Naya dan Mahendra memutuskan untuk keluar dari kamar Nia, menyisakan Mehregan dan Nia yang kini saling terdiam. Mehregan memilih diam, karena ia ingin mendengar ucapan dan cerita dari Nia sendiri.
"Lo marah sama gue?", tanya Nia dengan nada suara tertahan.
Mehregan memberingsut hidungnya. Ia memalingkan wajah. Tidak, ia sama sekali tak marah pada Nia. Hanya saja, ia tak kuasa memandang wajah kakaknya itu. Ada beribu luka yang bisa Mehregan rasakan kala melihat wajah sang kakak.
Mehregan tak mau sakit hati.
"Gue....memang bukan perempuan yang baik, Regan. Di usia muda gue hamil diluar nikah, dan bodohnya gue membuang anak kandung gue sendiri. Kurang jahat apa lagi gue?" Nia terkekeh miris. Mehregan merasakan matanya mulai memanas. Ia ingin membalas ucapan Nia, tapi ia tak bisa melakukannya.
"Lo nggak jahat, mbak."
Nia memokuskan pandangan pada Mehregan yang saat itu menatap lantai dengan perasaan yang begitu berkecamuk.
"Kesalahan lo cuma satu, mbak. Lo menganggap diri lo jahat, dan karena itu lo menjadikan diri lo semakin buruk." Mehregan mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap tajam kakaknya. "Gue tau, sekarang lo merasa bersalah karena membuang anak kandung lo sendiri. Salam hati kecil lo, perasaan kasih sayang seorang ibu pastinya bangkit, mbak."
Nia memilih diam, membiarkan adik laki-lakinya berbicara ." Nggak seharusnya gue menghakimi lo, mbak. Gue nggak lebih baik dari lo." Mehregan beralih menepuk pelan pundak Nia. "Tapi, lo pasti akan jauh lebih baik setelah ini. Lo mau 'kan nyari anak kandung lo? Lo mau kan bawa keponakan gue kembali?"
Setelahnya Nia menangis dengan sangat keras, hingga Mehregan mendekap tubuh kakaknya itu. "Iya....bantu gue ketemu sama anak gue...."
"Pasti, mbak. Pasti gue bantu."
***
"Loh, Lembayung? Kamu nggak ke sekolah, nak?"
Lembayung berbalik saat Rosa mendekatinya tak memakai seragam sekolah. Gadis itu tersenyum kecil. "Nggak, Bu. Mulai sekarang, Lembayung nggak bakalan ke sekolah lagi. Lembayung mau berhenti sekolah."
Rosa terkejut mendengar ucapan anaknya itu. Ia perlahan mendekat. "Tapi...kenapa, nak?"
Lembayung tak langsung menjawab pertanyaan Rosa. Gadis itu lalu memakai topi usang kesayangannya, memperbaiki posisi topi itu agar nyaman dikenakan. "Mulai sekarang, Bayung bakalan fokus bekerja. Cari uang yang banyak, buat ibu sama ayah." Lembayung memegang kedua pundak Rosa. "Doain Lembayung, Bu, semoga Lembayung kerja dengan benar, tetap jadi anak yang baik, nggak bikin ayah sama ibu malu lagi."
"Apa kamu serius mau berhenti sekolah? Pendidikan itu penting, nak. Dengan berpendidikan kamu tidak akan jadi orang susah, kayak ibu sama bapakmu ini."
"Bayung tau kok, Bu. Tapi, dibandingkan mendongkrak nasib Bayung sendiri, lebih baik Bayung menjadikan kalian prioritas. Semua sudah diatur sama Allah, Bu. Kalaupun Bayung memang ditakdirkan bersekolah, mau sekeras apapun Bayung menghindar pasti Bayung akan tetap mendapat pendidikan. Tapi, untuk saat ini Bayung tidak mau membebani diri Bayung sendiri, Bu." Gadis itu menghela napas. "Bayung masuk sekolah karena bantuan majikan Bayung, dan Bayung sekarang tidak ada hak menikmati semua itu. Sekalipun dapat beasiswa, lagi-lagi itu karena bantuan majikan Bayung."
Rosa terdiam. Anaknya ini kadang kala punya pemikiran yang seharusnya belum dimiliki anak seusianya. Anaknya ini harusnya belajar, bukannya memikirkan tanggung jawab yang seharusnya bisa dipikirkan nanti.
Andai saja hari itu ia tidak bersikap sombong, mungkin saja anaknya ini bisa hidup senang sekarang.
Tapi, Rosa bingung mengorbankan salah satunya, wanita itu bingung.
Setelah terlalu lama berkubang dalam lumpur dosa, akhirnya Rosa bisa bangkit dan menata hati. Lembayung, anak perempuannya ini memang sangat keras, pembangkang, dan juga meledak-ledak. Tapi karena sifat tegas Lembayung, Rosa bisa menjadi lebih baik dari dirinya yang dulu.
Karena Lembayung, Rosa bisa memberi kasih sayang. Walaupun Soni, sahabat masa kecilnya, selalu mewanti-wanita Rosa sejak dulu untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai wanita penghibur, hal itu tentu saja belum sepenuhnya membuat Rosa berhenti. Hingga anaknya itu maju dan menantangnya, Rosa sadar, jika ia harus jadi teladan bagi Lembayung. Walau itu, ia harus memulai dari awal.
"Ibu."
Rosa kembali sadar, Lembayung menatapnya dengan sorot teduh kini.
"Lembayung mau kerja dulu, doain yah."
***
Berkali-kali Lembayung menyeka keringat di wajahnya. Suhu udara sangat panas sekarang. Handuk kecil yang tersampir di pundak Lembayung sudah mulai basah karena dipakai menyeka peluh yang berjatuhan.
"Ya, mundur sedikit lagi, ya lagi, stop!"
Lembayung dengan sumpritan yang ia tiup beberapa kali membantu para pengemudi memarkirkan kendaraan di dekat pusat perbelanjaan.
"Ini mbak uangnya," kata seorang pengemudi menyerahkan pecahan uang duaribuan kepada Lembayung, yang diterima gadis itu dengan suka cita.
"Makasih, pak!"
Tanpa henti dan dengan begitu sabar Lembayung terus membantu pengemudi memarkirkan kendaraan. Tak peduli panas terik, penat, dan lelah, tak akan jadi masalah. Membayangkan saat pulang ia membawa uang, walau tak seberapa, sebagai hadiah kecil untuk orang tuanya.
"Bayung?"
Lembayung berbalik badan dan mendapati Kenny dengan wajah terkejut disana. "Eh, lo, udah pulang sekolah? Atau mau nongkrong?", tanya Lembayung riang.
"Kenapa lo nggak ke sekolah? Meitha, Tyas, Alisa, bahkan mas bos nyariin lo!", kata Kenny.
Lembayung menghela napas. "Ken, lo nggak lupa 'kan sama kejadian beberapa hari yang lalu?"
Kenny menganggukkan kepala. "Iya, gue sama sekali nggak lupa. Tapi, ini cara lo menghindar?"
Lembayung malah berdecak. "Lo tau gue mau maling di rumah Ibu Bos, ya jelaslah gue menghindar. Daripada gue masuk penjara, mending gue jauh-jauh aja."
"Apa lo pikir gue nggak tau apa-apa? Mas bos sudah ceritain semuanya ke gue. Lo nggak salah. Lo masuk kamar ibu Bos bukan karena mau maling, tapi mas bos yang suruh, karena dia mau ambil sesuatu dari sana."
Lembayung memilih bungkam. Kenny kembali melanjutkan ucapannya. "Kenapa lo nggak ngomong sama ibu bos? Lo nggak salah, kenapa lo harus bertingkah seakan-akan lo memang salah?"
"Gue...lebih enak hidup kayak gini aja. Gue emangnya lebih cocok buat kerja di jalanan, bukan belajar. Gue hidup dari keluarga yang sederhana sejak gue dilahirkan. Mungkin kondisi kayak gini yang paling sesuai sama gue."
Gadis itu tersenyum lebar. "Gue beda sama lo. Lo orang yang berhak belajar, lo pintar, lo baik. Pesan gue, jangan ngelakuin hal buruk lagi kayak dulu. Gue lebih suka Kenny kayak gini. Keren pake baju sekolah, keren jadi Kenny yang pinter." Tangan Lembayung menepuk pelan pundak Kenny. "Lo harapan emak bapak lo sekarang, jangan pernah sia-siain peluang buat hidup lebih baik."
Lembayung memperhatikan sekelilingnya, depan pusat perbelanjaan jauh lebih ramai dibandingkan tadi. "Udah, lo pulang aja, istirahat. Gue mau kerja dulu."
Langkah kaki Lembayung mengayun, lalu bergerak meninggalkan Kenny yang menatap gadis itu dengan tatapan sendu.
*****
Hai, terima kasih sudah mampir ke cerita Mehregan dan Lembayung
Jangan lupa vote dan komentarnya
Salam hangat,
Dhelsaarora
KAMU SEDANG MEMBACA
Wonderlove
Ficção AdolescenteLembayung Kirana, pensiunan copet yang ingin membahagiakan ayah dan ibunya, mempunyai 3 sahabat, yaitu Koko, Aldo, dan Kenny yang juga sudah memutuskan untuk menjadi pensiunan copet. Suatu hari, Lembayung bertemu dengan Karnia Maheswagayatri, seoran...
