Mehregan mengusap wajahnya frustasi. Ini adalah patah hati pertamanya. Alisa menolaknya, dengan alasan gadis itu mencintai pemuda lain. "Gue penasaran, siapa cowok yang Alisa suka?"
Duduk sendirian di taman belakang sekolah membuat Mehregan merasa makin mengenaskan saja. Bagaimana tidak, ia baru saja ditolak gadis yang ia suka, dan terlebih lagi pujaan hatinya itu malah menyukai pemuda lain.
"Yaudah, sih! Nggak usah sedih begitu. Lo kan nggak tau takdir dan kisah cinta lo sendiri."
Mehregan tersentak dan membulatkan mata saat Lembayung, berujar dengan nada enteng dihadapannya. Terlebih, gadis itu tak datang sendiri. Meitha, Aldo, Koko dan Kenny pun ada bersamanya.
"Kalian ngikutin gue?!", bentak Mehregan dengan pandangan nyalang.
Aldo, Koko, dan Kenny meringis mendengar ucapan Mehregan. Meitha bahkan bersembunyi dibelakang Lembayung karena bentakan Mehregan itu. Hanya Lembayung yang berani melawan Mehregan.
"Bisa selow aja? Mau tuh leher gue patahin?!", bentak Lembayung balik. Koko, Aldo, dan Kenny kontan melotot.
"Bayung, nggak boleh bentak-bentak mas bos!", peringat Kenny.
"Iya, lo sopan dikit, dong! Dia kan adek majikan kita, ibu bos!", omel Aldo.
Koko pun hanya mengangguki ucapan kedua pemuda itu, hingga Lembayung nampak jengah. "Gue tau, gue tau. Tapi 'kan, yang gaji gue ibu bos, jadi gue nggak ada kewajiban buat bersikap manis sama si curut satu ini," balas Lembayung enteng, menambah emosi Mehregan.
"Mending lo pergi aja, deh! Bikin kesel orang aja," kata Mehregan mendorong kasar pundak Lembayung, hingga gadis itu terhuyung beberapa langkah ke belakang. Untung saja Meitha bisa menahan tangan Lembayung, agar gadis itu tidak jatuh.
Mulanya Meitha bersembunyi dibelakang Lembayung, tapi gadis itu tidak terima Lembayung diperlakukan kasar oleh Mehregan. "Aku jadi ngerti kenapa Alisa sampai nolak kakak. Kakak kasar dan juga arogan!", sungut Meitha dengan pandangan sangat kesal.
"Apa lo bilang?!" Mehregan maju satu langkah dan siap mendekat ke arah Meitha. Tapi Lembayung mencegahnya. "Lo kasarin Meitha, gue buat pesek hidung lo!"
Mehregan mengerang kesal. Mehregan memilih duduk dan menutup wajahnya.
Lembayung pun maju dan berdiri dihadapan Mehregan. "Lo harusnya bangkit, jangan terpuruk cuma karena penolakan Alisa."
"Lembayung....," ujar Meitha, Aldo, Kenny, dan Koko hampir bersamaan. Tapi Lembayung memberi kode agar keempat orang itu diam. Sementara Mehregan masih menutup wajahnya, sepertinya pemuda itu benar-benar terguncang karena penolakan Alisa.
"Lo laki atau bukan, sih? Ditolak sekali serasa lo udah ditolak ribuan kali aja," celetuk Lembayung. Kalo ini Mehregan tak lagi menutup wajahnya. Pandangannya menajam ke arah Lembayung. Ini yang Lembayung tunggu, sepertinya Mehregan mulai terpancing.
"Lo tau apa tentang cinta?! Selama ini lo cuma tau curi barang milik orang lain!", kata Mehregan berharap bisa membuat Lembayung sakit hati. Dan juga, gadis itu akan berhenti mengoceh.
Diluar dugaan, Lembayung tersenyum miring dan menatap Mehregan dengan sorot menantang. "Oke, gue akui dulunya gue emang...seorang maling. Tapi, bukan berarti gue nggak tau tentang cinta, 'kan? Gue punya orang tua yang saling mencintai. Gue belajar banyak dari mereka. Jangan biasain diri lo buat berpikir pendek! Orang yang dulunya maling nggak bakalan selamanya jadi orang yang jahat. Lo yang merasa nggak pernah berbuat jahat kudu introspeksi diri, jangan-jangan Alisa nolak lo bukan cuma karena dia suka sama orang lain, tapi ada kelakuan lo yang buat dia nggak suka lagi dekat sama lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Wonderlove
Teen FictionLembayung Kirana, pensiunan copet yang ingin membahagiakan ayah dan ibunya, mempunyai 3 sahabat, yaitu Koko, Aldo, dan Kenny yang juga sudah memutuskan untuk menjadi pensiunan copet. Suatu hari, Lembayung bertemu dengan Karnia Maheswagayatri, seoran...
