" Tingkat ke gila-an lo bener-bener akut. Ibarat sungai yang tercemar, lo udah bikin ikan hiu mati semua"
"Auuu!!" Jaden merintih ketika Lerry menekan kompresnya di ambang batas juga.
"Biar cepet kempes pipi Lo itu!" Lerry memeras handuk hangat itu di atas meja Jaden yang kini berisi baskom air dan isi kotak obat yang berceceran. Meja direktur yang selalu rapi dan bersahaja kini kocar-kacir seperti gembel. Derajat meja itu turun kasta dalam satu jam belakangan.
"Dokter Tedjo kan sudah bilang, harus sering-sering dikompres"
Lerry menyebut dokter keluarga Jaden yang baru saja mendatangi kantornya.
"Ngerti! Kompres bukan diteken begini!" Jaden masih menyandarkan badannya di kursi kehormatan sambil terus meringis menahan sakit
"Gue nggak nyangka aja, lo belain gadis itu mati-matian sampe babak belur begini ..."
"Ini kantor ya Ler.. tolong jangan pake lo gua..."
"Apa Lo suka sama dia?"
Jaden memandangi Lerry tak percaya. Asisstannya itu berani melanggar titahnya, di kantor pula!
"Lo mau tunjukin kalau lo itu jantan, gitu?"
"Sekali lagi kamu ngomong Lo .."
"Oh man! Lo itu bukan abg alay yang doyan tawuran di jalan. Lo itu sudah jadi pria sejati yang mapan, anti kekerasan dan... apa lo udah kebelet kawin? Astaga Jade, kalau lo emang kepingin.. you know, ML.. lo kan bisa bayarr....."
"Silahkan masuk Bu!"
Ohh Sh*t, pintu terbuka bersamaan dengan seseorang yang memasuki ruangan Jaden.
"Siang Bu... anu.. ini.." Lerry tampak kelabakan. Ia meraih baskom air di meja dan membawanya keliling ruangan karena tak tahu harus diletakkan dimana. Belum selesai ia menemukan solusi, ia teringat pada kotak obat yang teronggok malang di meja Jaden.
"Kalian keluarlah!" Anna memberi perintah dan langsung dituruti oleh semua orang, kecuali Jaden.
"Ler jangan lupa kamu urus semua meeting Saya hari ini!"
"Baik Pak" Jawab Lerry yang masih membawa baskom dan berdiri di perbatasan pintu keluar dengan pertanyaan besar di otaknya: apa Ibu Anna Yth. Itu mendengar ucapannya tadi. Amsiong cilaka dua belas!
Pintu tertutup sepenuhnya dan tinggalah dua orang ibu dan anak bersama kotak obat malang yang menjadi saksi bisu, buta dan tuli kebekuan diantara mereka berdua.
"Apa kamu tidak berminat menceritakan toilet mall yang rusak akhir pekan kemarin?" Anna menghampiri meja Jaden dan duduk di depan Jaden. Begitu santai tapi jauh dari kesan bermalas-malasan.
Tatapan Anna tak beralih sedikitpun dari wajah Jaden yang babak belur. Tak ada keterkejutan sama sekali. Atau, setidaknya rasa kuatir
"Kalau benar-benar rusak, Mami juga belum cerita berapa orang yang kencing di mall karena tak bisa pipis di toilet"
Cuma Jaden yang berani membalas Anna dengan cara seperti itu dan tak mengubah eksrpresi apapun pada wajah Anna. Tangannya tak mengepal, matanya tak membelalak lebar, sama sekali tak ada tanda-tanda gejolak emosi.
"Setidaknya kamu temui Om Abian dan minta maaf karena sudah meninggalkannya. Itu sangat tidak sopan dan tidak pantas. Walau Mami sudah meminta maaf tapi tetap Om Abian kecewa. Padahal ia berminat bekerja sama dengan perusahaan kita"
"Pasti Mam. Tapi tentu bukan sekarang. Mami juga pasti nggak suka kalau Jaden menemui Om Abian dengan wajah begini, kan!" Jaden jelas-jelas menunjuk dirinya yang babak belur
KAMU SEDANG MEMBACA
GIOK
RomansaEdward Edoardo selalu menemani Ruby Graviella selama menjadi murid di sekolah akrobatik Beijing. Melakukan panggilan telepon, chating dan video call dengan akses terbatas. Tak masalah. Awalnya! Namun semuanya berakhir setelah tiga tahun lewat dua ha...
