Setelah mendapat omelan dan ceramah panjang lebar dari wali kelasnya karena bolos kemarin, Lembayung kembali duduk di tempatnya. Tyas dan Meitha sudah menghampirinya saat ini. Sedangkan Alisa tidak berubah, gadis itu memilih mendiamkan Lembayung sejak kemarin.
"Astaga, gue sendiri loh yang deg-degan pas lo diceramahin tadi! Tapi untungnya lo nggak dihukum sama beliau." Meitha bersungut heboh.
Lembayung hanya tersenyum.tipis dan kini memandang Tyas. "Lo liat apa sih, Tyas?"
"Alisa," jawab Tyas singkat tanpa menoleh pada Lembayung.
"Emang kenapa sama Alisa?", tanya Meitha.
Tyas menghembuskan napas jengah. "Sampai kapan dia mau bersikap menjauh kayak begitu? Dia nggak tau aja gimana perjuangan Lembayung supaya dia nggak diganggu sama Jovita cs."
"Yaudah, nggak papa. Dia butuh waktu. Gue mah selow," balas Lembayung santai.
Meitha nampak mengangguk-angguk. "Kali ini gue setuju sama Tyas. Alisa nggak bisa bersikap kekanak-kanakan kayak begitu! Karena kesalahan lo yang sekarang udah nggak mau lo lakuin, dia menjauh. Dia nggak bisa menjauh gitu, dong." Meitha malah ikut tersulut emosi.
"Udah, udah. Semuanya ada waktunya, kok. Nggak usah mikirin itu."
Bisa saja Lembayung bersikap tenang, bersikap tidak peduli dengan sikap Alisa yang seperti itu. Sayangnya, berkata dan berniat saja itu tidaklah mudah. Setiap kali melihat Alisa, tingkah gadis itu membuat Lembayung merasa tidak nyaman. Ditambah lagi Meitha dan Tyas, yang dulunya sering bersama Alisa malah menemaninya sekarang.
Sulit bagi Alisa menerima kenyataan jika ia memutuskan menjalin hubungan pertemanan dengan Lembayung. Hal itu tidak akan jadi tolak ukur jika Lembayung akan berbuat jahat di kemudian hari. Mengedepankan asumsi tanpa melihat dari sudut pandang lain membuat pemikiran seseorang bisa sangat buntu.
Lembayung rasa, Alisa mengalaminya saat sekarang ini.
Berbicara soal Alisa, pikiran Lembayung juga akhirnya ikut memikirkan Mehregan.
Lembayung memikirkan cara, bagaimana agar ia bisa mengerjai sekaligus membalas perbuatan kakak kelasnya itu? Mengingat bagaimana Mehregan berusaha membuatnya malu di sekolah.
Apalagi Nia memberi lampu hijau membalas orang-orang yang telah menganggunya.
Menghembuskan napas panjang, Lembayung memilih bangkit dari duduknya dan keluar kelas. Ia ingin bertemu Aldo, Kenny, dan juga Koko.
Kaki Lembayung melangkah dengan ringan.
Hingga, di pertengahan jalan ia tak sengaja melihat Mehregan tengah berjalan seorang diri.
"Wah, tuh dedemit akhirnya nongol juga! Enaknya gue apain, yah?" Telunjuk Lembayung mengetuk pelan dagu gadis itu. Matanya mengedar ke sekeliling, hingga matanya berbinar, saat melihat kaleng kosong berada tak jauh dari jangkauan kalinya.
Senyum licik Lembayung muncul. Gadis itu mengambil ancang-ancang agar bisa menendang kaleng kosong itu.
Satu, dua, tiga!
Tuk!
"Yesssss!" Lembayung bersorak dengan suara tertahan saat kaleng itu tepat mengenai pelipis Mehregan. Bahkan pemuda itu bahkan mengusap pelan pelipisnya yang begitu terasa sakit.
Lembayung bisa melihat jika Mehregan memunguti kaleng itu dengan wajah murka.
Dalam hati, Lembayung merasa bahagia.
Sembari tertawa pelan, Lembayung mendekati Mehregan yang nampak mengamati sekeliling, berharap pelaku yang membuat kaleng itu mengenainya bisa ia sembur dengan amarahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wonderlove
Teen FictionLembayung Kirana, pensiunan copet yang ingin membahagiakan ayah dan ibunya, mempunyai 3 sahabat, yaitu Koko, Aldo, dan Kenny yang juga sudah memutuskan untuk menjadi pensiunan copet. Suatu hari, Lembayung bertemu dengan Karnia Maheswagayatri, seoran...
