Krist POV
Dia masih saja setia dengan kebungkamannya. Dia hanya mengikutiku turun dari taksi, berjalan menuju lift dan naik ke lantai apartemenku. Sempat kukira dia akan mulai bicara saat kami ada di dalam lift, tapi lagi-lagi aku harus kecewa. Dia masih saja menatap ke depan dengan tatapan dingin.
P'Singto sudah mendiamkanku sejak 45 menit yang lalu saat kami memasuki taksi yang membawa kami pulang ke apartemenku. Baiklah... ini menyebalkan, kuakui itu. Aku mencoba segala cara untuk membuatnya melihatku dan berbicara padaku dan semua itu tanpa hasil.
Terakhir kali aku mendengar dia bersuara adalah saat kami berpamitan dengan P'Boyd dan kru. Kemudian saat P'Earth berpamitan pada kami, Singto hanya menarik tanganku pergi meninggalkan P'Earth yang masih berdiri terbengong di lobby hotel.
Aku terkejut saat P'Singto merebut kunci apartemen dari tanganku begitu kami keluar dari lift, dia berjalan dengan cepat meninggalkanku di belakang. Saat aku sampai di depan pintu apartemen, dia sudah berdiri disana dengan pintu yang terbuka.
Begitu aku ada di jangkauan tangannya, dia langsung menarikku masuk ke dalam kamar dan menutup pintu di belakangku dengan suara lumayan kencang. Aku sampai sedikit terloncat karena terkejut.
Kukira dia akan langsung meledak begitu pintu tertutup, tapi tidak. Dia langsung masuk dan mendudukkan dirinya di sofaku tanpa melihatku sedetikpun. Astaga aku merasa seperti seorang anak yang sudah berbuat nakal dan diminta untuk merenungi kesalahanku. Kesalahan yang bahkan menurutku bukan sepenuhnya kesalahanku.
"P'Sing... serius... Apa kau akan terus mendiamkanku di sisa hari ini? Karena ini adalah hari terakhir liburan kita sebelum kembali ke jadwal gila-gilaan kita yang biasanya... Kau benar-benar yakin akan menghabiskan waktu kita dengan bertengkar?" tanyaku dengan pelan.
Aku lelah setelah bekerja dan aku lelah karena dia ngambek padaku tanpa kutahu pasti sebabnya.
"Apa kita sedang bertengkar?" tanyanya dengan wajah innocent,
"Technically, no. Ini hanya seperti kau mendiamkanku karena kau sedang marah dan tak mau bicara padaku." sahutku sambil duduk di sebelahnya di sofa dan meraih tangannya,
"Aku sedang bicara denganmu kan?" sahutnya,
"Tapi kau sedang marah..." balasku,
"Aku tidak marah..."
Aku memilih untuk membiarkan dia menenangkan diri terlebih dulu sebelum mulai membicarakan semua ini. Aku tahu ini akan terjadi cepat atau lambat. Dan ini adalah alasan kenapa aku tak mau dia menemaniku pergi ke pemotretan.
Aku saja harus selalu menahan diri saat melihat dia berdekatan dengan orang lain, apalagi harus melihat dirinya berpose seperti tadi dengan orang lain. Aku bisa membayangkan bagaimana perasaannya, itu kenapa aku tak bisa marah atas sikapnya. Aku mengerti sekali apa yang membuatnya kesal.
Aku memutuskan untuk mandi dan membasuh tubuhku yang terasa penat dan mungkin air dingin akan bisa menyegarkan kepalaku yang terasa berat.
Aku terkejut saat tiba-tiba seseorang mendorongku masuk ke dalam kamar mandi hingga tubuhku menempel di dinding putih. Dengan kasar dia membalikkan tubuhku dan kemudian menyerang bibirku dengan bibirnya.
Dia mencium dengan kasar tanpa kelembutan sama sekali dan aku hanya bisa membiarkan dirinya memuaskan egonya.
Saat dia meninggalkan bibirku dan berkonsentrasi pada leherku, tanganku naik ke tengkuknya dan meremas kecil ototnya yang tegang disana. Mencoba menenangkan emosi kekasihku ini. Aku hanya bisa mendesah pelan saat kurasakan lidahnya menjilat leherku dengan gerakan lambat dan kemudian menghadiahiku dengan sebuah gigitan kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEHIND THE SCENE (Krist x Singto FanFiction) COMPLETED
FanfictionBuat yg udah follow nina almeira the series mungkin project yang satu ini bukan kalian banget. Karena kali ini aku bikin project fan fiction gara2 jiwa fujoshi terbangkitkan karena lg banyak film BL seru. Project BTS menceritakan cerita "real life"...
