31

5K 362 14
                                        

Taehyung menyesap cokelat panas miliknya, sesekali ia melirik Jennie yang tampak berpikir keras. Melihatnya saja membuatnya ingin tertawa karena ekspresi wajahnya yang terlihat lucu di matanya. Kendati demikian, ia tetap mempertahankannya egonya, tak ingin memuji atau apalah yang membuat si cantik senang.

"Kalau otaknya tidak bisa berpikir, yasudah tak usah. Jangan dipaksakan," sindirinya.

Taehyung terlambat mengelak, cubitan maut berhasil mendarat di lengannya.

"Aku tak sebodoh itu," ucap Jennie dengan nada ketus mengiringinya.

Sedangkan sang korban cubitan maut itu masih memegangi lengannya. Jika kau tahu rasanya dicapit kepiting, seperti itulah rasa cubitan maut dari Jennie.

Taehyung menggerutu, memang sebentar warna merah itu membekas di kulitnya, tapi tak seharusnya Jennie melakukannya bukan? Secarakan, dia sedang down seharusnya Jennie lah yang menghiburnya.

"Emangnya dulu waktu Eomma hamil kamu, suka makan kepiting, apa? sampai-sampai anaknya kayak kepiting," cerocosnya.

Mendengar itu Jennie melotot, berani-beraninya Taehyung mengatainya kepiting. Terlebih telinganya itu sangat sensitif jika mendengar ibunya disebut-sebut. Bersiaplah kali ini Taehyung, Jennie tak akan memaafkanmu.

Si cantik kembali pada mode marahnya. Jika saja lengan Taehyung tak menahan pergerakannya, mungkin Jennie sudah beranjak dari tempatnya.

"Aku belum selesai bicara," nada dingin berhasil memperintahkan Jennie kembali duduk. Ia hanya memutar bola malas, menghilangkan kakinya dan memangku dagunya dengan jemarinya.

"Malam itu aku benar-benar merasa penat. Karenanya aku pergi ke kafetaria berharap stresnya bisa hilang dari sana. Ketika aku hendak pulang, aku tak sengaja menabrak orang dan saat itu aku sedang berjalan sambil membalas pesanmu. Orang itu mengomel tidak jelas seperti orang gila, padahal aku sudah minta maaf padanya ...."

"Yah, walaupun saat itu aku belum mendongakkan kepala karena masih melihat ponsel. Tapi kemudian seorang lelaki ikut ambil suara. Dia justru meminta maaf padaku atas tindakan kekasihnya yang memarahiku. Dan saat aku lihat, ternyata itu adalah-"

"Manusia karet," Taehyung mendatarkan bibirnya.

"Yakk! Kim Taehyung, dia punya nama. Kenapa masih saja menyebutnya manusia karet, hah?"

Tampaknya setelah ini Taehyung harus periksa telinga ke dokter. Akibat teriakan Jennie yang hampir tiap hari ia dengar, tak baik bagi kesehatan indera rungunya.

"Terserah aku mau menyebutnya apa," final Taehyung. Adu tatapan tajam terjadi di antara mereka hingga akhirnya dering ponsel Taehyung membuyarkan aktivitas masing-masing.

Sang empunya ponsel melirik sejenak, membaca nama yang tertera di sana. Sedikit terkejut, namun tak tertera di wajah tampannya. Karena ia segera mengontrol wajahnya. Jika Jennie tahu, entah bagaimana responnya nanti.

Cukup lama ponselnya berdering tanpa ada dari mereka yang mengangkat panggilan tersebut.

"Dari siapa?" Jennie membuka suara, sedangkan sang empunya ponsel diam seribu bahasa.

"Kenapa tak diangkat? siapa tahu itu panggilan mendesak," ujar Jennie yang kini tatapannya meredup.

Menghela nafas sejenak, selanjutnya Taehyung mengambil alih benda persegi panjang itu.

Taehyung mengatupkan mulutnya, membiarkan seseorang di seberang sana menuturkan kalimatnya.

"Tidak tahu pasti, aku tidak berjanji bisa atau tidak," tegas Taehyung membuat Jennie mengerutkan dahinya. Sebenarnya siapa yang menelpon Taehyung sampai-sampai nada bicaranya seperti itu.

[1] He Is Mine Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang