Hari Jumat ini, Lembayung dan ketiga temannya sudah mulai bekerja. Kenny dan Aldo sudah berjaga di depan rumah, sedangkan Koko tengah bersiap mengantar Nia ke rumah salah satu teman bisnisnya yang tengah mengadakan acara besar di kediamannya.
Disinilah Lembayung sekarang--, di kamar Nia. Gadis itu sibuk menyetrika dan mengelap sepatu Nia.
"Gimana?", tanya Nia yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Udah, ibu bos! Saya udah setrika dan bersihin sepatunya!"
Senyum Nia mengembang. "Bagus, bagus."
"Saya izin keluar, bu bos, mau ke belakang dulu."
Nia hanya mengangkat jempol guna merespon pertanyaan Lembayung.
Lembayung bahagia sekali, di hari pertama ia bekerja bersama dua, semuanya berjalan dengan sangat baik. Intinya, ia tak boleh melakukan kesalahan, semuanya harus tetap baik. Ini semua demi keberlangsungan hidupnya.
Tok, Tok, Tok!
Dahi Lembayung mengerut heran saat sayup-sayup ia dengar pintu rumah Nia diketik seseorang. "Apa Kenny sama Aldo nggak ada yah diluar?" Lembayung segera memukul pelan kepalanya sendiri. "Ya iyalah, mereka kan tugasnya jagain pagar di luar, harusnya gue dong yang bukain pintu!"
Dengan sigap Lembayung menuju ke arah pintu. Tamu diluar sana mungkin saja orang penting dan punya kepentingan bertemu dengan Nia.
Cklek!
Pintu rumah Nia sudah Lembayung buka.
"Wew, lo?!"
Lembayung berteriak cukup histeris, seperti telah melihat hantu di siang bolong ini.
Orang yang Lembayung kira orang yang sangat penting rupanya hanyalah sekadar tamu yang tidak ingin Lembayung sambut kedatangannya.
"Kenapa lo liatin gue begitu? Nggak seneng adek majikan lo berkunjung kesini?"
Kedua mata Lembayung serasa hampir melompat dari tempatnya. Berdehem kesal, Lembayung membiarkan Mehregan melangkah dengan wajah angkuh dihadapannya.
"Kalau bukan adek majikan gue udah gue tombak deh ginjalnya!"
Sayangnya, Lembayung hanya bisa mengatakannya dalam hati saja. Sebab, ia juga harus tahu diri. Ini bukan sekolah, ini di rumah Nia.
Berusaha tetap stay cool, Lembayung mendekati Mehregan. "Mau minum apa?"
Sumpah, Lembayung merasa sangat geli mengajukan pertanyaan itu pada Mehregan. Lembayung bahkan harus mewanti-wanti dirinya agar tetap bersikap sopan.
Mehregan bahkan sudah tersenyum setan sekarang. Pemuda bertubuh jangkung itu pun duduk dengan gaya angkuh di sofa. "Hmmm, gue mau lo biarin gue minuman paling enak! Gak pake lama!"
Ringisan kecil keluar dari mulut Lembayung. "Maaf, lo mau minum apa?"
Mehregan mendengus. "Dasar bolot! Gue maunya minuman yang enak!"
"Buset, dah! Ya iya lo maunya minuman apa? Teh, kopi, jus? Atau air comberan, air kobokan?"
"Ambilin aja! Yang enak!" Mehregan memerintah dengan gerakan mengusir.
Tak mau menatap wajah Mehregan lebih lama, Lembayung menuju ke dapur. Dengan setengah hati ia membuatkan jus jeruk untuk Mehregan.
Ditengah kekesalannya membuatkan minuman, tiba-tiba Lembayung serasa mendapat pencerahan alias ilham untuk memberi pelajaran pada Mehregan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wonderlove
Novela JuvenilLembayung Kirana, pensiunan copet yang ingin membahagiakan ayah dan ibunya, mempunyai 3 sahabat, yaitu Koko, Aldo, dan Kenny yang juga sudah memutuskan untuk menjadi pensiunan copet. Suatu hari, Lembayung bertemu dengan Karnia Maheswagayatri, seoran...
