KARMA 33

1.7K 77 4
                                        

Yuda mendesah pelan saat membaca pesan dari tante Aini.

Yuda, Nindi tadi ke rumah sakit. Tolong kamu anterin dia pulang. Tante hawatir. Dia belum sembuh betul.

Dengan segera dia berdiri mendekati jendela di ruang kerjanya. Melihat pemandangan kota yang sangat padat. Hampir tidak pernah ada jalan pun yang kosong dari bisingnya kendaraan di ibu kota. Yuda merogoh ponselnya menekan beberapa angka kemudian, "segera ke ruangan saya."

Seorang pria mengomel tidak jelas sepanjang jalan menuju ruangan atasannya. Sesekali para perawat dan pasien lainpun melihat heran ke arahnya. Aldo menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu atasannya.

Tok.. Tok.. Tok..

"Masuk." Suara penuh wibawa itu membuat bulu kuduk Aldo merinding.

"Bapak tadi memanggil saya." Tanya Aldo dengan hati-hati.

Yuda menatap lurus pria berjas putih di depannya. Masih melekat stetoskop di saku dokternya, "tolong kamu antar adik saya sampe ke rumah." Aldo sedikit membuka mulutnya. Sebelum Yuda kembali melanjutkan ucapannya.

"Antarkan Nindi sampai ke rumahnya. Dia sekarang ada di ruangan Namira."

Tanpa banyak bertanya Aldo sudah paham. Bintang sudah menceritakan meski tidak sedetil dan selengkapnya namun dia tahu, Nindi adalah sepupu dari istri sahabatnya dan juga atasannya.

"Baik pak. Saya permisi."

Nindi dan Aldo sama-sama diam. Diantara mereka hanya diisi oleh suara radio yang mengabarkan tentang cuaca hari ini. Ponsel Aldo terus bergetar hingga menggangu fokus pria itu. Nindi melirik sekilas pada pria itu, ada raut kesal dan marah yang kentara ketika melihat layar ponselnya terus menyala.

"Diangkat dulu, mungkin itu penting." Saran Nindi.

"Mantan itu ga penting. Mereka cuman tamu yang ga tau diri. Sudah mampir dan meninggalkan sampah lalu pergi tanpa salam." Nindi terkejut dengan penuturan Aldo. Dia akhirnya sadar pria di depannya ini sedang patah hati. Namun patah hatinya sangat lucu dimata Nindi.

Aldo melirik Nindi sekilas. Wanita itu menunduk dengan wajah memerah menahan tawa.

"Kalo ketawa, ketawa aja. Ga usah ditahan yang ada malah lo kentut lagi."

"Sorry, aku ga maksud buat ngetawain kamu." Nindi merasa tidak enak hati dengan Aldo.

"Santai aja kali. Gue bukan orang yang mudah baper ko."

"Kalo ga mudah baper kenapa lo ga mau angkat telpon dari mantan lo? Harusnya lo angkat dong, biar dia tahu kalo lo udah ga sakit hati. Jangan ngehindar, itu cuman buat dia merasa lo masih belum rela buat ngelepas dia sampe lo ga kuat liat dia sama yang lain."

"Dua tahun gue sama dia. Eh, dia malah pilih sama teman gue sendiri. Apa ga sakit tu?"

"Karna terkadang kita hanya menjadi tempat persinggahan bukan tempat dia pulang. Kita cuman ngejaga jodoh orang. Kaya gue sama Bintang. Udah banyak berkorban tapi hasilnya dia milih jodoh dari orang tuanya."

Nindi menunduk. Menyembunyikan air matanya yang kembali mengalir saat memori indahnya bersama Bintang terlintas.

Aldo menepikan mobilnya. Pria itu membiarkan Nindi menangis mengeluarkan sisa-sisa kenangan yang cocok menjadi sampah di TPA.

"Keluarin aja semuanya. Jangan sisain sedikitpun kalo itu emang sudah usang." Tanpa aba-aba Aldo menarik Nindi dalam pelukannya. Membiarkan pakaiannya basah dengan air mata mantan pacar sahabatnya. Dia hanya ingin meminjamkan bahunya agar Nindi bersandar untuk sebentar.

"Nyonya.." Mbo Sumi sendiri hanya bisa berdo'a agar ada yang menolong mereka. Sementara dia sendiri sudah terkapar di lantai. Asisten rumah tangga yang sudah renta itu seperti kehabisan napas.

"Zaga, ampun..." Aini memohon dan meminta belas kasihan pria bejat itu. Zaga menarik kasar rambut Aini menamparnya berulang kali. Hingga bibir dan pipinya lebam bahkan berdarah.

"Mama!!!" Teriakan Nindi membuat Zaga melepaskan cengkramannya pada Aini. Pria itu menatap Nindi dengan kebencian mendalam. Marah karena Aini sudah menipunya mentah-mentah.

"Lepasin mama saya." Aldo dan Nindi segera membantu tante Aini dan mbo Sumi.

"Aku benci melihat darah daging seorang Rajasa. Terutama pria brengsek itu. Ternyata kamu adalah darah daging Farhan, seharusnya dulu kamu melihatku membunuh ayahmu dengan tanganku sendiri." Nindi menutup mulutnya tak percaya. Ayahnya, orang yang selama ini ingin dia temui itu dibunuh oleh pria yang menjadi suami ibunya. Yang berarti ayahnya juga.

Zaga menatap tajam Nindi membuat gadis itu menunduk takut. Aldo berdiri di depan Nindi. "Jangan macam-macam. Atau kami akan memanggil polisi." Mendadak Zaga tertawa keras. Kemudian meludah.

"Anak ingusan. Tanganku ini sudah banyak melayangkan nyawa orang. Dan kau bukan tandinganku."

Satu pukulan keras membuat Aldo tergeletak di lantai. Tendangan keras terus dilakukan Zaga. Dengan sekuat tenaga Aldo menendang kuat kaki kiri Pria kejam itu hingga keseimbangan Zaga tumbang. Aldo mengambil kesempatan dengan cepat dia mengambil tongkat golf dan mengayunkan tepat pada kedua kaki Zaga membuat pria itu memekik kesakitan.

Namun bukan Zaga namanya jika dia mudah takluk. Pria itu menyeringai saat Aldo nampak lengah dengan segera dia menarik pisau lipat di sakunya dan menuskkan tepat di perut Aldo hingga darah berceceran di lantai.
Nindi memekik keras. Wanita itu memangku kepala Aldo dengan kedua pahanya. Tangan kanannya menekan kuat luka tusukan di perut Aldo.

"Do, please, bertahan." Nindi sudah berurai air mata. Aldo tidak merespon apapun perkataan Nindi. Pria itu perlahan meredupkan pandangannya.

"Aldoo!!!!""""

----Hatiku masih memeluk bayangan kenangan kita, namun seiring berjalannya waktu. Semua mulai mengikis dan luntur oleh cinta yang baru---

----RiyanaSabaku---

***(((tbc)))***

Yogyakarta, 18 Mei 2019

KARMA [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang