Galaxi memukul keras setir mobilnya. Jakarta sangat macet saat jam pulang kantor dan tu berhasil membuat Galaxi mendengus kesal karenanya. Perasaannya masih berkecamuk antara kabar yang ia dengar tentang Lexi dan juga kabar jika adiknya kecelakaan kembali membuat Galaxi frustasi.
Sudah berkali-kali Galaxi memencet klakson mobilnya namun kemacetan ini seolah tiada ujungnya. Air matanya pun tak terasa sudah berhasil lolos dari pelupuk matanya. Ia terlalu takut, bahkan ia tak bisa berfikir jernih tentang bagaimana keadaan adiknya, Sky. Berkali-kali bundanya menelfon Galaxi untuk cepat datang ke rumah sakit yang sudah bundanya beritahu.
"Sial!" serunya kesal saat belum ada tanda-tanda pergerakan dari mobil yang ada di depannya.
Sedangkan di ruangannya, kini Lexi tengah bertatap muka dengan salah satu orang tua dari pasien yang baru saja ditangani oleh beberapa dokter di rumah sakitnya. Wanita paruh baya itu nampak baru saja menangis, dapat terlihat dari wajahnya yang masih terlihat bekas air mata yang menggenang disana. Lexi hanya bisa tersenyum lirih, ibu itu mengingatkannya kepada mama.
"Ada yang bisa saya bantu bu?" tanya Lexi sopan dengan senyum ramahnya sebagai seorang dokter.
"Saya orang tua dari Skyla Putri Mentari dok. Saya ingin membicarakan tentang tindakan selanjutnya yang harus putri saya tempuh" ujar ibu itu dengan nada sendu.
"Baik, dengan ibu siapa?" tanya Lexi.
"Ibu Sita" jawab ibu itu.
"Baik Ibu Sita. Pada kasus yang dialami putri anda. Dari hasil rontgen yang sudah dilaksanakan, putri anda mengalami patah pada tulang kering sebelah kanannya. Tindakan selanjutnya yang harus di tempuh adalah operasi pemasangan pen. Pen dipasang untuk mengunci posisi tulang yang patah agar dalam keadaan lurus dan menempel antara kedua permukaan tulang. Dengan posisi tulang yang lurus maka tulang tersebut akan menyambung kembali dalam keadaan lurus seperti semula" jelas Lexi sembari menunjukan bagian patahan pada hasil rontgen milik pasiennya itu.
"Lakukan semua yang terbaik untuk putri saya dok, saya mohon" pinta ibu itu.
"Baik, untuk kelanjutannya saya akan mulai menyiapkan jadwal operasinya, ibu dapat melengkapi beberapa berkas yang dibutuhkan. Untuk keadaan putri ibu, sebelumnya kami sudah memberi suntikan anti nyeri jadi anak ibu tidak akan merasa kesakitan" jelas Lexi lagi.
"Terimakasih dok, terimakasih" ucap ibu itu yang langsung diangguki Lexi dengan senyumannya. "Kalau begitu saya permisi kembali keruangan dulu, nanti akan ada anak saya yang datang kesini untuk membawa berkas-berkasnya" imbuh ibu itu lalu keluar dari ruangan Lexi.
Diluar rumah sakit, kini Galaxi baru saja memakirkan mobilnya di area parkir. Dengan wajah paniknya ia berlari menuju ruangan yang sudah bundanya beritahu. Langkah panjangnya membawa Galaxi menuju sebuah ruang inap di lantai dua. Dari kaca yang ada di pintunya, ia bisa melihat adiknya yang masih menangis hingga sekarang. Hatinya mencelos, adiknya itu tak pernah menangis sekeras itu.
Perlahan Galaxi mulai membuka pintu itu dan membuat Sky menatapnya dengan mata sembabnya. Isakan tangis itu bahkan terdengar menyakitkan pada pendengarannya.
"Abang!" seru Sky dengan suara seraknya.
"Hey? Kenapa nangis sih? Jangan nangis abang udah ada disini kan. Jangan jadi cengeng kaya gitu deh, bukan Sky banget ini mah" Galaxi sedikig menghibur adiknya itu, tak tega mendengar isakan pilu dari adiknya itu membuat Galaxi harus berpikir seribu cara untuk menyemangatinya.
"Sky ga cengen abang! Abang ih!" ujar Sky menghapus air matanya.
"Kalo ga cengeng trus ini yang keluar dari mata kamu apa? Ah abang yakin kamu masih cengeng kaya dulu waktu kamu masih segini nih segini" ucap Galaxi menaruh tangannya disepantaran pinggangnya, menandakan bahwa Sky masih setinggi itu dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
BADXIA (END)
Teen FictionBagaimana pendapat kalian jika mendengar kata badgirl?. Tentu saja kalian akan berfikir dia yang selalu melanggar dan tak pernah mengharumkan nama sekolahnya tapi malah membuat nama sekolahnya semakin tercoreng. Tapi bagaimana dengan Lexi? Gadis can...
