OL-Fifty Five

1.8K 212 8
                                        

"Udah kaya pacarnya aja gue, bawain bunga tiap hari."

Taehyung tersenyum sepanjang perjalanan menuju ruang rawat Sana. Tangannya memegang sebuket bunga. Anyelir putih. Bunga yang sama seperti kemarin.

"Kok kosong?" Gumam Taehyung bingung.

Ruangannya kosong. Bersih. Seperti tidak pernah ada yang menempati sebelumnya.

"Bener kok. Gue ngga salah masuk ruangan."

Taehyung mengitari seluruh ruangan. Bahkan kamar mandinya pun tak lepas dari perhatian Taehyung.

"Sana beneran pergi?"

Sesuatu diatas laci mengalihkan perhatian Taehyung. Sebuah amplop kecil berwarna pink ada disana.

To our precious girls.

Jelas. Itu bukan untuknya. Melainkan untuk teman-teman Sana dan Tzuyu.

"Lo kenapa ngga tungguin gue dulu sih? Seenggaknya, lo bawa bunga dari gue ini."

Taehyung menatap nanar bunga itu. Setetes air mata meluncur melewati pipinya, dengan tergesa-gesa, Taehyung keluar dari ruangan Sana dan bergegas pergi. Sebelum Ia sempatkan untuk membuang bunganya ke tempat sampah didekat ruangan Sana.

"Halo, Kak." Sapa Taehyung ketika sambungan teleponnya diangkat oleh Nayeon.

"Kenapa, Tae?"

"Temuin gue di cafe deket kampus. Sekarang. Penting."

Tut.

— — — —

"Sorry. Gue ngga bisa. Ada urusan penting." Tolak Nayeon dingin.

"Apa ketemu sama Taehyung lebih penting daripada kumpul sama kita?" Tanya Jihyo dengan tatapan tidak percaya.

Nayeon menghela nafas. "Buat sekarang, iya. Udah, kan? Gue pergi. Kalian bisa kumpul tanpa gue." Ucap Nayeon sambil berlalu pergi.

"Lo kenapa ngehindar dari kita, sih?"

Pertanyaan Jihyo berhasil menghentikan langkah Nayeon. Gadis itu berhenti, namun enggan membalikkan tubuhnya.

"Gue?"

Jihyo mengerang frustasi. "Iya, lo. Siapa lagi emangnya?"

"Gue ngga pernah ngehindar. Nyatanya, gue masih mau ketemu dan ngobrol sama lo." Jawab Nayeon datar.

"Terserah lo, deh. Kali aja lo berubah pikiran, kita ada di rumah Mina."

Nayeon hanya melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Tanpa merespon ucapan Jihyo. Kakinya melangkah menuju parkiran, mengambil mobil dan pergi ke cafe dekat kampus.

"Taehyung ngapain minta ketemuan, sih? Gue tadinya mau ikut malah jadi nolak kan." Cerocos Nayeon tidak jelas.

Sampai di cafe, Nayeon langsung masuk dan mencari dimana Taehyung duduk.

"Kak Nay!" Panggil Taehyung.

Oh, laki-laki itu duduk didekat jendela rupanya.

"Kenapa, Tae?" Tanya Nayeon to the point.

Taehyung tidak menjawab. Ia mengambil amplop itu dari dalam sakunya, lalu diberikan kepada Nayeon.

"Ini, apa?"

"Baca." Suruh Taehyung singkat.

Meskipun bingung, tapi Nayeon tetap mengambil amplop itu.

"To our precious girls?" Gumam Nayeon pelan.

Tanpa basa-basi lagi, Nayeon membuka amplop itu secara kasar. Ada sebuah kertas didalamnya.

Satu per satu kata mulai Nayeon baca. Ekpresi nya pun berubah-ubah disetiap kalimatnya.

Satu tangannya terangkat untuk menutup mulutnya, seiring dengan air mata yang perlahan turun membasahi wajahnya.

"Engga. Ini pasti bohong kan, Tae?"

Taehyung menatap nanar kearah Nayeon. Andai saja bisa, Ia juga akan menganggap ini sebagai kebohongan belaka, tapi nyatanya? Ini semua benar.

"Gue nemuin itu di atas laci yang ada di ruang rawat Sana." Ucap Taehyung pelan. "Kosong. Ngga ada yang tersisa kecuali, surat itu."

Nayeon menggeleng keras-keras. Masih tidak percaya dengan semuanya.

"Engga. Lo pasti bercanda. Gue mau ke rumah sakit sekarang." Ucap Nayeon sambil bangkit dari duduknya.

"Kak, tunggu." Cegah Taehyung. "Lo tau? Percuma lo dateng ke sana. Ngga akan ada siapa-siapa. Lo cuma buang-buang waktu lo, buat hal yang udah pasti kebenarannya."

Nayeon menatap Taehyung tajam. Tidak ada kata percuma jika itu menyangkut persahabatan mereka.

"Gue ngga peduli. Gue cuma mau mastiin. Sana sama Tzuyu ngga mungkin pergi, tanpa pamit ke gue. Ke kita." Ucap Nayeon tajam.

Taehyung menghela napas panjangnya. Nayeon bersikukuh untuk tetap ke rumah sakit. Bagi Taehyung, itu adalah hal yang sia-sia. Dia baru saja datang ke sana, dan hasilnya? Ruangan itu kosong. Tidak ada apapun selain surat itu.

"Kalo lo ngga mau ikut, biarin gue pergi sendiri. Lo ngga usah cegah gue."

Nayeon kembali melangkahkan kakinya keluar cafe. Taehyung tidak tahan lagi. Ditariknya tubuh Nayeon sedikit kasar, lalu dipeluknya erat. Seerat yang Ia bisa.

"Kak, mereka udah pergi. Percuma lo dateng ke rumah sakit. Surat itu udah jelasin semuanya. Meskipun gue ngga baca, tapi gue tau apa isinya."

Karena gue udah tau, hal ini pasti bakalan terjadi. Cepat atau lambat.

"Engga, Tae. Mereka ngga boleh pergi." Ucap Nayeon sambil membalas pelukan Taehyung. Menyalurkan segala kesedihannya.

"Gue juga ngga mau mereka pergi, tapi ngga ada jaminan Sana tetep baik-baik aja disini. Begitu juga kalian."

"Tapi– gue– kita–"

"Lo omongin baik-baik sama yang lainnya. Mereka juga berhak tau. Surat itu bukan cuma buat lo, tapi juga mereka."

"Anterin gue ke rumah Mina. Mereka ada disana sekarang."

Taehyung mengangguk singkat. Setelah pelukan mereka terlepas, keduanya langsung bergegas kerumah Mina. Bagaimanapun, sahabat Sana dan Tzuyu bukan hanya Nayeon, tapi mereka semua. Dan di surat itu tertera dengan jelas tulisan to our precious girls.

Nayeon mungkin tidak sadar, sedari tadi Seokjin memperhatikan semuanya. Ia hanya bisa menghela napas, begitu melihat Taehyung menarik Nayeon kedalam pelukannya.

Seokjin tidak boleh egois, meskipun tidak bisa dipungkiri kalau hatinya cemburu, tapi Taehyung sudah meminta izinnya untuk berbicara dengan Nayeon. Begitu pula dengan kemungkinan yang terjadi secara spontan, seperti pelukan itu. Taehyung sudah meminta izin kepadanya.

Jadi, Seokjin tidak berhak marah bukan?























— — — —

Tbc.

Our Life [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang