Lembayung langsung melepaskan tangan Mehregan dan menatap pemuda itu tajam. "Lo ngapain nyamperin Alisa? Lo mau nanya sama dia soal ucapan gue yang kemarin?"
"Iya, jelas! Gue nggak mau apapun soal mbak Nia ada yang ngeganjal. Kalau emang om Afno, papanya Alisa pelakunya, gue harus turun tangan buat nanya langsung ke dia."
"Iya, gue tau banget. Gue ngerti gimana sulitnya posisi lo sekarang yang khawatir sama keadaaan kakak lo. Tapi lo jangan langsung ngomong ke Alisa, semuanya butuh rencana, nggak bisa asal nuduh aja."
Lembayung mengusap kasar wajahnya, lalu duduk di bangku beton yang tak jauh darinya. Mehregan yang semula sedikit emosi lalu duduk disebelah Lembayung. Pemuda itu mendengus pelan. "Maaf."
Kepala Lembayung menghadap sempurna pada sosok Mehregan. "Kenapa minta maaf? Lo nggak salah, kok."
Pemuda itu tersenyum tipis. "Gue hampir aja salah ngambil tindakan. Untung lo buat gue sadar, kalau gue nggak boleh terlalu gegabah ngelakuin apapun itu, karena ini menyangkut soal mbak Nia."
Lembayung menggangguk pelan. "Sebenarnya, Pak Afno juga pernah nggak sengaja ketemu sama gue, sih. Terus dia nanya, kenapa gue sama Kenny bisa nyusup masuk rumahnya? Tapi untung gue nggak bilang apapun soal ini."
"Om Afno pernah ngomong gitu sama lo? Berarti dia sempat mergokin lo, dong."
"Mungkin. Tapi sebelum pergi, gue sama Kenny dengar suara keributan di dalam rumah pak Afno. Nggak tau deh penyebabnya apaan."
"Kok ini dunia kesannya sempit banget, yah?"
"Kenapa?", tanya Lembayung kemudian.
"Lo sadar nggak sih, kesannya semua ini tuh sulit gue percaya ini emang kebetulan atau emang sengaja di skenario. Kalau emang om Afno punya niat jahat sama kakak gue, gue nggak kebayang gimana pusingnya kepala gue. Soalnya, anak pak Afno, si Alisa, cewek yang gue suka, dan hubungan gue sama Alisa pasti bakalan tambah rusak. Itu kalau terbukti pak Afno mau jahat sama mbak Nia. Gue yakin, ini ada kaitannya sama urusan bisnis."
Wajah Lembayung tanpa sadar berubah. "Lo....masih suka sama Alisa, nggak?"
"Nggak semudah itu lupain cinta pertama. Kalau suka, masih, tapi cuma sedikit. Nggak gampang buat musnahin dia dari pikiran gue."
Pernyataan Mehregan membuat Lembayung jadi sedikit....sedih.
Nyatanya pemuda yang Lembayung akui sudah berhasil meluluhkan perasaannya itu masih mencintai gadis lain.
Lembayung jadi berpikir, selama ini ia telah bersikap tidak tahu diri. Mehregan pantas mendapatkan yang sepadan. Sedangkan dia? Berharap atau memikirkan menyukai lelaki seperti Mehregan adalah sebuah kesalahan.
Berusaha menormalkan ekspresi, Lembayung memilih bangkit dari duduknya dan siap beranjak pergi. "Yaudah, asal lo nggak kasih tau Alisa, rencana gue buat ngulik info soal pak Afno insya Allah bakalan lancar, kok. " Lembayung menghela napas. "Gue ke kelas duluan."
Gadis itu pun berlalu, menyisakan Mehregan yang kini terpaku dengan terus memandangi punggung mungil gadis itu. "Kok dia kelihatan sedih, yah?"
*****
Ibu bos: lo udah kasih tau ibu lo, kalau gue mau ketemu?
Lembayung langsung menepuk jidatnya pelan. Ia lupa memberi tahu Rosa jika Nia ingin bertemu.
Lembayung: maaf ibu bos, belum. Tapi ini udah mau dikasih tau kok, hehehe.
Lembayung segera ke dapur, dan menemui Rosa. "Bu, ibu!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Wonderlove
Ficção AdolescenteLembayung Kirana, pensiunan copet yang ingin membahagiakan ayah dan ibunya, mempunyai 3 sahabat, yaitu Koko, Aldo, dan Kenny yang juga sudah memutuskan untuk menjadi pensiunan copet. Suatu hari, Lembayung bertemu dengan Karnia Maheswagayatri, seoran...
