Selepas peristiwa di kediamannya, sekarang Lexi sudah duduk diatas kursi bar club langganannya. Entah sudah berapa gelas minuman yang ia tenggak habis. Bahkan ia melupakan tangannya yang penuh dengan darah yang mulai mengering. Pikirannya sudah jauh melayang memikirkan kejadian sebelum ia berada disini.
"Udahlah Xi, jangan minum lagi ya" bujuk Arta yang tak tega melihat keadaan Lexi.
"Diem Ta, jangan pernah loe hubungin Leo. Tambah minum gue" ucap Lexi yang kini kembali meminta agar gelasnya diisi.
Arta mengalah, andai saja sedang tak ada managernya saat ini. Tentu saja Arta akan menghubungi Leo, namun itu hanyalah sebuah pemikiran. Karena kini managernya tengah mengamati setiap pekerjanya dan berhasil membuat Arta harus menghembuskan nafasnya sembari menuangkan minuman yang terus dipesan oleh Lexi.
Kesadaran pada gadis itu kian memburuk, bahkan ini sudah pukul 22.15 malam. Dirinya langsung merogoh kantongnya dan memberikan bayaran atas minumannya kepada Arta. Langkahnya sempoyongan, bahkan dirinya sudah kehilangan setengah kesadarannya. Denga kekuatan yang tinggal sedikit itu, Lexi melangkahkan kakinya menuju mobil yang terparkir di parkiran paling depan.
Ia melajukan mobilnya dengan sekuat tenaga yang tersisa. Kepalanya sudah pusing, namun Lexi menolak untuk berhenti. Laju mobilnya pun terbilang lambat, untung saja keadaan jalan tengah sepi. Namun saat ia melintasi daerah sepi itu, tiba-tiba saja dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang menyalip pada lajurnya. Posisi mobilnya yang sudah cukup dekat pun membuat Lexi tak bisa membanting setirnya dengan cukup untuk menghindari tabrakan itu. Dan sepersekian detik setelahnya, mobil yang dikendarai Lexi berhasil ditabrak oleh mobil penyalip yang ada di depan mobilnya.
BRAKKK.........
Suara dari tabrakan yang tak bisa terelakkan itu menggema keras disepanjang jalan. Mobil-mobil yang tadinya melintaspun kini mulai berhenti, para pengemudi itu langsung memadati tempat kejadiannya. Melihat bagaimana kondisi kedua pengemudi yang tengah berada di dalam mobilnya itu yang tadi berhasil bertabrakan satu sama lain.
Bertepatan saat itu, Galih kini tengah berada tepat di dekat kerumunan orang-orang itu. Dahinya mengkerut jelas membuat sebuah kerutan pada dahinya dan alisnya yang menjadi lurus. Firasatnya bilang jika ia harus berhenti dan menengok, namun ia takut untuk melihat sebuah kejadian yang kini tengah dikerumuni banyak orang itu. Galih pun mengumpulkan seluruh keberaniannya, ia memarkirkan motornya disebuah warung yang dekat dengan tempat kejadian.
Perasaannya resah, ia berjalan pelan menuju kerumunan itu. Ia semoat ikut berdesak-desakan untuk melihat siapa korban dari peristiwa naas itu. Hingga pada saat ia berhasil menerobos kerumunan itu, tubuhnya menegang seolah seperti patung yang tak bernyawa. Pandangannya menegang saat ia berhasil melihat salah satu korban dari tabrakan itu adalah Lexi, sahabatnya yang tadi membolos bekerja tanpa pemberitahuan yang jelas.
"LEXI?!" pekik Galih yang kini tersadar dan mulai membantu pengemudi lain yang mengeluarkan tubuh Lexi dari mobilnya.
"Tolong. Tolong sahabat saya" ucap Galih khawatir saat tubuh Lexi berhasil dikeluarkan dari dalam mobil.
Seseorang yang tak Galih kenal pun kini berusaha memberi CPR kepada Lexi secara terus menerus, begitu pula dengan korban satu lagi yang kini tampak sudah siuman karena posisinya yang tak terlalu berhimpit dengan badan mobil. Lain halnya dengan tubuh Lexi, karena waktu yang tak terlalu banyak membuat Lexi tak memiliki begitu banyak waktu untuk membantung setirnya dan mobil penyalip itu berhasil menabrak mobilnya tepat pada sisi pengemudi yamg didalamnya ada Lexi.
Suara sirine dari ambulance mulai terdengar nyaring membuat beberapa orang yang tadi mengerumuni Lexi mulai menyingkir agar pihak medis dapat menjangkau korbannya. Tim medis pun kini mulai memberi penanganan, menggantikan orang yang sedari tadi sudah memberikan CPR sebelum tim medis itu datang. Mereka pun kini mulai mengecek denyut jantungnya dan memasangkan selang oksigen pada hidung Lexi. Tubuh lemah milik Lexi pun kini mulai diangkat keatas brangkat agar dengan cepat dapat dibawa menuju rumah sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
BADXIA (END)
Dla nastolatkówBagaimana pendapat kalian jika mendengar kata badgirl?. Tentu saja kalian akan berfikir dia yang selalu melanggar dan tak pernah mengharumkan nama sekolahnya tapi malah membuat nama sekolahnya semakin tercoreng. Tapi bagaimana dengan Lexi? Gadis can...
