Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

34. Pengakuan Lembayung

32 7 0
                                        

"Lo....ngapain kesini?", tanya Lembayung dengan mata membulat. Mehregan memasang wajah datar. "Suka-suka gue, lah!" Gadis itu menipiskan bibir, menahan amarah.

"Bayung, siapa nak?", teriakan Soni dari dalam rumah membuat Lembayung terkesiap. Berdehem sebentar lalu membahas perkataan sang ayah. "Bukan siapa-siapa kok, Yah."

Setelahnya, tidak ada respon lagi. Fokus Lembayung kembali pada Mehregan. "Mending lo pulang, deh!", usir Lembayung.

"Berani usir gue?", tanya Mehregan tersenyum miring. "Apa perlu gue ngaku sama orang tua lo kalau gue pacar lo?"

Mata Lembayung membulat sempurna.  Wajah gadis itu merah padam menahan marah. "Denger yah, jangan macam-macam..."

"Eh, ada tamu. Temannya Lembayung, yah?"

Untuk kali kedua Lembayung dibuat terkesiap karena Rosa dan Soni sudah ada di dekatnya.

"Selamat malam, Om, Tante," ujar Mehregan lalu meraih tangan Soni dan Rosa, menyalimnya.

"Malam," balas Soni dan Rosa bersamaan. Rosa menunjukkan wajah bahagia kala melihat Mehregan. Selain ketiga teman yang sering Lembayung ajak ke rumah, rupanya Lembayung sudah punya teman baru.

Lembayung yang menyaksikan tingkah Mehregan itu menganga tidak percaya . Pemuda itu melakukan pencitraan di depan kedua orang tuanya.

"Kok temannya nggak diajak masuk?", tanya Rosa lembut . Lembayung sendiri hanya melempar pelototan tajam pada Mehregan.

"Sudah, kasihan kalau teman Lembayung diluar. Ayo masuk, nak!", ajak Soni. Mehregan pun mengangguk sopan dan mengikuti Soni dan Rosa yang sudah melangkah lebih dulu.

Kepala Lembayung menggeleng tak habis pikir. "Ngapain juga ini orang kesini, sih?", gumam Lembayung. Pada akhirnya Lembayung pun mengikuti mereka.

Sekarang Mehregan sudah duduk bersama Rosa dan Soni di sofa tua di ruang tamu.

"Kamu temannya Bayung, yah?", tanya Soni ramah.

Lembayung mendengus keras-keras. "Bukan, dia bukan teman Bayung!"

Mehregan berusaha menampilkan senyumnya. "Iya, saya temannya. Dia kebetulan adik kelas saya."

"Dih, gue bukan teman lo, yah!", bentak Lembayung kesal, yang langsung diberikan tatapan penuh peringatan oleh Soni, gadis itu langsung diam sembari menggigit bibirnya.

Nampak Rosa yang sudah bangkit dan beranjak ke arah dapur . Lembayung hanya menatap Mehregan yang kini asyik mengobrol dengan Soni tanpa ada yang menghiraukan keberadaannya sama sekali.

"Lembayung, duduk!", kata Soni. Kepala Lembayung menggeleng enggan. "Nggak mau, Yah! Dia bukan teman Lembayung!"

Rosa yang kini sudah membawa nampan berisi gelas dengan teh hangat melirik Lembayung dengan wajah tak habis pikir. "Nggak boleh gitu sama teman, nggak baik." Rosa tersenyum lembut pada Mehregan. "Silahkan minum, nak. Oh iya, tante sama om sampai lupa nanyain namamu."

Mehregan tersenyum sopan. "Saya yang seharusnya memperkenalkan diri, om, tante. Nama saya Mehregan."

"Oalah, Mehregan. Sejak kapan berteman dengan Lembayung? Lembayung nggak kasar 'kan sama kamu?" Kini Soni bertanya dengan senyum geli, membuat Lembayung makin keki.

"Saya kenal Lembayung sebelum masuk sekolah. Dia juga pernah ketemu sama mama saya," kata Mehregan dengan senyum miring menyebalkannya. Mau tidak mau, kejadian awal mula ia bertemu Mehregan kembali berputar di kepalanya. Saat ia, hampir saja mencuri dompet mama Mehregan, dan hampir pula berakhir menjadi tahanan di kantor polisi.

Mengingatnya saja Lembayung dibuat meringis.

"Oh, iya?", tanya Rosa antusias.

"Iya, tante."

Tak tahan lagi melihat Mehregan di rumahnya, Lembayung pun pada akhirnya melontarkan kalimat guna mengusir Mehregan. "Ngapain juga sih lo perlu kesini? Temenan sama lo aja nggak!"

"Astaga, Bayung!", tegur Rosa dengan wajah kaget.

Mehregan malah tersenyum kecil. "Nggak papa kok, tante. Mungkin Lembayung masih marah."

Rosa mengerutkan kening. "Marah? Kenapa?"

Lirikan yang Mehregan beri padanya membuat Lembayung menahan napas. Habis ia malam ini. Pasti pemuda menyebalkan itu akan memberitahu orang tuanya jika ia pernah menjadi tahanan polisi karena hampir mencuri dompet ibunya Mehregan.

"Bayung pernah hampir jadi tahanan polisi karena mau nyuri dompet mamanya Mehregan, Yah, Bu."

Berbalik, Mehregan yang kini terkejut atas pengakuan gadis itu pada kedua orang tuanya. Apakah gadis itu berpikir jika ia akan mengadukan semuanya pada Soni dan Rosa?

Soni dan Rosa sangat terkejut dengan pernyataan Lembayung itu. Lembayung berulang kali menghela napas, berusaha bersikap tidak peduli.

"Iya, Lembayung memang melakukan semua itu, dan Lembayung marah sama Mehregan. " Lembayung berujar dan kini malah tersenyum sinis. "Tapi, Lembayung sempat marah karena dia usilin Bayung di sekolah. Neriakin Lembayung dengan kata 'maling, pencuri', mempermalukan Lembayung di depan satu sekolah, bahkan tiga sahabat Lembayung juga dia gangguin dulu."

Mehregan mati kutu sekarang. Sama sekali ia tak ingin mengatakan apapun pada kedua orang tua gadis itu. Tetapi, malah Lembayung yang membeberkan segalanya. Gadis itu rupanya sudah salah paham terhadapnya.

Berusaha memberanikan diri, Mehregan menatap Soni dan Rosa secara bergantian. "Ucapan Lembayung benar, Om, Tante. Beberapa waktu yang lalu, saya memang sering sekali menghina Lembayung. Itu semua atas dasar karena emosi saya, saat itu saya tidak terima jika Lembayung dibebaskan sama mama saya. Ditambah lagi, Lembayung bekerja di rumah kakak saya."

Lagi, Rosa dan Soni terkejut. Pengakuan kedua anak itu berhasil membuat pusing kepala mereka.

***

Setelah meminta izin kepada Rosa dan Soni, akhirnya Mehregan bisa membawa Lembayung ikut bersamanya.

"Mau lo apa sih, hah?!", tanya Lembayung saat mereka baru sampai di depan taman kota yang tak jauh dari rumah Lembayung.

"Gue sengaja minta alamat lo ke Kenny, gue mau ngomong penting sama lo. Soal mbak Nia."

Tubuh Lembayung menegak seketika. Ia menatap Mehregan, berusaha meminta penjelasan. "Soal pemilik mobil hitam misterius itu?"

Kepala Mehregan menggeleng pelan. "Bukan, ini masalah lain." Pemuda itu memperhatikan sekeliling. "Gue mau makan sate, beliin."

Sebelah alis Lembayung terangkat. "Gue bukan babu lo. Ini diluar jam kerja. Nggak usah songong. Lagian gue nggak ada duit."

"Gue nggak semiskin itu nyuruh lo bayarin gue. Ini uang, beli dua porsi."

Dengan ogah Lembayung menerima uang pemberian Mehregan. "Rakus bener makan dua porsi."

Gadis itu pun berlalu dan membeli dua porsi sate pesanan Mehregan. Tak butuh waktu lama gadis itu pun akhirnya sudah menenteng kantung berisikan dua porsi sate ayam.

"Ini, makan!", kata Lembayung menyerahkan bungkusan itu pada Mehregan, lalu duduk di samping pemuda itu. Pandangan gadis itu nampak tajam dan lurus. Sepertinya gadis itu benar-benar tengah berpikir keras.

"Ini, makan."
Sedikit terkejut saat Mehregan menyerahkan seporsi sate itu kepadanya. Tak langsung diambil, ia memilih memerhatikannya.

"Udah, makan aja."

Dengan senyum tipis, Lembayung menerimanya. "Makasih." Gadis itu berujar singkat. Keduanya kini diam, sama-sama menikmati sate itu dengan pandangan berpencar.

"Gue harap, setelah lo selesai makan, lo fokus dengerin gue, dan nanti gue mikirin alasan yang buat mbak Nia jadi begitu aneh."

***

Hai, terima kasih sudah mampir ke cerita Mehregan dan Lembayung

Jangan lupa vote dan komentarnya

Salam hangat,
Dhelsaarora

WonderloveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang