dan kakak yang masih berkutat dengan makanan. Ibu hanya bisa menahan tangisan yang kian mendesak untuk keluar.
"Tidak apa, Yah. Bagi Dion, kasih sayang kalian melebihi apapun." Aku hanya bisa mengembangkan senyum kepada mereka.
"Benar kata Dion. Celin tak perlu membuat kalian susah. Celin dan Dion hanya ingin melihat kalian bangga dengan prestasi yang kami dapat," ujar Kak Celin yang mulai menitikkan air mata.
Malam ini adalah malam di mana satu keluarga berkumpul, berbagi keluh kesah, dan bercanda ria bersama. Keluarga itu adalah ... keluargaku.
███░░░░░░ 40%
"Hoyy, kamu melamun." Tampak seseorang di sebelah menegurku. Aku hanya bisa terkaget dan menoleh dengan cepat ke arahnya.
"Ini adalah pelecehan. Kamu tidak boleh menyentuh orang sembarangan, apalagi yang tidak dikenal." Aku menyeringai tanda bahwa perkataanku bukanlah suatu hal yang harus dianggap serius.
"Aku melihatmu melamun sangat dalam sekali. Apa yang kamu pikirkan?" tanya pemuda itu dengan penasaran.
"Sebentar lagi pesawat akan tiba di Jakarta. Aku sudah kangen sekali melihat adikku." Ya, itu yang aku lamunkan. Adikku yang tampan itu terpaksa harus ditinggal sekeluarga ke Turki karena ia sedang dalam masa ujian.
Seminggu lamanya aku, ayah, dan ibu di Turki untuk mengurus kematian nenek. Aku sebenarnya tak tega meninggalnya sendiri, namun ia sudah besar dan bisa mengurus dirinya.
"Aku sudah besar dan akan menjaga rumah dari siapapun." Itulah kata terakhir sebelum aku benar-benar masuk dalam pesawat.
Orang tuaku ada di bangku yang berada tepat di belakang bangkuku. Aku tersenyum melihat kedua orang tuaku yang sangat menyayangiku dan adikku.
Tak berapa lama, goncangan hebat membuat senyumku memudar. Tidak, goncangan karena awan tidak sehebat ini. Aku ketakutan. Ini benar-benar di luar dugaanku.
Para pramugari memberikan pelampung badan berwarna oranye dan gantungan yang biasa muncul pada saat darurat itu membuatku bertanya-tanya, kenapa ini sebenarnya? Dan pada saat itu juga aku menemukan jawabannya. Aku hanya bisa tersenyum miris.
Aku mendongak ke atas bangku dan melihat ke belakang, tempat orang tuaku duduk. Mereka melihatku dan tersungging. Kulihat ibuku menitikkan air mata. Aku tahu untuk siapa air mata itu.
Air mata itu untuk anak mereka yang menunggu kehadiran kami pulang. Anak itu, adikku, Dion.
███████░░░ 70%
"Hoaammm, mimpiku indah sekali." Aku meregangkan tubuhku yang kaku setelah tertidur dengan lelap.
"Dion, ayo makan." Itu suara ibuku. Aku bangun, membukakan pintu, melihat ibuku sekilas, dan melangkahkan kaki ini menuju ruang makan.
Di sana ada kakak dan ayah yang telah menungguku untuk sarapan bersama. Aku tampak senang, meski dalam hati merasa kesepian.
Perlahan, bayangan dari sosok yang aku rindukan hilang dan berganti dengan kesunyian yang kian mendalam.
Hatiku sakit.
Jiwaku goyah.
Ragaku rapuh.
Tatapanku kosong.
Itu semua karena mereka yang menghilang. Keluargaku menghilang. Bukan karena mereka tidak ada di rumah dan mencari kesibukan masing-masinh. Tidak, mereka menghilang dari hidupku bahkan untuk selamanya.
"Dik, kemarilah. Kakak, Ayah, dan Ibu ingin berbicara denganmu." Sayup-sayup aku mendengar suara kakak dari ruang tamu.
Aku tersenyum dan berani untuk menghiraukan mereka. Aku berjalan menuju ke pintu dan hendak keluar, namun ibu menanyaiku.
"Nak, kamu mau ke mana?" tanya ibuku.
Aku tersenyum simpul, menahan tangisanku ini seraya berkata, "Aku ingin pergi menjenguk kalian. Aku sudah menyiapkan surat untuk kalian. Jadi, aku sudah mengikhlaskan kalian untuk pergi."
Kulihat mereka bertiga tersenyum dan lambat laun mereka menghilang dari hadapanku. Aku hanya bisa tersenyum masam melihat ini semua. Sudah saatnya aku bangkit dari masa terpuruk.
Aku keluar rumah dan melihat tumpukan koran tahun lalu yang sudah sedikit usang. Dalam koran itu, ada berita yang membuatku tersenyum.
"Terima kasih sudah membuatku menjadi dewasa." Lagi-lagi aku menyunggingkan senyuman.
Aku harus ke pantai sekarang. Memberikan surat ini dan berdoa untuk mereka. Hanya ini satu-satunya cara untuk membuat hatiku ikhlas dan lebih lega. Sampai bertemu denganku besok, dengan Dion yang baru.
██████████ 100%
"BREAKING NEWS!
Sebuah pesawat jatuh di Laut Jawa pada petang hari pukul enam waktu sekitar.
Kecelakaan itu telah menewaskan semua orang yang berada di dalam pesawat.
Pesawat dengan rute Turki-Indonesia itu jatuh akibat kebakaran pada sayap pesawat."
😳😳😳 END 😳😳😳
KAMU SEDANG MEMBACA
Kumpulan Cerpenku
Short StoryDari sini, aku bisa berkomunikasi langsung secara tersirat tanpa harus melihat raut wajah manusia. Jika kalian suka, boleh tinggalkan sesuatu untukku? Hanya itu dukungan yang aku mau untuk terus menjalani hidup dan berkarya. Cerita di dalam sini se...
