Hanya Rindu

46 4 0
                                        

Aku terbangun dengan sedikit tersentak, karena alarm dari gawai yang berbunyi sangat nyaring. Kamarku tampak sangat berantakan layaknya kapal yang hampir tenggelam. Dengan rasa malas, aku membuka gorden dan jendela kamar. Cahaya matahari pun membuat kamarku semakin terlihat sangat berantakan.

Tok ... tok ... tok ....

"Masuk." Pintu kamar itu terbuka bersamaan dengan masuknya nenekku ke dalam. Sudah lama aku tidak bertemu beliau, karena kesibukan kuliahku yang menumpuk.

"Zen, apa kamu masih bersikeras untuk tetap tinggal di sini? Ini sudah satu bulan, Nak." Nenek langsung berbicara tanpa basa-basi dan pertanyaan itu membuatku kaget. Aku pun melihat beliau dengan senyuman dan berjalan menuju meja belajar. Sebuah album besar yang selalu kubuka setiap saat ini terpampang dengan sangat jelas di mata. Aku pun mengambilnya dan memberikan pada nenek.

"Nek, ayo kita lihat ini untuk yang terakhir kali di rumah ini," ujarku dan nenek pun tersenyum. Aku membuka sampul album yang berwarna coklat batang pohon ini dan memperlihatkan 3 foto bayi yang masih polos dan lucu. Ya, itu adalah aku saat berumur 3 bulan.

Tak sadar air mataku menetes ke pipi dan jatuh ke album. "Tenang, Nak. Ini masih halaman pertama dan kamu sudah melihatnya terus-menerus, 'kan?" ujar nenek yang berusaha untuk menenangkanku. Aku pun tersenyum dan membuka lembaran demi lembaran yang ada, sampai akhirnya tiba di lembar terakhir.

"Nak, ikhlaskan saja waktu itu dan lanjutkan sisa hidup ini," ujar nenek seraya mengelus punggungku dengan tangan rapuh dan keriputnya. Nenekku adalah orang yang kuat, sama seperti sosok yang kuinginkan kehadirannya di sini. Namun, hal itu takkan pernah terjadi.

Aku mengangguk dan memeluk badan nenek yang ringkih, tetapi masih memiliki hati yang kuat. Penyesalan ini tak mungkin hilang, meski aku dewasa sekali pun.

.¸•★'.¸•★'.¸ ✴ ¸.'★•¸.'★•¸. ✴ .¸•★'.¸•★'.¸

"KENAPA IBU MENERIMA PERMINTAAN AYAH UNTUK CERAI? JAWAB, BU!" teriakku dengan satu hentakan kaki ke lantai. Ibu tampak duduk diam di sofa dan menangis tersedu-sedu. Masa bodoh dengan sebutan Anak Durhaka, karena ayah sangat dekat denganku.

"Zen, dengarkan dulu penjelasan Ibu. Ibu tidak bermak-"

"Zen pergi, jangan mencariku. Zen membenci Ibu." Aku pergi ke kamar dengan tatapan dingin dan membereskan semua pakaian ke dalam tas. Hendakku beranjak keluar rumah, ibu memegang kaki jenjang ini dan membuatku berhenti.

"Nak, jangan tinggalkan Ibu sendiri. Ibu minta maaf telah melakukan hal yang salah dan membuatmu sakit hati. Tolong maafkan Ibu, Nak." Terlambat, hatiku sudah terlanjur sakit dan hanya kemarahan yang menyelimuti. Aku tetap bertekad untuk pergi dari rumah untuk menghangatkan pikiran yang kacau. Kuliah sudah menumpuk, ditambah dengan urusan keluarga ini membuat otakku semakin panas. Ingin rasanya mengeluh di hadapan ibu.

"Selamat tinggal, Bu."

.¸•★'.¸•★'.¸ ✴ ¸.'★•¸.'★•¸. ✴ .¸•★'.¸•★'.¸

Sudah tiga hari aku berada di rumah Firman, temanku yang tinggal di kos-kosan. Aku masih muak dengan perilaku ibu yang selalu menyelesaikan masalahnya sendiri. Padahal, aku adalah anak mereka. Kenapa mereka seperti menganggapku tidak ada? Sebal sekali rasanya.

"Zen, beliau adalah ibumu. Apa kamu semarah ini dengan orang yang membesarkannya dari kandungan sampai sekarang?" tanya Firman.

"Ibu adalah orang terjahat yang pernah kutemui."

"Justru itu kamu yang sebenarnya jahat!" Teriakan Firman membuatku tersentak. Ia tak biasanya berteriak seperti itu, apalagi padaku.

"Zen, di mana otakmu? Beliau pasti mencarimu sekarang. Kumohon, bukalah matamu dan lihat kasih sayang beliau yang tidak pernah aku terima saat bersama ibuku. Seharusnya kamu bersyukur masih diberi ibu yang sehat dan kuat untuk menjaga, bahkan menemanimu besar," jelasnya panjang lebar.

"Fir ... a-aku hanya marah, kok. Lagipula aku juga keluar rumah untuk menenangkan diri." Aku mengelak perkataan Firman, meski ucapannya ada kebenaran. Sejujurnya, aku merindukan ibu yang sekarang entah ada di rumah atau tidak. Namun, hati ini masih memiliki api kemarahan. Bagaimana mereka bisa cerai tanpa sepengetahuanku? Aku hanya merasa tidak dianggap.

"Ibu adalah segalanya, Zen. Semua yang dilakukan ibumu itu mungkin ada benarnya. Ibu tidak pernah menyakiti hati anaknya. Kalau ibumu meninggal, apa yang akan kamu lakukan selain menangis?" Pertanyaan itu membuatku diam dalam arti yang sebenarnya. Pikiranku sudah melayang-layang entah ke mana. Di saat keadaan canggung ini, gawaiku berbunyi dengan sangat nyaring.

Kringg ... kringg ... kringg ....

"Nenek?" batinku. Aku pun mengangkat telrponnya dan mengucap salam.

"Pulanglah, ibumu sudah menunggu di sini." Aku tidak fokus dengan ucapan nenek. Entah kenapa, aku mendengar ada banyak orang yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.

"Nek, ada apa di sana?"

"Ibumu meninggal tiga hari lalu, kecelakaan saat berlari mengejarmu." Pada saat itu juga, pandanganku gelap dan gawaiku terjun ke lantai. Aku hanya berharap ini adalah mimpi buruk, tetapi itu semua hanya kebodohan. Ibu tidak akan pernah kembali lagi ke sini.

.¸•★'.¸•★'.¸ ✴ ¸.'★•¸.'★•¸. ✴ .¸•★'.¸•★'.¸

Makam ibu adalah tempat terbaik yang pernah kukunjungi sekarang. Selain asri, aku juga bisa mengingat lagi masa lalu yang sempat hilang dari ingatan. Di sini aku merasa seperti dekat dengan beliau, meski kesannya sangat terlambat.

"Zen, apa kamu masih betah di rumah orang tuamu? Atau kamu ikut nenek ke desa?" tanya nenek di sampingku. Sepertinya nenek sedang berusaha untuk membujukku. Hm, tidak semudah itu. Aku masuh ingin berada di sini, setidaknya sampai kuliahku selesai. Jadi, jawabanku adalah gelengan kepala.

Nenek tampak menghembuskan napas panjang dan melihat batu nisan yang terukir nama ibu. Setelah itu, ia bangkit dan itu membuatku bertanya-tanya.

"Nenek mau ke mana?"

"Sekarang sudah hari ke-39. Ayo, kita siapkan untuk pengajian ibumu." Nenek menggandeng dan mengajakku pulang untuk membereskan rumah. Setelah beres-beres ruang tamu, aku membersihkan kamar ibu yang sebulan tidak berpenghuni ini.

Aku membereskan kasur, lemari pakaian, dan laci. Saat aku melihat isi laci, banyak surat-surat pribadi rumah tangga. Namun, ada satu benda yang membuatku sedikit kebingungan, sebuah amplop biru dengan gambar hati di tengah.

Dengan penasaran, aku membuka isi amplop dan menemukan sebuah kertas. Aneh, itulah yang ada dipikiranku pertama kali. Tidak biasanya ibu menyimpan surat aneh.

Aku yang sudah dipenuhi oleh rasa penasaran pun membuka kertas itu. Di dalamnya ada sebuah memori terakhir ibu ... untukku. Aku tidak akan memberitahu apa isi suratnya, karena maknanya sungguh dalam dan ini benar-benar rahasia.

Namun, surat ini membuatku yakin bahwa ibu adalah segalanya. Saat kusendiri, ibu selalu menemani. Sekarang, aku hanya bisa melihat ibu tersenyum lewat bingkai foto yang ditaruh rapi di atas laci.

"Bu, apa yang Nenek ucapkan adalah kebenaran. Ya, aku akan terus melanjutkan hidup sebagai anak yang berbakti. Aku akan mandiri dan tidak menggantungkan ibu lagi." Ucapanku terpotong, karena air mata sudah tidak bisa dibendung lagi. Tidak dapat dipungkiri jika aku masih belum mengikhlaskan beliau sebulan terakhir ini.

"Tidurlah dengan tenang, Bu. Zen akan selalu berdoa untuk Ibu. Satu lagi ...," Aku menghirup napas panjang dan mengembuskannya seraya tersenyum, "Zen akan tetap tinggal di rumah ini."

.¸•★'.¸•★'.¸ ✴ ¸.'★•¸.'★•¸. ✴ .¸•★'.¸•★'.¸

Kumpulan CerpenkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang