Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

11. Pembicaraan Rahasia

44 6 2
                                        




Tawa Mehregan tak henti terdengar kala pemuda itu berjalan memasuki rumah. Ia meletakkan tasnya di sofa lalu duduk disana.

Naya yang melihat Mehregan tertawa seperti itu mengerutkan kening. "Kamu ini kenapa, sih?"

Mehregan masih sisa tawanya langsung memeluk Naya. "Selamat siang mamaku tersayang. Makin gemesin aja," kata Mehregan.

Kepala Naya menggeleng tidak mengerti. Ia lalu duduk disebelah Mehregan.

"Ceritain sama mama, kenapa kamu ketawa kayak gitu," ujar Naya lalu mengusap kepala Mehregan.

Mehregan nampak menggigit bibir bawahnya. Haruskah ia ceritakan?

Sepertinya, ia harus ceritakan pada mamanya.

"Tadi Regan habis ngerjain orang yang Regan benci banget."

Pengakuan Mehregan membuat mata Naya melotot. "Kamu kerjain bagaimana, sih?"

Mehregan menaik-turunkan alisnya. "Tadi...Regan lemparin es krim ke dia, Ma. Mama nggak liat aja ekspresinya. Lucu banget, Ma."

"Astaga...cewek atau cowok kamu gituin? Nggak baik nak memperlakukan orang kayak begitu," ujar Naya. Ia tak mau anaknya senang menyusahkan orang lain.

Mehregan tersenyum sinis. "Memang dia pantas dapetin itu kok, Ma. Mama mau tau siapa yang Regan kerjain? Dia itu, cewek bar-bar yang mama bebasin dari hukuman penjara tempo hari, padahal terbukti dia mau nyopet mama."

Lagi-lagi, Naya terkejut. "Kok kamu bersikap seperti itu, nak? Dia kan perempuan, nak.  Ndak boleh kasar sama perempuan!"

Mehregan terdiam. Tapi bukan berarti dia menyesali perbuatannya. Ia malah akan membuat gadis itu lebih malu lagi, bila perlu tidak lagi bersekolah.

"Si Regan emang kelakuannya setan, Ma! Cewek aja masih digangguin."

Kakak perempuan Mehregan, Nia, datang dengan senyum mengejeknya.

"Mbak nggak ngomong kasar sama adeknya," peringat Naya.

Nia hanya menaikkan bahu cuek. Menjahili Mehregan sudah menjadi rutinitas penting bagi Nia.

"Tau tuh, Ma! Mbak ngomongnya selalu kasar sama Regan," adu Mehregan pada mamanya.

Nia mendecih. "Jijik gue liat muka lo sok diimut-imutin kayak gitu. Kayak gue mau lempar jumroh biar setan di badan lo pada hilang semua."

"Nia....," peringat Naya. Nia meringis lalu terdiam.

Ketika mereka bertiga sibuk duduk dan berbicara bersama, perhatian mereka teralih ke arah pintu.

Senyum ketiganya langsung berkembang saat melihat sosok paruh baya itu memasuki rumah dengan senyum seperti biasanya.

"Papa!", teriak Mehregan dan Nia bersamaan. Mereka pun berlari dan berebut memeluk papa mereka, Mahendra Bramantyo.

"Papa senang ketemu kalian lagi. Papa pergi kerjanya cuma sebulan tapi kayak setahun rasanya," kata Mahendra mencium puncak kepala anaknya secara bergantian.

"Papa bawa oleh-oleh, nggak?", tanya Nia dengan tangan menengadah ke arah Mahendra.

Mehregan langsung mencibir Nia. "Heu, hadiah mulu di kepala lo, mbak. Papa pulang dengan selamat aja gue udah sukur."

Naya mendekat ke arah mereka. "Nah, contoh tuh adekmu."

Nia mengangguk pelan. "Iya, Ma."

Mehregan menjulurkan lidah, mengejek Nia.

WonderloveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang