Hujan turun dengan deras sore ini, disertai oleh angin yang lumayan kencang. Chaeyoung terus berjalan menyusuri jalan menuju rumahnya. Sendirian. Hari ini Jihoon tidak berangkat sekolah karena ada urusan keluarga, dan tadi, Chaeyoung menolak tawaran Dahyun ataupun Tzuyu yang mengajaknya pulang bersama. Chaeyoung hanya ingin sendiri. Menenangkan hatinya yang sedang dalam suasana buruk.
Tidak peduli seberapa basah baju dan buku-bukunya, Chaeyoung sama sekali tidak ada niat untuk berteduh apalagi berhenti. Dia terus berjalan sampai akhirnya kaki mungilnya memasuki halaman rumah yang akhir-akhir ini nampak seperti neraka.
"Ngga ada lagi yang bisa kita pertahanin. Aku mau cerai dari kamu!"
Suara Ayahnya terdengar jelas di telinga Chaeyoung, meskipun hujan sangat deras, tapi suara itu berhasil mengalahkannya.
"Kamu ngga bisa minta pisah gitu aja, Pah! Gimana sama Chaeyoung?!"
Kali ini suara Ibunya yang terdengar. Diikuti oleh isak tangis kecil dan lirih.
"Chaeyoung bakalan ikut sama aku! Dan kamu, jangan coba-coba buat temuin dia lagi nantinya."
"Ngga bisa! Chaeyoung itu anak aku! Aku yang ngelahirin dia dengan susah payah! Bukan kamu!"
BRAK!
Chaeyoung membuka pintu rumahnya dengan kasar. Hatinya terasa sangat panas, padahal badannya kedinginan.
"Chaeyoung?" Panggil Sunny-Ibu Chaeyoung- pelan sambil berjalan mendekati putri satu-satunya itu.
"Papah sama Mamah ngga serius kan? Ini semua bohong kan? Kalian ngga mungkin pisah, iya kan?" Tanya Chaeyoung lirih.
"Chaeyoung, ngga ada yang bisa kita pertahanin lagi disini. Kamu mau kan ikut Papah?"
"Engga! Chaeyoung harus ikut sama Mamah!"
"Stop! Apa kalian ngga cape terus-terusan ribut kaya gini? Apa kalian ngga mikirin perasaan aku, perasaan anak kalian sendiri?!"
Chaeyoung menatap sendu kedua orang tuanya yang kini hanya terdiam. Air mata mengalir secara bersamaan dengan air hujan yang menetes dari rambutnya.
"Chaeyoung ini anak kalian. Bukan cuma anak Papah, ataupun Mamah! Tapi, aku ini anak kalian berdua. Anak Mamah sama Papah."
"Tapi, Chae–"
"Engga! Kalo Papah tetep mau pisah dari Mamah, lebih baik aku pergi aja dari rumah ini! Aku ngga mau punya orang tua yang ngga lengkap!"
"Chaeyoung! Son Chaeyoung!"
Chaeyoung tidak memperdulikan suara itu. Diusapnya air matanya secara kasar. Emosinya terus meluap-luap seiring dengan langkah kakinya yang pergi menjauh dari rumah. Entah kemana.
— — — —
"Jadi ke rumah Chaeyoung?" Tanya Jihyo kepada Mina yang berjalan disebelahnya.
"Jadi. Ini anak-anak udah ngumpul di parkiran."
"Semua?"
"Iya. Tadi Dahyun sama Tzuyu dijemput sama Kak Jeongyeon. Biar kesananya bareng."
Jihyo mengangguk paham. Dari kejauhan, dia dapat melihat Sana sedang berdiri bersebelahan bersama Momo. Didepan mereka berdua, berdiri pula tiga orang laki-laki.
"Jihyo, itu mereka lagi ngapain?" Tanya Mina sambil menunjuk Sana.
"Ngga tau. Yuk, samperin."
Sesampainya Jihyo dan Mina disana, mereka tidak langsung bertanya apa yang sedang terjadi, karena ketiga laki-laki itu sedang sibuk mengajak Sana pergi.
"Sana, mau ya pergi sama gue?" Bujuk Mark.
"Ngga. Sama gue aja yuk, San." Ucap Seokjin sedikit maksa.
"Sama gue aja. Gue beliin lo es krim deh." Tawar Taehyung cepat.
"Dih, cuma es krim. Sini sama gerobaknya gue beli."
"Songong amat lo!"
Seokjin dan Taehyung kompak memukul kepala Mark setelah mendengar cibirannya.
"Gue ngga mau pergi sama kalian. Udah ya, gue mau ke rumah Chaeyoung." Tolak Sana masih mencoba untuk sabar, meskipun dalam hatinya sudah gatal ingin menjambak rambut mereka satu-satu.
"Gue anterin deh, gimana?"
Sana menghembuskan napas lelah, lalu beralih menatap Momo meminta pertolongan.
"Maaf nih, tapi Sana mau pergi sama kita." Ucap Momo.
"Dianterin gue aja, ya?"
"Heh! Lo ngga bisa ya diomongin baik-baik. Udah dibilang, Kak Sana mau pergi sama kita, bukan sama salah satu dari kalian!" Geram Jihyo.
"Gue ngga ngomong sama lo–"
"SANAAAA!!"
Teriakan seseorang membuat keributan kecil diantara mereka terhenti.
Nayeon berlari menghampiri mereka dengan wajah panik. Nafasnya tidak teratur dan tangannya menggenggam sebuah handphone.
"Kenapa lo?" Tanya Mina bingung.
"Itu–hah, Chaeyoung–hah."
"Kenapa sih? Tarik napas pelan-pelan, keluarin secara perlahan."
Nayeon menuruti kata-kata yang diucapkan Jihyo. Setelah dirasa nafasnya mulai teratur, Nayeon bersiap untuk membuka mulutnya lagi. Seseorang diam-diam memperhatikan wajah Nayeon tanpa kedip. Baginya, wajah gadis itu terlihat sangat imut, apalagi gigi depannya. Persis seperti kelinci.
"Chaeyoung pergi dari rumah!"
"Apa?!" Teriak mereka bersama, kecuali ketiga laki-laki itu, yang hanya memasang wajah bingung bercampur panik.
"Kok bisa?!" Tanya Sana cemas.
"Ngga tau, barusan Tante Sunny telfon gue. Bilang kalo Chaeyoung pergi dari rumah."
Belum sempat mereka kembali memberikan pertanyaan kepada Nayeon, suara Jeongyeon terdengar dari kejauhan.
"Kalian! Ayo buruan, kita harus cari Chaeyoung sekarang sebelum malem."
"Iya Kak, Cepetan! Apalagi sekarang hujan kaya gini, gue ngga mau Chaeyoung kenapa-napa." Sambung Dahyun dari dalam mobil.
"Gue anterin aja yuk."
Taehyung masih mencoba untuk membujuk Sana, diikuti oleh Mark dan Seokjin.
"Cukup! Berhenti gangguin gue, lo ngga liat kita semua lagi khawatir sama Chaeyoung? Dan kalian masih sempet-sempetnya nawarin buat nganterin gue? Ngga! Gue ngga mau pergi sama kalian. Ayo!"
— — — —
Gimana? Chaeyoung pergi kemana nih, sendirian lagi. Dan, siapa tuh yang merhatiin Nayeon diem-diem?
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Life [Complete]
Fiksi Penggemar"Hidup-hidup kita, ngga usah lah pikirin apa kata orang lain."
![Our Life [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/201669933-64-k685043.jpg)