Sana saling berpandangan dengan Momo dan Jeongyeon. Raut bingung jelas tercetak di wajah mereka bertiga. Bagaimana tidak? Nayeon dan Jihyo tiba-tiba datang menghampiri mereka yang sedang makan di kantin, sambil menangis.
Oke, awalnya memang Jihyo akan pergi berdua bersama Daniel, tapi dia membatalkannya. Nayeon lebih penting, temannya itu pasti butuh didengarkan.
"Aduuuh, lo kenapa nangis sih Kak Nay? Malu woy, di depan umum gini." Bisik Sana pelan. Pandangannya menatap sekeliling. Hampir semua pasang mata menatap kearah mereka.
"Heh! Ngga usah liatin kita kaya gitu, lanjut aja makan. Jangan peduliin kita!" Teriak Jeongyeon sedikit risih. Apalagi sekarang terdengar bisik-bisik tidak jelas.
"Yaelah, galak banget."
"Itu siapa sih yang nangis gitu? Ngga malu apa?"
"Kenapa tuh nangis, dikantin lagi."
"Jangan-jangan abis diapa-apain tuh, terus ngga mau tanggung jawab."
"Ganggu aja."
Jeongyeon mengepalkan kedua tangannya diatas meja. Dia benar-benar terganggu dengan itu. Memang apa salahnya menangis di kantin seperti Nayeon? Toh, semua orang memiliki hak yang sama. Benar sih, kantin itu tempat makan, bukan tempat nangis, tapi selama itu tidak mengganggu ya biasa saja. Untuk komentar terakhir itu pengecualian, orang yang mengatakan itu duduk di pojok sebelah kanan, sedangkan Jeongyeon dan yang lainnya di sebelah kiri. Kenapa Jeongyeon bisa mendengar umpatan itu? Jelas karena suasana kantin berubah senyap sejak Nayeon dan Jihyo datang.
Bukan Nayeon yang meminta perhatian, tapi mereka yang memberikan semua perhatian mereka pada gadis itu. Secara sukarela.
"Sekali lagi ada yang protes, gue tendang mulut kalian satu-satu. Lagian, biasanya juga kalian ngga peduli. Mau ada yang nangis kek, salto kek, guling-guling kek, kalian juga diem aja. Nah sekarang? Bilang aja kalian kepo kenapa Kak Nayeon nangis. Pake segala bilang ganggu!" Teriak Jeongyeon lagi. Sambil menatap satu per satu orang yang tadi berkata tidak jelas.
"Apa sih–"
"APA LO? MASIH MAU JAWAB? SINI MAJU."
Bukan. Bukan Jeongyeon yang berteriak, tapi Momo. Dengan wajah sangarnya.
"Kenapa jadi ribut sih? Udah! Kita pindah aja yuk."
Sana menarik Jeongyeon dan juga Momo menjauh dari kantin. Diikuti oleh Nayeon dan Jihyo dibelakang mereka.
Brak!
"Lain kali, jaga tuh mulut. Kak Nayeon bukan cewek murahan kaya yang lo pikirin. Sekali lagi lo ngomong aneh-aneh soal temen gue, abis lo."
Kali ini Sana. Kaki mulusnya menendang meja seorang mahasiswa yang sudah dengan kurang ajarnya mengatakan kalau Nayeon mungkin abis diapa-apain. Sana paham akan kalimat itu. Sungguh.
Mahasiswa itu hanya menunduk. Merutuki mulutnya yang sudah seenaknya bicara. Dia lupa, meskipun cantik mereka sedikit bar-bar. Dan juga jangan lupakan mereka menjunjung tinggi persahabatan.
Mereka berlima pergi meninggalkan kantin dengan kesal. Sial. Jihyo sedikit menyesal telah mengajak Nayeon ke kantin, harusnya dia memberi tahu teman-temannya untuk bertemu di lain tempat saja. Pasti tidak akan begini jadinya.
"Sial. Kesel banget gue sama tuh orang, siapa namanya? Mau gue ajak duel nanti." Gerutu Jeongyeon setelah mereka duduk di ruang BEM. Lagi-lagi hanya tempat itu yang bisa mereka gunakan dengan tenang.
"Ga tau. Mau cari tau?" Tawar Sana sambil menunjukan smirknya.
"Ngga usah aneh-aneh! Fokus ke Kak Nayeon dulu." Tegur Momo. Padahal tadi dia sama emosinya.
"Udah tenang?" Tanya Jihyo ke Nayeon. Tangannya sibuk menghapus air mata di wajah Nayeon dengan ibu jarinya. Astaga, apa sesakit itu?
"Minum."
Momo menyodorkan sebuah botol minuman kearah Nayeon, yang diterima oleh gadis itu dengan senyum tipis.
"Jadi, kenapa?" Tanya Sana penasaran.
"Lo aja yang jelasin Hyo, gue ngga mau denger cerita potong-potong." Ucap Jeongyeon tidak sabaran.
"Yaudah." Jihyo menarik napas panjang sebelum mulai bercerita.
"Kak Nayeon baru aja berantem sama Kak Jinyoung."
"APA?!" Teriak Jeongyeon, Momo, dan Sana secara bersamaan.
Mereka bingung kenapa Nayeon bisa bertengkar dengan Jinyoung, padahal selama ini mereka terlihat baik-baik saja. Nempel, dan selalu bersama. Kemanapun.
"Kalian inget dare itu?"
"Jangan bilang lo berantem sama dia gara-gara dare dari gue?" Tanya Jeongyeon sedikit merasa bersalah.
"B-bukan." Jawab Nayeon sesenggukan.
"Terus?"
"Kalian tau kan, dua hari kemarin semenjak Kak Nayeon cuekin Kak Jinyoung mereka ngga pernah ketemu?" Tanya Jihyo. Mereka bertiga mengangguk mengiyakan.
"Selama dua hari itu, Kak Nayeon ngeliat Kak Jinyoung jalan sama cewek lain, makan bareng juga. Dan tadi, pas Kak Nayeon mau nyamperin Kak Jinyoung buat minta maaf, Kak Nayeon liat Kak Jinyoung lagi pelukan sama cewek lain." Jelas Jihyo menggebu-gebu.
"Jadi dia selingkuh?!" Pekik Momo tidak percaya.
"J-Jinyoung n-ngga selingkuh, tadi g-gue denger apa yang D-Daniel bilang ke Jinyoung." Ucap Nayeon.
"Apa? Apa yang dia bilang?" Tanya Jeongyeon cepat.
"F-friendzone."
"Friendzone? Momo dong?" Ucap Sana sambil menunjuk Momo.
"Enak aja! Gue udah jadian tau."
Momo memukul kepala Sana keras, yang di pukul hanya meringis kesakitan.
"Jadi maksud lo, Kak Jinyoung kejebak friendzone sama cewek itu?" Tanya Jeongyeon memastikan.
"Iya, yang gue denger dari Daniel sih, dulu sebelum Kak Jinyoung coba buat deketin Kak Nayeon, mereka emang udah deket. Tapi ya gitu, cuma dianggap temen. Sampai mungkin akhirnya Kak Jinyoung cape, terus lebih milih buat pacaran sama Kak Nayeon." Jelas Jihyo. Daniel sudah menceritakannya tadi ketika di perjalan menuju fakultas Nayeon.
"Jangan bilang lo cuma dijadiin pelampiasan?"
"N-ngga tau."
"Cih, brngsk juga tuh cowok." Desis Momo sebal. "Tapi kok Kak Nayeon bisa sama lo? Si Mina juga kemana?"
"Gue ada di sana sejak awal, dan soal Mina. Dia jalan sama Jimin, mau beli kado buat Mamahnya Jimin katanya."
Mereka mengangguk paham, lalu kembali fokus ke masalah Nayeon.
"Terus sekarang, lo mau gimana Kak?" Tanya Jihyo pelan.
Nayeon menggeleng. "En-tah. Menurut kalian gimana?"
"Putus."
"Cowok masih banyak."
"Yang lebih baik ada."
"Jangan bodoh dengan pertahanin cowok kaya gitu. Ngga konsisten."
"Buat apa banyak, tapi gue ngga suka?"
"Nanti juga suka kalo lo niat buat move on."
Nayeon tersenyum, mungkin memang harus seperti ini akhir kisah cintanya bersama Jinyoung. Cukup miris bukan? Nayeon bahkan baru berpacaran sekali, tapi hatinya sudah remuk berkali-kali.
"Tapi, Kak." Ucap Jihyo tiba-tiba. "Kalian tadi keren banget. Yuk, gue bantuin kalo kalian serius mau cari tau siapa mahasiswa itu."
Jeongyeon dan Sana saling berpandangan.
"YA ENGGAK LAH, NGGA ASIK. SEKALI TONJOK UDAH TEPAR."
— — — —
Mantap sekali kalau Sana sama Jeongyeon beneran mukulin tuh orang. Yuk yang mau Nayeon putus mana suaranya. Hehe
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Life [Complete]
Hayran Kurgu"Hidup-hidup kita, ngga usah lah pikirin apa kata orang lain."
![Our Life [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/201669933-64-k685043.jpg)