38. Mimpi yang menjadi Nyata

6K 433 30
                                        

Renatta terbangun dari tidur siangnya ketika seseorang menggenggam tangannya dan mengelus punggung tangannya dengan sayang.

Ia melihat Kevin tersenyum lalu mencium tangannya. Renatta tersenyum. "Kevin, please jangan tinggalin aku."

Kevin sedikit terkejut melihat Renatta mengeluarkan airmatanya.
Ia menghapus airmata itu dengan jemarinya.

"Hei, apa yang kau rasakan? Apa ada yang sakit?"

Renatta menangis. "Please, jangan tinggalkan aku. Aku sangat marah padamu, dan aku merasa kecewa akan semuanya apalagi atas sikapmu. Tapi, aku tetaplah Rere yang mencintai seorang Kevin dengan sangat. Tanpa alasan dan tanpa tahu dari mana datangnya perasaan itu."

Kevin mengkerutkan keningnya.
Apa yang terjadi dengan Renatta?
Kenapa wanita ini begitu sensitif?

"Sayang, aku minta maaf jika aku menyakitimu. Tetapi, tidak pernah sekalipun aku tidak memikirkan dirimu. Percayalah."

Renatta semakin terisak mendengar kalimat yang Kevin-nya ucapkan. Ia meraih leher pria itu, mencoba bangkit duduk.

"Re, apa yang kau lakukan?" Tanya Kevin bingung.

Namun, Renatta tidak menjawab. Ia memeluk Kevin dan mencerukkan wajahnya pada leher pria itu.

Kevin tertegun.
Tangannya perlahan terangkat untuk mengelus punggung wanita itu dan bibirnya mengecup kepala wanita itu.

"Panggil aku sayang." Rajuk Renatta dalam tangisnya.

Kevin tersenyum, dalam hal ini ia semakin yakin Rere-nya tidak pernah berubah.
"Kau akan terus mendengarnya, Sayang. Setiap hari, setiap pagi dibangun tidurmu, setiap malam disaat matamu akan terlelap. Aku akan terus memanggilmu sayang."

Renatta tertawa sambil menangis. Itu adalah kalimat terindah yang pernah ia dengar.
"Kau memaafkan aku?"

"Atas kejadian burukmu di masa lalu?"
Tanya Kevin.

Renatta mengangguk.

Kevin melepas pelukannya, ia menangkup kedua pipi Renatta sambil menghapus airmata dari kedua pipi cantik itu menggunakan ibu jarinya.

"Aku hanya kecewa kau tidak mengatakan yang sebenarnya padaku dan membohongiku. Tapi mengenai masa lalumu, aku menerimamu apa adanya, sayang. Itu adalah musibah yang pastinya kaupun tidak mau mengalaminya."

"Kevin, aku membohongimu karena aku takut kehilangan dirimu. Dan, impianku memang menjadikan dirimu yang pertama.." Renatta kembali menangis..

Kevin merasakan kesedihan dan kekecewaan yang dirasakan Renatta. Ia semakin membenci pria brengsek itu yang sudah merusak gadisnya.
Tapi, ia yakin Emily sudah mengurus semua dengan baik.

Ia bersyukur memiliki ibu yang benar-benar menyayanginya. Ia pun sangat menyayangi ibunya, begitupun wanita didepannya ini. Rere kecilnya yang sangat ia benci, namun sekarang menjadi seseorang yang ia cintai dengan sangat.

Entah sejak kapan, tetapi keberanian Rere kecil dan juga sikap menyebalkannya yang selalu menggangu itu membuat hati keras Kevin kecil mencair tanpa disadari.

Tanpa Kevin sadari, ia sudah ketergantungan akan keramaian yang diciptakan Rere.
Dan, semua sikap jahatnya itu bertolak belakang dengan isi hatinya.

".. Tapi, semua.. Kejadian itu.."

"Ssssttt... "

Renatta terdiam dalam isakannya saat telunjuk Kevin menempel di bibirnya.

Lalu, wajah Kevin semakin mendekat untuk mencium bibir Renatta. Dan saat bibir mereka bersentuhan, Renatta memejamkan matanya.

Setetes airmata kembali terjatuh dalam ciuman yang sangat didambakan oleh masing-masing insan ini.

ON HER EYES (FINISH)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang