Chapter 33

1.2K 109 0
                                        

Krist POV

Begitu melihatku di set pagi itu, P'Yui sudah memasang tampang angker dan menyeramkan, layaknya penjaga pintu neraka lengkap dengan trisula nya. Dia nampak murka.

Aku hanya bisa pasrah menanti nasib yang menantiku.

"Apa kau tahu kesalahanmu?" tanyanya sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatapku tajam,

"Maafkan aku Phi..." aku hanya bisa menunduk tak berani menatap wajahnya.

"Kenapa kau terus membuatku khawatir?"

"Aku tidak bermaksud begitu..."

"Nong... aku tidak akan mempermasalahkan masalah hubungan personalmu. Tapi tolong kau jaga imagemu untuk saat ini. Kau punya tanggung jawab atas kesuksesan film ini.

Walau kau dan Singto berperan sebagai pasangan, bukan berarti kalian bisa bertindak sesuka kalian. Jika suatu saat kau benar-benar ingin mengumumkan pada dunia tentang hubungan kalian pun aku takkan keberatan... Tapi untuk saat ini tahan diri kalian!"

"Yui..." panggil P'Jane mencoba menengahi,

"P'Jane! Kau tak perlu membelanya, aku tahu bagaimana mendidik artisku... Aku bertanggung jawab atas diri Krist kepada bos agensi dan orang tuanya."

"Aku tahu Yui! Tapi ini benar-benar special case, jika tak ada apa-apa mereka juga tidak berkelakuan seperti ini. Selama ini mereka selalu bertindak hati-hati kan?! Maafkanlah dia sekali ini! Aku bersumpah aku sudah menjaga mereka, tak ada media yang melihat dan menyadari hal ini. Kau tahu aku sangat teliti tentang masalah ini!"

P'Jane tahu P'Yui terkadang bisa sangat sulit dihadapi. Mungkin dia merasa kasihan padaku sehingga dia mencoba mendinginkan amarahnya. Namun nampaknya kali ini aku benar-benar tak bisa lolos begitu saja.

Aku pun menepuk pundak P'Jane dan tersenyum menenangkannya dan Singto yang juga nampak khawatir.

"Terima kasih atas tumpangannya Phi... Aku butuh bicara dengan P'Yui sebentar!" kataku pada P'jane dan P'Singto,

"Kami akan menunggu kalian di dalam na?!" sahut P'Jane akhirnya dan dia pun menarik lengan Singto, memaksa untuk mengikutinya pergi.

Kulihat P'jane dan P'Singto berjalan masuk dalam area kampus tempat setting adegan hari ini. Singto terlihat beberapa kali menengok ke arahku dengan raut wajah khawatir, namun aku memasang senyum terbaikku untuk menenangkannya.

Aku sadar selama ini aku belum benar-benar berbicara pada P'Yui tentang perasaaanku pada Singto.

Bagi P'Jane, menerima kenyataan Singto menyukai seorang lelaki sangatlah mudah mengingat preferensi seksualnya. Namun tidak bagi P'Yui.

P'Yui tentu saja akan meragukan perasaan kami ketika selama ini aku tak pernah menunjukkan tanda-tanda menyukai sesama lelaki. Dan dia begitu yakin Singto akan mematahkan hatiku.

Bahkan menurutku, meyakinkan P'Yui akan lebih susah daripada meyakinkan orang tuaku sendiri. Bagiku P'Yui seperti ibu, kakak dan teman.

"Phi..." panggilku memulai, "Aku putus dengan Nong Prae!"

"Alai wa..." dia benar-benar terlihat terkejut dengan mata melebar dan muka memerah,

"Aku tahu, kamu meminta aku untuk mempertahankan hubunganku dan Prae walau aku sudah mengatakan padamu aku menyukai P'Sing. Tapi aku tak bisa lagi Phi... Aku tak bisa jika harus membohongi semua orang, terlebih diriku sendiri!" kataku padanya,

"Huft... Nong... Aku tahu kau menyukai Singto tapi... pikirkanlah karir kalian... Kalian ini aktor dan jalan kalian masih panjang!"

"Phi... Jalan karirku masih panjang, tapi aku tak perlu menginjak-injak perasaan orang untuk menjalani kehidupanku sebagai aktor kan? Jika memang begitu, lebih aku berhenti saat ini juga!"

"Apa maksudmu? Ini impianmu Nong! Ingat mimpimu menjadi penyanyi! Ingat mimpimu untuk menjadi aktor!"

"Aku punya mimpi Phi, tapi aku mohon jangan membuatku menukarkan hati nuraniku dengan impian!" kataku keras kepala.

P'Yui terlihat berpikir untuk beberapa saat. Kami berdua sama keras kepalanya. Aku tahu yang dilakukan olehnya semua demi kebaikanku, tapi untuk kali ini saja. Aku tak bisa menuruti sarannya.

"Baiklah... jadi apa yang kau mau sekarang? Putus dengan Prae kemudian berpcaran dengan Singto?" tanyanya,

"Aku belum tau..." jawabku jujur,

"Apa maksudmu?" dia nampak kembali terkejut dengan reaksiku,

"Aku menyukai P'Sing dia juga bilang dia menyukaiku, tapi kamu belum bicara tentang menjalin hubungan serius!"

"Kau pasti bercanda! Katakan kau sedang bercanda denganku Nong!" wajahnya benar-benar nampak bingung,

"Tadi Phi keberatan aku menjalin hubungan dengan P'Sing tapi sekarang Phi juga marah saat aku bilang sedang tidak menjalin hubungan dengannya! Phi... tentukan dulu Phi mau aku bagaimana!" kataku sambil tertawa lelah, "Aku tau jika kami mengumumkan bahwa kami berpacaran saat ini... Hal ini akan mempengaruhi bukan hanya jalan karirku tapi juga jalan karir P'Sing. Dia adalah aktor yang hebat, aku tak pernah berpikir untuk menghambat jalannya!"

"Jadi... Kau mau mencoba menjalani hubungan sembunyi-sembunyi?" tanyanya ragu,

"Aku belum tahu... aku akan membicarakan ini dengan P'Sing nanti... jika sudah tepat waktunya! Tapi aku ingin P'Yui percaya padaku, aku akan melakukan hal yang terbaik bagi kami berdua."

Aku melihat saat akhirnya pandangan matanya melunak saat menatapku. Tanda dia sudah usai dengan gelombang kemarahannya.

"Apa aku punya pilihan?"

"Sayangnya tidak... Phi selalu percaya padaku... Kali ini, aku sangat membutuhkan kepercayaanmu Phi! Aku takkan merusak hidup kami!"

Singto POV

Krist tak juga memasuki set lokasi. Aku terus bergerak-gerak gelisah di kursiku dengan P'Jane yang menemani di sampingku. Aku khawatir jika Krist akan diceramahi lagi oleh P'Yui tentang masalah kami. Tapi aku sadar aku tak bisa mencampuri urusan mereka berdua.

Sedihnya... aku tak memiliki hak apapun untuk ikut campur dalam hidup Krist. Aku berharap itu akan segera berubah. Aku ingin memiliki hak untuk berdiri di sampingnya dan melindungi Krist.

"Singto... Itu Krist!" bisiknya padaku.

Kulihat dia berjalan diikuti oleh P'Yui memasuki set dan sepanjang jalan menuju tempat duduk kami, dia menyapa dan memberi wai para kru dan sesama pemain. Senyumannya terlihat lelah dan matanya meredup.

"Kau lama sekali..." kataku,

"P'Yui susah dibujuk!" dia menatapku dengan tatapan lembut, "Jangan khawatir! Semuanya akan baik-baik saja Phi!"

"Aku tahu..." kataku, kemudian aku membuka kedua tanganku memintanya untuk mendekat.

Krist berjalan perlahan kemudian masuk ke dalam pelukanku. Kali ini aku tak bisa melakukan apapun untuknya kecuali memberi dukungan seperti ini. Kedua tanganku memeluknya dan tanganku menepuk-nepuk punggungnya.

Kata-kata yang ingin kusampaikan pada Krist tak bisa kukatakan di tempat ini tapi aku ingin dia tahu, bahwa aku ada disini untuknya.

BEHIND THE SCENE (Krist x Singto FanFiction) COMPLETEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang