Chapter 8

1.4K 152 10
                                        

Singto POV

Kulirik jam tanganku, sudah hampir jam 11. Kulihat Krist yang sudah terlelap dengan kepala di pahaku.

Di sebelahnya Nammon sudah tertelungkup di atas meja. Beberapa pemain lainnya seperti P'New dan Oajun, sudah dari beberapa saat yang lalu diajak pulang oleh manajer masing-masing.

Yang tertinggal hanya pemain-pemain yang tadi berangkat kesini tanpa manajer dan staffnya.

"P'Off... Phi..." panggilku kepada pria yang ada diseberang meja,

"Caiii... Alai wa Nong?" tanyanya dengan nada manis,

"Sebaiknya kita pulang sekarang..." kataku,

"Bagaimana caramu pulang Nong? Kamu harus mengantarkan Nammon dan Krist pulang juga. Nampaknya mereka akan susah dibangunkan..." katanya sambil menunjuk dua orang pria yang sudah ambruk,

"Aku tau Phi... Sepertinya Top dan Fluke juga sudah lewat..."

"Begini saja bagaimana jika kita menginap di salah satu penginapan di dekat sini. Biar kita tak terlalu jauh membopong mereka?"

"Ide itu boleh juga Phi..."

Aku meminta tolong pada beberapa staf yg masih disana untuk membopong Nammon dan Fluke, sedangkan aku dan P'Off akan membopong Krist dan Top.

"Lain kali kalau mau ajak mereka minum-minum jangan seperti ini Phi... Kita juga yang repot!" kataku setelah berhasil menaikkan Krist ke punggungku.

"Aw... jadi aku yang salah??" tanya P'Off sambil mengangkat Top.

Kami berjalan di sepanjang jalan dengan membawa beban ekstra sahabat-sahabat kami. Untung saja penginapan yang dibilang P'Off tidak terlalu jauh letaknya.

P'Off memesan 2 kamar dengan connection door untuk kami berenam.

P'Off, Top dan Fluke di kamar satu, sedangkan aku, Nammon dan krist di kamar satunya.

Aku meletakkan Krist di tempat tidur dan Nammon di sofa panjang. Jangan tanyakan padaku kenapa aku tidak membaringkan mereka berdua di tempat tidur. Aku juga tak tau. Aku hanya tak suka.

"Ugh.." kudengar Nongku bersuara dari atas tempat tidur, jadi aku pun mendekatinya.

Duduk di tepi tempat tidur aku memanggilnya perlahan, "Alai wa Krist?"

Alih-alih menjawabku dia terus menarik-narik sweatshirt yang dikenakannya seolah terlalu gerah, jadi tanpa menunggu lama aku membantunya menarik lepas sweatshirt dari kepalanya.

Aku terkejut saat mendapati dia tak menggunakan apa-apa dibalik sweatshirtnya. Kukira dia masih menggunakan kaos dibalik baju itu.

Sejenak aku termenung terpesona melihat warna kulit dibalik lapisan baju itu. Putih bersih dengan tubuh yang cukup berbentuk.

Krist jarang menggunakan kaos yang ketat karena dia merasa kurang nyaman, jadi aku tak menduga kalau dia memiliki tubuh yang bagus. Putingnya berwarna pink gelap dipadukan dengan warna kulit putih susu.

Tanpa sadar aku meletakkan tanganku di dadanya yang telanjang dan membandingkan warna kulit kami yang terlihat kontras. Tiba-tiba dia meraih tanganku dan berputar kesamping, membawaku serta dan membuatku berada diatasnya. Aku hanya bisa menopang badanku dengan satu tangan, takut menindihnya dengan berat badanku.

Dalam posisi ini, wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. Aku tertegun menatap bulu mata lentik itu dan wajah manis yang selama ini tak pernah benar-benar kuperhatikan dari jarak dekat.

Krist POV

Dadaku terasa panas, seolah ada stamp besi panas yang ditempelkan disana. Aku mencoba untuk melepaskan benda itu dari dadaku.

Aku memutar badanku berharap rasa panas itu akan hilang, namun tiba-tiba badanku seolah dihimpit batu, hanya sekejap.

Kurasakan hembusan angin hangat di depan wajahku. Aku mencoba untuk membuka mata, ingin tahu benda apa yang menyebabkan hembusan angin hangat itu, tapi mataku sungguh terasa berat.

Tanganku meraba benda di depanku dan merasakan kehangatan itu lagi di kedua telapak tanganku.

Dengan enggan aku membuka mata karena sungguh aku ingin tahu benda apa yang ada ditanganku saat ini. Namun saat membuka mata aku sungguh terkejut karena kulihat wajah P'Sing dihadapanku.

Apa aku bermimpi?? Beberapa hari ini aku terus mengulang-ulang adegan ciuman kami di rooftop dalam tidurku, mungkin ini kelanjutan dari mimpi itu, pikirku lagi.

Kulihat P'Sing membuka mulut hendak berbicara namun tak ada suara yang keluar. Kemudian kulihat dia menggigit bibir bawahnya dan seolah ada benang yang terentang terlalu ketat dan putus di dalam benakku, aku pun memajukan wajahku dan membuat bibir kami saling bersentuhan.

Aku mengulum bibir bawah yang tadi digigitnya dan sedikit kugigit seolah aku ingin mencicipi rasanya.

Bisa kurasakan dia sedikit tersentak, namun tanganku ada di kedua pipinya dan aku tak mengijinkan dia untuk mundur. Kulepas sejenak bibir bawahnya untuk berpindah ke bibir atasnya, kuusapkan lidahku di sepanjang bibir atasnya dan kurasakan P'Sing merubah posisi kami hingga dia berada di atasku dan membalas ciumanku.

Saat kami sedang berciuman, tiba-tiba P'Sing menghentikan ciuman kami dan menjauhkan wajahnya dari jangkauanku. Aku hanya bisa manatapnya bingung.

"Apa yang kamu lakukan P'Sing?" kudengar seseorang bertanya dengan nada malas-malasan,

"Hanya membetulkan posisi tidurnya..." sahut P'Sing sambil menoleh ke balik bahunya,

"Aw..." dan kemudian hening.

Shia... itu bukan mimpi, tanpa sadar aku mencium P'Singto dalam tidurku. Takut menghadapi kenyataan, aku kembali memejamkan mata, berpura-pura tertidur kembali, sambil berdoa dalam hati semoga dia percaya dengan aktingku.

"Ah... apa-apan kau Singto, dia hanya mengigau... " katanya gemas, "Lebih baik aku mandi saja!"

Tak lama kudengar suara pintu dibuka dan ditutup kembali. Aku mencoba membuka sedikit mataku dan mengintip jika P'Sing masih di kamar. Saat kulihat dia tak ada di dalam kamar, aku menghembuskan napas lega.

"Aw... Apa yang telah kulakukan?" gumamku gemas sambil membenamkan wajahku dibantal.

Singto POV

Jantungku masih berdetak tak karuan. Untung saja tadi Nammon hanya mengigau, kalau tidak aku bisa gilaaa...

Dasar krist si Penggoda, apa yang dia lakukan tadi membuatku sungguh terkejut. Tanpa sadar aku meraba pipiku tempat tadi dia menahan wajahku agar tak bisa mundur. Dasar Penggoda.

Aku hanya bisa marah-marah dan berteriak kesal dalam hati. Marah? Kesal? Kepada siapa aku tak tau.

Pada Krist yang mengigau dan menciumku? Pada diriku sendiri karena membalas ciumannya? Atau pada Nammon yang mengganggu disaat yang tidak tepat?

Argh... Aku gemas sendiri dan mengacak-ngacak rambutku dengan kesal. Lebih baik aku mandi sekarang.

Saat aku keluar dari kamar mandi yang pertama kulihat adalah Krist yang sudah kembali terlelap dengan tubuh tertelungkup di tengah-tengah tempat tidur.

Kuhembuskan napas panjang saat aku membalikkan badannya dan merubah posisi tidur yang tadinya terlihat tidak nyaman. Aku pun berjalan ke sisi tempat tidur yang lain untuk bersiap tidur. Setelah mensetting alarm handphone ke pukul 7 pagi, aku pun merebahkan tubuhku.

Krist bergerak-gerak dalam tidurnya seolah mencari posisi yang nyaman dan berakhir dengan berguling ke sisi badannya, menghadap kepadaku. Aku pun berguling ke sisi, memandang wajahnya yang hanya terpaut setengah meter dari wajahku.

Aku tak percaya, jika aku tadi sempat terhanyut dan membalas ciumannya. Untung saja dia tidak terbangun. Apa pendapatnya jika tahu aku menciumnya di saat dia tertidur?

Walau sebenarnya aku tak mau disalahkan atas kejadian itu karena dia yang menciumku terlebih dahulu...

Tak terasa, kantuk pun menguasai tubuhku. Dengan Krist ada di sampingku, aku pun mulai merasakan perlahan kesadaranku tersedot dan aku pun memejamkan mata menyambut tidur.

BEHIND THE SCENE (Krist x Singto FanFiction) COMPLETEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang