Apa kalian tahu definisi cinta? Ya, cinta adalah sebuah rasa yang ada di hati kita. Karena adanya cinta, kita pasti ingin mendapatkannya.
Cinta dengan makanan.
Cinta dengan lingkungan.
Atau mungkin,
Cinta dengan seseorang.
Semua terlalu posesif jika disandingkan dengan cinta, karena hati ini akan merasa iri jika cinta tak bisa kita raih dan diraih oleh orang lain—apalagi sahabat sendiri.
Seperti yang ku alami. Meski tidak pahit, namun hal ini justru membuat reputasiku hancur. Akan tetapi, cinta yang ku alami ini sangat berarti dan membuatku menjadi manusia yang lebih berguna di lingkungan.
🍭🍭🍭🍭
Namaku Naraya Shafera Lazuardy, kelas 3 SMA yang bersekolah di salah satu sekolah swasta ternama di kotaku. Aku adalah salah satu siswi terpopuler dan memiliki paras yang dapat menggoda kaum adam, namun sampai saat ini aku tak pernah menggenggam tangan seorang lelaki. Aku menganggap bahwa lelaki itu sama saja, bu-a-ya.
“Fera, Aku mencintaimu. Tolong, jadilah kekasihku,” ujar salah satu lelaki yang menembakku untuk kesekian kali. Aku sudah muak dengan semua ini, aku tak suka menjadi populer dan hidupku serasa tak bebas.
“Tidak.” Itu adalah jawaban yang tepat untuknya.
Aku langsung berjalan cepat meninggalkan dia yang diam terpaku karena jawabanku. Aku sih, bodo amat.
Ku percepat langkahku agar sampai menuju ruang kelas yang aman dan damai. Kutaruh tas di bangku paling depan dan ku hempaskan badanku untuk duduk dan bersandar.
Lelah
Letih
Lesu
Itu yang kurasakan saat ini. Aku lelah dengan perlakuan semua orang, seakan-akan aku merasa diagungkan. Aku letih dengan segala ucapan semua orang, seakan-akan hanya aku yang ada di hidupnya. Aku lesu dengan penampilanku ini, membuatku selalu dikejar-kejar.
Pelajaran pun dimulai, mungkin dengan ini aku bisa menenangkan sejenak pikiranku yang kacau ini, meski masih sangat pagi untuk memikirkannya.
🍭🍭🍭🍭
Tringg.... Tringg....
“Baiklah, sampai disini dulu pelajaran pada hari ini. Wassalamualaikum,” ujar Guru Kimiaku yang agak gendut itu—aku tak bisa membayangkan orang itu memakai rok mini.
Kakiku mulai beranjak keluar kelas dan mempercepat langkahku untuk segera menuju gerbang kelas.
BRUKK...
“A... Aduh,” gerutuku.
“Ma... Maafkan aku, kak,” ujar seorang lelaki yang tadi menabrakku dan menjulurkan tangannya yang lebih panjang dariku.
Hendak ku meraihnya, namun ada segerombolan lelaki yang mendekatinya dan membuatnya takut.
“Kamu jangan sok membantu princess di sekolah ini. Lihat dirimu, kamu takkan bisa mendapatkannya.” Pernyataan itu membuatku bingung. Mendapatkanku? Memang aku ini apa? Hah, sekolah ini sudah mulai memperlihatkan ketidakberesannya.
Aku penasaran, siapa yang sedang mereka marahi dan kenapa mereka begitu marah dengan dia.
Dengan rasa penasaran yang melunjak, aku pun akhirnya mengintip melalui sela-sela kerumunan orang.
Aku terkejut setelah melihat seseorang lelaki yang tadi hendak membantuku sedang menahan emosinya yang ingin keluar. Mungkin ini saatnya aku membantu seseorang yang sedang kesusahan. Aku merasa iba dengan lelaki itu.
“BERHENTI!!” Aku berteriak layaknya seorang putri yang sedang marah karena prajuritnya melakukan kesalahan. Mungkin aku bisa memanfaatkan kepopuleranku untuk membantu orang yang selalu direndahkan.
Aku berjalan menuju lelaki nerd dan kutu buku itu, kuraih tangannya dan kutarik untuk menjauh dari gerombolan lelaki berandal itu.
Sembari berjalan, ku genggam terus tangannya yang lebih besar dariku. Hangat mulai berasa dan membuat tangan mungilku merasa nyaman.
Aku tau siapa orang yang tangannya ku pegang ini. Dia adalah Helio, lelaki nerd yang mengandalkan beasiswanya untuk masuk ke dalam sekolah elit ini. Ia selalu dibully karena ia berbeda dengan yang lain. Aku sendiri tak tau kenapa dia sampai dibully. Secara, dia tinggi, badannya tegap atletis, pintar dalam hal akademik dan menonjol dalam bidang non-akademik. Dia memang berkacamata dan culun, namun itu mungkin alasan kedua dia dibully. Ahh, aku tak peduli dengannya. Yang hidup dia kenapa aku yang repot?
“Kenapa kau mau dibully dengan mereka? Kau kan lebih besar dan kekuatanmu pasti lebih kuat dari mereka.” Dengan penasaran aku mempertanyakannya.
“Karena ada suatu alasan mengapa saya mau dibully dengannya. Sekarang lepaskan saya dan jangan manfaatkan kepopuleran kakak untuk menolong saya. Saya tak perlu ditolong,” ujar lelaki itu yang membuatku terkejut.
Karena terkejut, aku lupa melepas tangannya. Alhasil, ia melepaskan secara paksa dan pergi tanpa ada ucapan terima kasih.
“Adik kelas macam apa itu, tidak sopan sekali dengan seniornya,” gerutuku sebal.
Namun, ada sesuatu yang membuatku terdorong untuk membantunya dari bully-an geng-geng berandal itu
Rasa apa ini?
Kenapa aku ingin sekali membantunya?
Aku bahkan tak dekat dengannya
Namun...
Kenapa rasa ini muncul?
Apakah aku sekarang...
Me... menyukainya?
==To Be Continued==
KAMU SEDANG MEMBACA
Kumpulan Cerpenku
Historia CortaDari sini, aku bisa berkomunikasi langsung secara tersirat tanpa harus melihat raut wajah manusia. Jika kalian suka, boleh tinggalkan sesuatu untukku? Hanya itu dukungan yang aku mau untuk terus menjalani hidup dan berkarya. Cerita di dalam sini se...
