Nayeon mengetuk-ngetuk meja dengan bosan. Sudah sekitar 10 menit dirinya menunggu Jinyoung di cafe itu, tapi yang ditunggu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Padahal jelas-jelas tadi Jinyoung sudah mengiriminya pesan kalau dia sudah sampai di cafe sejak tadi.
Cih. Pembohong.
"Hai, Nay. Maaf gue telat, tadi ke toilet dulu sebentar."
Jinyoung datang terburu-buru dari arah pintu masuk. Nayeon melihatnya dengan jelas, tapi kenapa cowok itu bilang kalau dia baru saja dari toilet? Kebohongan macam apa lagi ini?
"Toiletnya udah pindah ya? Perasaaan tadi lo dateng lewat pintu masuk deh, bukan lewat belakang gue."
Nayeon menunjuk tanda yang menunjukan dimana letak toilet cafe ini, dan ya, tandanya mengarah ke belakang tubuh Nayeon.
"Itu...."
"Udah berapa kali lo bohongin gue? Dan udah berapa kali gue coba buat percaya sama lo?" Ucap Nayeon tanpa mau berbasa-basi lagi. Dia sudah muak.
"Nay–"
"Kita putus. Itu kan yang lo pengen?"
"Nay!"
Jinyoung meninggikan suaranya, Kata-kata itu sungguh tidak bisa diterima Jinyoung.
"Apa? Lo ngga mau kita putus? Atau lo yang mau mutusin gue? Kalo gitu, silahkan. Gue udah ngga mau lanjutin cinta satu arah ini." Ucap Nayeon tajam.
"Cinta satu arah apa? Gue juga cinta sama lo, Nay!"
"Pembohong. Siapa tuh, nama ceweknya? Seohyun? Seolhyun? Atau siapa lah itu. Lo cintanya cuma sama dia, bukan sama gue!"
"Apaan sih?! Dia cuma–"
"Temen? Bullshit!"
"Nay... Dengerin gue dulu. Biarin gue jelasin kesalahpahaman ini."
Jinyoung mencoba menggenggam tangan Nayeon, tapi langsung ditepis dengan kasar.
"Salah paham? Dibagian mananya gue tanya?! Ngga ada salah paham disini, dan gue ngga mau dengerin apapun dari lo. Pergi aja, ngga usah urusin gue lagi. Pacaran aja sama dia. Percuma lo sama gue, tapi hati lo ada di dia."
Nayeon bangkit dari duduknya, lama-lama disana bisa membuatnya gila.
"Tunggu, lo ngga bisa egois gini. Lo harus dengerin penjelasan gue dulu." Cegah Jinyoung, tangannya mencengkeram erat lengan Nayeon.
"Lepas!" Ringis Nayeon, tangannya terasa perih.
"Ngga, sebelum lo mau dengerin gue."
"Lo tau? Sebenernya lo yang egois disini, bukan gue!"
"Gue? Egois?! Coba ngomong sekali lagi!"
"A-aw!"
Jinyoung semakin mengeratkan cengkeramannya. Nayeon tidak menyangka, ternyata Jinyoung cukup kasar jika sedang emosi seperti ini.
Melihat Nayeon yang sepertinya semakin kesakitan, Tzuyu dan Jeongyeon yang memang sedari tadi memperhatikan mereka dari pojok cafe menjadi geram.
"Kak! Samperin ayo, kasian itu Kak Nayeonnya."
Jeongyeon berdiri dengan kasar dari duduknya. Gadis itu sudah cukup menahan emosinya sejak tadi. Melihat Nayeon diperlakukan secara kasar membuatnya tidak bisa tinggal diam, Tzuyu bahkan sudah bergerak gelisah sejak pertama kali mereka bertiga menginjakkan kaki di cafe ini.
Bugh!
Tanpa basa-basi lagi, Jeongyeon melayangkan sebuah tinju ke perut Jinyoung. Cengkeramannya ditangan Nayeon terlepas, dengan begitu Tzuyu bisa dengan leluasa memeluk tubuh Nayeon yang sudah gemetar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Life [Complete]
Fiksi Penggemar"Hidup-hidup kita, ngga usah lah pikirin apa kata orang lain."
![Our Life [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/201669933-64-k685043.jpg)