OL-Fourty Five

1.9K 223 26
                                        

"Om Kyu–"

"Kak Jihyo!"

Belum sempat Jihyo menyelesaikan kalimatnya, Tzuyu sudah lebih dulu memanggilnya. Berlari dengan cepat dan langsung menubrukkan badannya kearah Jihyo. Meninggalkan atensi Jihyo kepada Kyuhyun yang terburu-buru masuk kedalam Unit Gawat Darurat di depannya.

"Tzuyu, hei. Kenapa?" Tanya Jihyo sambil mengelus punggung Tzuyu pelan. Gadis itu terisak keras dipelukannya.

"Kak Mina fraktur? Terus yang kena tusuk itu siapa? Bukan Kak Sana kan? Please bilang ke gue kalo itu bukan Kak Sana."

Jihyo mengeratkan pelukannya, menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan.

"Sayangnya, itu beneran Kak Sana Tzu. Dia ditusuk sama cowok yang namanya Yunho, kalo ngga salah." Jawab Jihyo pelan.

Tzuyu melepaskan pelukan Jihyo, lalu terduduk lemas di kursi.

"Kak Nayeon?" Tanya Tzuyu pelan ketika tidak mendapati Nayeon ada disana.

"Kak Nayeon nungguin Kak Sana di depan ruang operasi."

"Gue marah Kak."

Jihyo memperhatikan wajah Tzuyu yang terlihat datar. Marah? Kepada siapa gadis itu marah?

"Ke apa dan ke siapa?"

"Mereka bertiga. Lo udah urus mereka?"

"Udah. Yunho sama Dongho ngga perlu dirawat dirumah sakit, mereka bakal dibawa ke kantor polisi secepatnya. Dan Seungyoon, dua tulang rusuknya patah akibat tendangan Mina, tapi setelah dia sadar nanti, dia bakalan nyusul kedua temennya di penjara. Gue jamin itu."

Tzuyu mengangguk. "Gue ngga mau mereka tidur nyenyak setelah semuanya."

Sedangkan, di depan ruang operasi, Nayeon hanya duduk terdiam sambil menatap kosong jaket milik Jihyo yang ada dipangkuannya. Warna jaket itu sudah berubah, hanya sebagian yang masih berwarna putih. Nayeon rasanya akan menangis lagi, tapi air matanya sudah mengering, hanya menyisakan bekasnya saja yang sudah tercampur dengan darah Sana di pipi nya. Nayeon menggenggam jaket itu erat, seakan-akan dia bisa menyalurkan emosinya untuk Sana kepada Yunho. Orang yang telah menusuknya.

"Lo..."

Nayeon menoleh, matanya membulat melihat orang itu berdiri di depannya sekarang.

"Ngapain lo disini?" Tanya Nayeon ketus.

"Gue abis jengukin temen gue–"

"Bukan itu, maksud gue ngapain lo berdiri di depan gue sekarang?"

"A–ah." Laki-laki itu menggaruk tengkuknya canggung. "Gue tadi ngga sengaja liat lo duduk sendirian disini, jadinya gue samperin."

Nayeon hanya diam. Tidak memberikan respon sama sekali.

"Boleh gue duduk?" Tunjuk laki-laki itu pada sebuah kursi kosong disebelah Nayeon.

"Pergi." Usir Nayeon ketus.

"Gue bakal pergi, tapi nanti."

Laki-laki itu memilih untuk tetap duduk disebelah Nayeon, mengeluarkan sebuah pack tisu basah berukuran sedang dari saku jaketnya.

"Lo–"

"Protesnya nanti aja, sini tangan lo gue bersihin." Ucap laki-laki itu sambil menarik kedua tangan Nayeon, menyimpan jaket milik Jihyo diatas pahanya.

"Kok bisa sih tangan lo penuh darah gini. Muka lo juga, tuh pipinya liatin. Udah kering gitu. Darah siapa sih? Sampe ada dibaju, dijaket, di mana-mana?"

Our Life [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang