Jangan Dibaca!

22 1 0
                                        

Vatikan, 14 Februari 2020

Aku berada di sini, tempat di mana semua orang tidur tanpa mimpi dan suasana dingin yang mencekam. Malam hari adalah waktu yang pas untuk menjenguk seseorang yang kucinta.

Tanpa dialog pun aku merasakan betapa sengsaranya dia di sana. Ha ha ha, aku hanya menebak. Namun, aku yakin dia benar-benar tersiksa.

“Sabarlah, sebentar lagi akan selesai. Kaubisa tenang menikmati tidur.” Aku tersenyum tipis, lalu beranjak pergi dari tempat ini. Jam menjenguk telah selesai dan aku harus melancarkan aksi sebagai seorang … pahlawan.

*****

Italia, 28 Februari 2004

Menara Pisa mulai dikepung oleh gerombolan polisi yang baru saja datang. Para pejalan kaki tampaknya sedikit tidak rela saat ikon negara dikabarkan tutup untuk sementara waktu. Sementara itu, aku langsung menuju ke tempat korban penembakan.

“Sir! saya menemukan sesuatu!” seru bawahanku. Aku menghampirinya dan melihat apa yang telah dia temukan. Rokok, gunting berlumuran darah, jarum, dan sebuah kartu nama.

“Kappa? Dia bekerja di perusahaan besar itu?” tanyaku dalam hati. Aku pun memerintahkan mereka untuk mencari lebih banyak barang dan sesuatu yang bisa dijadikan bukti.

Setelah 30 menit mencari, kami memutuskan untuk membawa mayat ke laboratorium. Barang-barang bawaan sang korban dan bukti sudah disterilkan. Giliran tugasku untuk menyelidiki TKP.

Peluru yang tertancap di dinding Menara Pisa membuatku merasa janggal. Lubang yang dibuat begitu rapi, meski banyak darah di sana. Lubang ini hanya kufoto sebagai barang bukti pelaku, karena aku tidak memiliki hak untuk menyelidiki lebih lanjut.

“Sepertinya sudah cukup. Aku akan kembali dan memberikan bukti-bukti ini pada detektif.” Sesampainya di depan kantor, aku sudah dicegat oleh detektif terkenal—dia juga atasanku. Dengan sigap, aku pun memberikan bukti-bukti dan barang-barang yang telah disterilkan dalam plastik.

“Ahli Analisisku memang sigap. Terima kasih, Teman.” Pujian itu sudah sering kudengar dari mulutnya. Ya, kami hanya berdua di bawah naungan polisi kota.

*****

Italia, 14 Februari 2008

“Lihatlah dirimu, sobat. Kamu tampak rapuh dihadapanku.” Aku menunjukkan pisau daging padanya dan berlagak seolah-olah mencincangnya. Setelah itu, aku menggoreskan pisau ini ke leher busuknya dengan lembut dan perlahan.

“Aku tahu kamu tidak bisa berbicara. Jadi, aku akan mengoperasimu. Ah, dengan mengangkat tenggorokan kotormu itu.” Darah anyir keluar dari lehernya. Hmm, harum sekali aroma darahnya. Tanpa basa-basi, kuhilangkan kepala itu dan menggelinding jauh dari tubuhnya.

“Hahaha, tewaslah sudah. Sekarang aku hanya perlu memberi sedikit makanan untuk detektif dan rekannya itu.” Aku memasukkan ibu jarinya ke sela-sela jari manis dan kelingking, lalu menggenggamkannya. Ah, tak lupa aku mengacungkan dua jari telunjuk dan tengah berhimpitan untuk tangan satunya.

“Apa ini sudah cukup membuatmu curiga, Kawan? Apa kamu akan menangkapku?” Aku pergi dari rumah itu dan berjalan menuju jalan raya. Lima menit kemudian, mereka datang untuk mengotopsi hasil karyaku.

Aku hanya bisa tersenyum tipis melihat mereka bekerja tiap malam untuk menemukanku. Padahal, aku berada di sini, di depan mata mereka dan berjalan di kerumunan. Ah, aku harus menyusun rencana untuk korban terakhir.

*****

Italia, 28 Februari 2012

“Kenapa bisa terjadi di hotel dekat Colessium yang ramai?” tanya detektif itu padaku. Aku tak tahu harus berkata apa. Ini benar-benar nyata. Ruangan serba merah pekat, warna yang sama seperti darah korban yang berada di kasur.

Saat itu juga aku melihat ukiran ditembok. Huft, masalah empat dan delapan tahun lalu saja belum selesai. Kenapa juga aku diberi kasus seperti ini lagi?

Seperti biasa, aku hanya memfoto ukiran itu dan membacanya. Aku tidak akan melangkahi detektif. Biarkan dia saja yang menyelesaikannya.

“Baca ‘ruangan ini’ dengan terbalik.” Hmm, lucu juga. Aku jadi ingin siapa dalang di balik semua ini. Ya, meski aku tidak seberapa peduli.

“Sudah cukup, aku akan memberikan ini pada detektif. Kalian terus observasi kamar ini dan ambil apa yang mencurigakan.” Aku keluar dari kamar yang serba merah itu dan menuju ke lobi hotel. Di sana sudah ada detektif yang menungguku.

“Pak, ini bukti dan foto yang mencurigakan untuk saat ini. Silahkan Anda teliti, karena ini sudah lebih dari cukup untuk menangkap pelaku.”

“Bagaimana kamu bisa seyakin itu?” Eh, apa aku salah dalam berucap? Sepertinya tidak ada. Akhirnya aku memilih diam. Namun, detektif melihatku lekat sekali.

“Aku mulai mencurigaimu sekarang.” Nah, sudah kuduga. Kenapa aku ikut dalam daftar tersangka. Terserah saja, karena aku memang seperti orang yang tidak peduli.

*****

Italia, 14 Februari 2016

Aku menunggu detektif dan rekannya menuju gereja tua ini. Tak sabar untuk melihat mereka yang selalu kulihat dari kejauhan. Aku harus memasang raut wajah seperti apa, ya?

Cklek ….

“Selamat datang, Sob-”

Dorrr!

“A-apa!?” Aku ditembak oleh detektif. Namun, aku juga masih bisa berdiri. Kukerahkan seluruh tenaga untuk membalas kejahatan detektif. Aku sama sekali tidak berniat membunuhnya, kenapa dia tega sekali?

“Diam di situ, Brian Convert. Aku tidak akan segan-segan membunuhmu jika bergerak.” Aku menurutinya. Hingga ia mendekat pun aku tetap diam.

“Brian Convert, putra dari Adam Convert. Dia memiliki kembaran bernama ….”

“Bryan Convert, adikku kembarku yang tidak identik. Dia adalah Analisis Data yang bekerja di tempat Anda. Ah, orang di walkie talkie itu adikku, ‘kan?” tanyaku dengan cengiran yang menandakan bahwa aku menang. Dia pasti sudah memencet tombol itu.

BOOMM!!

BOOMM!!

BOOMMM!!

.

.

.

.

Terima kasih sudah membaca ini hingga habis. Aku berhutang lima nyawa, termasuk kakakku yang meninggal empat tahun lalu. Sudah diperingatkan, kenapa tetap dibaca? Manusia memang tidak ada yang percaya peringatan.

Ah, aku lupa. Sebuah peraturan dan peringatan ada … untuk dilanggar, ‘kan?
.

Kumpulan CerpenkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang