----
Orang-orang sudah memadati alun-laun kota. Suara manusia mulai menimbulkan keributan. Kalau kalian bertanya kenapa Adel berada di sini, itu karena mamanya tidak pulang sejak tadi siang. Kata bi Inah sih, mamanya pergi keluar kota untuk menemui suaminya yang sudah dua bulan tidak pulang.
"Rame banget, ya?"
"Kakak belum ngerasain sepi di kuburan, ya?" celutuk Adel membuat Fahri tertawa.
"Awas, Del!" Fahri menarik pergelangan tangannya ketika ada seorang penjual yang biasa menjajahkan minuman hampir menabrak Adel. "Pak, kalo jalan liat-liat, dong," sungutnya.
Bapak penjual minuman itu meminta maaf dengan tulus, lalu pergi. Adel jadi merasa bersalah karena melihat beberapa minuman yang ia jual tumpah.
"Yuk Del, kita kesana." Tangan Fahri masih memegang tangan Adel tanpa sadar. Terasa hangat.
"Loh, Adel?" Adel mendengar seseorang menegurnya dan ia pun menoleh pada orang itu.
"Jaka? Lo nonton juga?"
Jaka mengangguk cepat. "Yoi, dapet tiket dari give away di instagram. Lumayan gratis," celutuk cowok itu.
Adel tertawa menanggapinya.
Jaka melirik Fahri yang berada di sebelah Adel. "Eh, gue kira lo sama Bagas pergi ke sini."
"Bagas pergi ke sini juga?"
"Iya. Dari abis maghrib dia udah hubungin gue kalo nggak bisa pergi bareng. Katanya mau pergi sama cewek spesial," jelas Jaka.
Adel mengernyit, tidak paham apa yang di katakan Jaka. Maksudnya, tidak paham dengan cewek spesial yang Jaka maksud.
"Oh iya, gue duluan ya. Imam udah nunggu di sana." Jaka pamit padanya dan juga Fahri. Lalu menyusul Imam yang sudah menuggunya di bawah stand makanan.
"Bentar lagi mulai, Del. Ke sana yuk!"
Adel mengangguk dengan pelan, kemudian mengikuti Fahri yang jalan lebih dulu di depannya. Di sini begitu ramai, tapi Adel merasa sepi. Bukan menikmati konser di depannya, ia malah memikirkan ucapan Jaka tadi. Kalau bukan dia cewek spesial yang Bagas maksud, terus siapa?
Suasana benar-benar terasa semakin sepi melihat cowok yang menggangu pikirannya sejak tadi ada di sini bersama seorang cewek yang ia kenal. Adiknya sendiri. Dadanya sesak, ingin rasanya ia menangis di sini, tapi tentunya tidak ia lakukan berhubung ia masih tau tempat. Jarak mereka tidak dekat, tapi masih bisa ia lihat.
Satu jam berjalan, Adel berusaha menikmati acara itu. Namun, tetap gagal melihat tangan Bagas yang terus merangkul Chindy dengan jarak yang sangat dekat. Sambil bertanya-tanya, apa Chindy yang Bagas maksud cewek spesial itu? Apa tadi Bagas menjemput Chindy di rumahnya?
Sampai akhirnya Adel sudah tidak tahan. Dia menyerah. Dia pamit pada Fahri untuk pergi ke toilet. Tapi, itu hanya alasannya semata. Dia hanya tidak mau melihat Bagas dan Chindy lebih lama lagi, di tambah acara rangkul-rangkulan yang mereka lakukan.
Jatuh sudah pendiriannya sejak tadi. Air matanya bahkan tidak terbendung lagi. Dia memilih menyendiri di sebuah taman kecil yang tidak jauh dari alun-alun itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Numbness (selesai)
TienerfictieHighest rank : #1 in boyfriend [15 januari 2019] "Jauh-jauh dari gue!" Ia mengibas-ngibaskan tangannya, seolah mengusir. Mau tidak mau Adel menurut, ia mundur dengan senyuman yang masih mengembang. "Jauh lagi!" Adel mundur lagi. "Lagi!" "Terus, la...
