Krist POV
Seharian ini aku mengalami campuran mood dan suasana hati yang membingungkan bahkan untuk diriku sendiri.
Aku bangun tidur dengan perasaan bahagia karena aku terbangun di dalam pelukan sahabat terbaikku dan juga orang yang saat ini paling penting dalam hidupku. Namun kemudian saat kami harus berpisah beberapa saat karena kesibukkan, aku tiba-tiba merasa insecure, sulit meyakini bahwa ini adalah kenyataan.
Kemudian aku merasa bingung dan panik akan apa yang akan terjadi di hari-hari mendatang.
Namun semua itu hilang entah kemana begitu aku melihat wajahnya. Ketika dia memelukku dan aku bisa sejenak bersandar di bahunya, rasanya semua kekhawatiranku menjadi tak beralasan karena aku memiliki dirinya di dalam hidupku.
Aku menyukainya dan merasa sangat wajar jika aku berhasrat padanya, walau begitu tak urung aku tetap merasa malu saat dia memergokiku menikmati bau tubuhnya.
Merasakan hasrat sekuat ini pada sesama lelaki bagiku adalah sesuatu yang sangat baru, aku tak tahu bahwa aku bisa sangat menginginkan seseorang seperti itu. Bahkan aku tak pernah merasakan dorongan sekuat ini terhadap wanita manapun, tapi dengan mudahnya dia membangkitkan hasratku.
"Aku juga menyukaimu Krist..." kata-kata yang diucapkannya dengan suara rendah itu membuat tubuhku merinding, terlebih ketika dia mengatakannya dengan tatapan langsung ke dalam mataku.
Dan ciuman itu, P'Sing menciumku dengan hasrat yang sama seperti malam sebelumnya, padahal sebelumnya dia bilang dia tak mau melakukan itu disini, tapi dia terus menggodaku.
Walau bagaimanapun aku juga lelaki, kami para lelaki tidak diciptakan sesempurna itu dalam pertahanan diri terhadap godaan.
Saat dia bersikap agresif, aku jadi ingin menyamai keagresifannya. Dari posisiku yang berada diantara tembok dan tubuh kokoh P'Sing, aku pun membalikkan keadaan.
Dengan satu gerakan mulus, aku menarik dirinya dan balas menghimpit dia di antara tembok dan tubuhku. Satu tanganku menahan tengkuknya, dan tangan lainnya berusaha untuk masuk ke balik kaos yang dipakainya saat itu, meraba perut datar dan berotot yang sering kunikmati diam-diam.
Kurasakan tangannya meraba-raba kancing kemejaku berusaha membukanya. Satu persatu dia membuka kancing dan melepas kemeja dari tubuhku. Tak mau kalah aku melepaskan kaosnya dengan gerakan tak sabar, kemudian mencium lehernya yang kecoklatan.
"Krist..." protesnya, namun tak kuindahkan, aku masih asyik menikmati rasa kulit itu di mulutku, "kamu akan meninggalkan bekas jika kamu melakukan itu..."
Mendengar apa yang dikatakannya, aku langsung berhenti dan mendongak. Baru menyadari aku telah membuat satu bekas cupang di lehernya.
"Saat ini kau terlihat seperti seekor kancil yang melihat pemburu, kau tahu itu? Matamu melebar sangat besar!"
Lagi-lagi dia menyeretku ke tempat tidur dan merebahkan tubuhku di sana, dia naik ke atas tubuhku dan membungkuk di atas dada.
"Bukankah akan sangat adil jika aku juga memberimu cap?" tanyanya padaku seolah meminta ijin, kemudian dia menciumi dadaku dan tulang rusukku.
Setelah beberapa saat menikmati cumbuannya dan tangannya yang membelaiku di semua tempat, dia bergumam "Jangan biarkan orang lain melihat ini! Atau aku akan sangat marah padamu!"
Kata-kata posesif itu disusul dengan serangan yang dia mulai lagi pada bibir dan tubuhku. Sementara tangannya terus menjamahku di tempat-tempat lain, selain tempat yang kuinginkan. Saat ini salah satu anggota tubuhku sedang menuntut perhatian.
"P'Sing..." rengekku padanya, saat dia melepas pagutannya pada bibirku,
"Alai wa?" tanyanya sambil menatap wajahku,
"Kau sungguh masih bertanya padaku? Aku sudah tak tahan... Apa yang harus kulakukan pada ITU??"
Suara tawanya terdengar geli dan walau aku sungguh ingin tertawa bersamanya tapi saat ini juniorku terasa sakit karena terkungkung celana jeans.
"Mau melakukannya bersama?" tanyanya padaku sambil membawa tangan kananku ke gundukan di celananya dan dia meletakkan tangannya di celanaku.
Saat dia meremas penisku dari luar celana, aku tak kuasa menahan desahan yang keluar dari mulutku, spontan aku membekapkan tanganku yang lain di depan mulut, mencegah desahan nikmat lolos dari sana.
P'Sing membuka kancing celana jeansku dan tangannya masuk ke balik celana dalam. Napasku tersentak saat aku merasakan tangannya yang menggenggam batang penisku.
Merasa tak sabar aku pun melakukan hal yang sama pada celana jeansnya, dengan mudah aku menyelipkan tanganku ke dalam celana boxernya dan aku merasa puas saat lenguhan tertahan keluar dari bibirnya.
Sekali lagi bibir kami berpagutan dengan liar dan tangan saling meremas dan mengocok naik turun. Saat dia meninggalkan bibirku, bibirnya mendarat di puting dadaku dan dia menghisap, menjilat dan menggigit kecil tonjolan itu, membuatku menggelinjang.
Setelah beberapa saat aku bisa merasakan klimaksku yang mulai mendekat dengan tak sabar aku memanggil namanya dengan suara bergetar menahan rasa nikmat karena kocokan Singto di penisku, "Argh... Phi aku... sudah tak tahan!"
"Lepaskan Kit... I'm right behind you!"
Klimaks itu datang begitu keras, spermaku menyemprot hingga mengenai dada Singto yang mengkilat karena keringat, dan tiba-tiba kurasakan penisnya berdenyut dan cairan Singto tumpah ke atas perutku.
Singto POV
Aku terkesima melihat bagaimana wajah Krist memerah, bisa kulihat beberapa kissmark di dadanya. Apa aku berlebihan? Pikirku dalam hati.
Namun saat melihat matanya yang menatapku dan napas kami yang sama-sama berkejaran, aku tak menyesal "menodai" nya. Mungkin ini adalah pertama kali bagi kami berdua, klimaks oleh tangan lelaki dan aku merasa senang karena aku adalah orang yang telah membuat ekspresi penuh kepuasan itu terukir di wajahnya.
Aku meraih kotak tissue di meja samping tempat tidur dan mulai membersihkan tubuh kami dari sperma. Kemudian aku menjatuhkan tubuhku ke tempat tidur, tepat di sampingnya, masih mencoba mengatur napasku yang menderu karena aktifitas yang baru saja kami lakukan.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku padanya yang kulihat masih memejamkan mata dan dadanya naik turun,
"Beri aku beberapa menit lagi..." sahutnya dengan suara pelan,
"Maafkan Phi na?!"
"Alai wa?" Krist membuka mata dan bertanya dengan nada heran,
"Karena Phi melakukan itu..."
"Aw, Phi... Apa kamu menyesal?" tanyanya sambil mencoba untuk duduk, namun aku menahan bahunya sehingga dia tak bisa bangun.
"Aku menyesal karena tak bisa menahan diri... Seharian ini, aku susah berkonsentrasi karena terus memikirkanmu!" sahutku padanya,
"Sebenarnya... Aku juga. Aku rasa keputusan kita semalam untuk tidak melakukan itu padahal sudah separuh jalan, berimbas padaku seharian ini. Aku terus memikirkannya..." katanya sambil terkekeh geli.
Saat aku meliriknya, bisa kulihat ekspresi malu-malu dan wajah memerah hingga ke telinga. Dengan gemas aku memiringkan tubuhnya dan mendekap kepalanya di dadaku.
"Kita sangat buruk dalam hal menahan diri, na?" godaku padanya, "Sekarang, sepertinya kita harus mandi sebelum turun untuk makan malam... Mau mandi bersama?"
"Aw Phi... Mandi sendiri-sendiri saja, akan butuh waktu lama jika harus mandi bersama!" katanya spontan,
"Aku bercanda, baiklah... Kau atau aku dulu yang mandi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BEHIND THE SCENE (Krist x Singto FanFiction) COMPLETED
FanfictionBuat yg udah follow nina almeira the series mungkin project yang satu ini bukan kalian banget. Karena kali ini aku bikin project fan fiction gara2 jiwa fujoshi terbangkitkan karena lg banyak film BL seru. Project BTS menceritakan cerita "real life"...
