"Lo nggak boleh hujan-hujanan kalo nggak sama gue!"
"Ngapain kita ke taman?" tanya Adel heran saat mobil Eires berhenti di sebuah taman.
"Ngadem bentaran," kata Eires sambil membuka seatbelt miliknya.
Adel mendengus kesal. "Gue mau pulang, Eires!"
Eires tidak menjawab. Ia keluar dari mobil tanpa mengidahi ucapan Adel barusan. Cewek itu mencibir sikap Eires yang seenaknya membawanya pergi tanpa memberi tahunya terlebih dahulu.
Karena cukup lama tidak ada tanda- tanda Eires kembali, dengan perasaan kesal Adel turun untuk menyusul cowok itu.
Adel mengedarkan pandangannya ke sekitar taman. Suasana tidak terlalu ramai karena langit mulai tertutup awan mendung. Dengan mudahnya, Adel dapat menemukan Eires tengah duduk di salah satu bangku taman yang menghadap langsung ke pancuran air.
Adel menghampirinya, kemudian berhenti tepat di sebelah bangku taman yang di duduki Eires.
"Lebih baik kita pulang!" ucap Adel dengan tegas.
Eires menoleh padanya sebentar, lalu kembali menatap air mancur yang memancur indah dihadapannya. "Gue yakin lo pasti nyusulin gue."
"Kalo lo nggak mau pulang, gue pulang sendiri!" Ketika Adel ingin pergi, dengan cepat tangannya di tarik oleh Eires hingga membuatnya hampir terjatuh di pangkuan cowok itu.
Adel melihat sepasang mata teduh itu sangat dekat dengannya. Bahkan bisa Adel rasakan nafas Eires yang membelai permukaan wajahnya dengan begitu lembut. Jantungnya berdetak tidak karuan karena sangat terkejut dengan kejadian yang hampir membuatnya malu luar biasa.
Beberapa detik kemudian Adel bisa menemukan kesadarannya. Ia memundurkan wajahnya dan mengambil jarak beberapa langkah dari Eires.
"G-gue mau pulang, sekarang!" ucap Adel dengan gugup.
Eires mengangguk, menuruti permintaan Adel untuk pulang. Tapi, belum juga melangkahkan kakinya, Eires menyadari rintik-rintik hujan membasahi kepalanya. Dia lalu dengan cepat mengajak Adel untuk berteduh karena dengan cepat rintik-rintik itu berubah menjadi hujan yang sangat deras.
Eires mengajak Adel berteduh di sebuah kios yang terlihat sudah tidak terpakai lagi. Ukuran kios itu tidak terlalu besar hingga membuat mereka harus saling berbagi tempat. Walau pada akhirnya mereka tetap basah kuyup karena arah angin membawa air hujan itu ke arah mereka.
Eires memerhatikan Adel yang mengusap baju dan rambutnya yang bisa dibilang sudah tidak kering lagi.
Eires buru-buru membuka jaket miliknya dan menyampirkannya di pundak cewek itu. "Pakai jaket gue!"
Adel menoleh pada Eires lalu berdecak pelan. "Jaket lo juga basah. Sama aja dong!" Tangannya bergerak untuk membuka jaket itu kembali.
Eires berusaha untuk menahan tangan Adel untuk tidak membuka jaket itu. "Pake aja! Entar lo sakit."
"Ya sama aja kalo jaket lo basah, Eires!" Adel geram sendiri dengan tingkah Eires.
"Dengerin gue baik-baik, lo nggak boleh hujan-hujanan kalo nggak sama gue. Ngerti?"
Adel mengerutkan dahinya. "Emang kenapa?"
Eires ingin sekali mengatakan pada cewek itu kalau dalam keadaan basah kuyup seperti saat ini dia bisa dengan mudah melihat pakaian dalam Adel. Namun, tentu saja ia tidak mungkin mengatakan itu karena ia masih menghargai Adel sebagai wanita.
"Pokoknya lo nggak boleh hujan-hujanan tanpa gue!" tegas Eires.
Adel menurut. Ia kembali menyampirkan jaket Eires di pundaknya dengan benar. Walau ia masih belum mengerti dengan ucapan cowok itu.
Cowok aneh!
-0-0-
Mobil Eires menepi di depan rumah Adel. Cowok itu mematikan mesin mobilnya, lalu menoleh kesamping, mendapati Adel tengah tertidur pulas. Kepala cewek itu bersandar dengan wajah menghadap kearahnya, membuat Eires dengan mudah menatap setiap garis wajah cewek yang ada di sampingnya.
Jaket cowok itu masih tersampir indah di pundak Adel. Baju yang tadinya basah kuyup, kini dengan perlahan mengering.
Sejenak, Eires mengurungkan niatnya untuk membangunkan Adel. Ia malah memilih ikut memejamkan matanya sampai Adel terbangun nanti. Namun, baru beberapa detik terpejam, matanya kembali terbuka untuk menatap Adel lebih lama.
Eires tidak menyangka, menatap Adel sedang tertidur membuatnya ketagihan. Wajah Adel yang sangat tenang saat tidur terasa sangat menarik baginya. Karena saat ini lah ia dapat menatap setiap inci lekukan wajah Adel sepuas yang dia inginkan.
Adel, teman semasa ia tinggal di panti kini sudah tumbuh seperti kupu-kupu yang sangat cantik. Eires masih ingat betul saat waktu masih sama-sama berada di panti, ia sering membuat Adel menangis karena ulah jahilnya. Adel tidak pernah membalas apa yang di lakukan Eires padanya. Ia hanya menangis di sudut kamar dengan kaki di tekuk.
Pada umur mereka ke tujuh, mereka harus berpisah karena Eires diangkat oleh dua orang pengusaha muda yng akan mengangkatnya sebagai anak mereka, yaitu orang tua Eires sekarang. Setelah itu, Eires tidak pernah lagi bertemu dengan Adel.
Harus Eires akui, Adel sungguh berbeda dengan yang dulu. Adel yang terkenal cengeng sudah tidak ada di tubuhnya. Yang ia lihat hanya Adel yang cerewet dan mandiri.
"Del," panggil Eires mencoba membangunkan cewek itu.
Tidak ada pergerakan dari Adel untuk bangun membuat Eires mengernyitkan keningnya. Ia merasa ada yang aneh dari kondisi Adel saat ini.
Dengan feeling yang sejak tadi ia rasakan, tangannya perlahan mulai menempel di kening cewek itu. Eires terkejut dengan suhu badan Adel yang sangat panas. Ia yakin Adel terserang demam karena hujan-hujanan tadi.
Eires sekarang merasa bersalah. Kalau saja ia tidak membawa Adel ke taman dan langsung membawanya pulang, Adel tidak akan demam seperti sekarang.
"Gimana gue bilang ke Tante Wina?"
-0-0-
Tbc
Jangan lupa vomment ya:)
Wiwind🖤🖤🖤
Senin, 22 Juli 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
Numbness (selesai)
Novela JuvenilHighest rank : #1 in boyfriend [15 januari 2019] "Jauh-jauh dari gue!" Ia mengibas-ngibaskan tangannya, seolah mengusir. Mau tidak mau Adel menurut, ia mundur dengan senyuman yang masih mengembang. "Jauh lagi!" Adel mundur lagi. "Lagi!" "Terus, la...
