Lembayung menatap Afno cukup lama, lalu setelahnya gadis itu sudah memberi tatapan tajam. Gadis itu bersedekap. Wajahnya seolah menunjukkan ekspresi menantang pada pria dihadapannya itu.
"Mohon maaf, pak, ada amanah yang harus saya jaga." Lembayung mendengus. "Kalaupun saya ingin bertemu adik bapak, yang tidak lain dan tidak bukan adalah ayah saya, saya bisa cari cara lain."
Afno, pria itu terdiam. Ia kagum pada keberanian gadis dihadapannya itu. Tapi sungguh ia penasaran , mengapa Lembayung berani menyusup masuk ke dalam rumahnya.
"Soni sudah mengatakan pada saya, jika dia bukan ayah kandungmu."
Afno berusaha memancing gadis ini, dan ia bisa lihat kedua tangan Lembayung terkepal kuat.
"Memangnya kenapa jika ayah Soni bukan ayah kandung saya? Hubungan atas dasar belas kasih tidak perlu disangkut kaitkan dengan hubungan darah."
Afno terkejut. Lembayung ini sungguh keras kepala. Tak sedikitpun informasi yang berhasil ia dapatkan dari gadis ini.
"Maaf, pak. Jika bapak sudah tidak ingin mengatakan apapun, atau menyampaikan informasi apapun tentang ayah Soni, saya izin pamit."
Lembayung memilih bertahan dan berlaku dengan sikap keras kepalanya. Ia tak mau membuang waktu. Hatinya sudah kacau, jangan tambah lagi pikirannya yang ikut berantakan.
***
Lembayung menghembuskan napas panjang beberapa kali. Ia takut bertemu Rosa, lebih tepatnya ia takut melihat kesedihan dan juga tatapan sendu Rosa.
Berusaha melawan ketakutannya, Lembayung memilih masuk. Gadis itu lalu duduk di sofa usang rumahnya. Kepalanya mendongak keatas. Matanya terpejam sejenak.
"Habis darimana kamu?"
Lembayung perlahan membuka kedua matanya. Ia menegakkan tubuh. Mata sendunya melirik Rosa.
"Habis nyari kebenaran soal ayahku, Bu."
Rosa nampak membulatkan mata, lalu berjalan mendekati Lembayung. "Sudah ibu bilang, jangan lagi cari tau soal ayahmu!"
Lembayung lalu bangkit berdiri. "Ternyata kebenaran soal ayah nggak sesederhana yang Lembayung pikirin, Bu. Permasalahan ini terlalu rumit buat Lembayung pahami."
"Apa yang kamu ketahui soal ayahmu?", tanya Rosa dengan mata memicing.
"Yang Bayung ketahui? Ternyata, ayah Soni adalah adik kandung Pak Afno, pengusaha sukses yang pernah Lembayung tolong waktu itu."
Wajah Rosa mendadak pias dan mulai memucat. "Ka...kamu ketemu sama kak Afno?"
Kepala Lembayung mengangguk. Ia tak perlu mempertanyakan apapun, termasuk mengapa Rosa tahu siapa Afno. Rosa dan Soni, adalah sahabat sejak mereka masih kecil.
Itu salah satu kebenaran yang sudah Lembayung ketahui sejak dulu.
"Bu? Apa Pak Afno itu jahat?", tanya Lembayung berusaha menggali informasi.
Rosa duduk di sofa , ia mengurut pelan pelipisnya yang terasa berdenyut. "Kak Afno itu...bukan orang yang jahat, Lembayung. Dia orang yang sangat baik."
Kening Lembayung berkerut. "Tapi, kenapa ibu mendadak pucat, pas Bayung bahas soal ayah dan pak Afno?"
Rosa menunduk sejenak, lalu menepuk pelan sofa disebelahnya. "Ayo, duduk sama ibu! Ini mungkin sudah saatnya ibu mengatakan hal yang ibu rasa, sudah siap kamu pahami. Ibu tidak mau lagi menyembunyikan apapun dari anak ibu."
Lembayung perlahan mendekat, lalu duduk disebelah Ibunya itu.
"Sejak kecil, ayah sama ibu sudah bersahabat. Ayah kamu yang berasal dari keluarga kaya, dan ibu yang memang terlahir jadi gadis miskin. Banyak orang yang mengejek persahabatan diantara kami." Rosa menatap Lembayung dengan senyum tipis, lalu setelahnya wanita itu kembali melanjutkan ceritanya. "Hingga pada waktu itu, ibu akhirnya berhenti sekolah selepas tamat SMP, karena orang tua ibu tidak sanggup lagi membayar uang sekolah ibu. Saat itu, ayahmu sering mendatangi ibu, membujuk ibu untuk sekolah, rela-rela mencarikan beasiswa untuk ibu. Tapi sayangnya, semua usaha ayahmu sia-sia. Papa kandung Soni, yang punya kuasa dan banyak harta berhasil membuat ibu tidak diterima di sekolah manapun. Hingga pada akhirnya, Soni yang merasa bersalah kembali mendatangi ibu. Di usia kami yang masih muda saat itu, Soni mengatakan jika dia sangat mencintai Ibu, dan kami tanpa sepengetahuan siapapun kami mengikat komitmen, dan Soni meminta agar ibu menunggunya hingga lulus kuliah." Rosa terlihat sedih mengatakan hal itu pada Lembayung, walau pada akhirnya dia kembali menceritakan kisahnya. "Ibu tetap menunggu Soni, dengan harapan kami bisa bersatu. Tapi, waktu itu, ibu kandung ibu, sudah mulai sakit-sakitan sejak ayah ibu meninggal. Ibu bingung , tidak tahu harus berbuat apa. Hingga pada akhirnya, penyakit ibu kandung ibu semakin parah. Hingga bantuan itu datang, yang sumbernya berasal dari orang tua Soni. Mereka siap memberikan berapapun uang yang ibu inginkan, tapi syaratnya ibu harus meninggalkan Soni. Tentu saja Ibu menolak, ibu sangat mencintai Soni. Tapi sayangnya, karena cinta buta itulah kehidupan ibu berubah total. Ibu yang setia menunggu Soni, pada akhirnya berakhir sia-sia. Ibu kandung ibu, meninggal dunia, karena penyakitnya tak segera ditangani. Dan ibu mendengar kabar, jika Soni telah ditunangkan dengan Aline."
Tak bisa dipungkiri jika Lembayung sangat shock sekarang. Ia tak menyangka semua ini begitu sulit dan rumit dari perkiraan sebelumnya.
"Tidak sampai disitu. Lagi-lagi, Soni mendatangi Ibu, dan meminta maaf. Awalnya ibu tidak mau, tapi dia bahkan sudah membawakan mahar pernikahan, dan siap menikahi ibu. Dengan bantuan kak Afno, Soni dan Ibu berhasil bersembunyi dari orang tua mereka, dan tentunya Aline yang ternyata sudah begitu cinta pada Soni. Tapi namanya nasib tidak ada yang tahu, nak. Kami memang tidak ditakdirkan berjodoh. Kak Afno yang saat itu sudah setengah mati membantu agar kami bisa bersama nyatanya gagal. Ayahmu dipaksa menikahi Aline. Saat itu, ayahmu tentu saja melarikan diri, dan karena perbuatannya itulah kak Afno yang harus menikahi Aline, padahal saat itu Kak Afno juga terkena masalah. Dan, keduanya menikah. Sedangkan ayahmu, kembali kepada Ibu. Meskipun saat itu dia tahu ibu bekerja sebagai wanita penghibur sebagai pelampiasan keputusasaan ibu, dia tetap menerima ibu. Tapi ibu tidak menerima lamarannya, karena ibu sudah terlalu malu."
Dada Lembayung makin sesak saja. Ternyata, Aline yang merupakan sosok yang sempat berbuat kacau di rumahnya, adalah mantan tunangan ayahnya, dan kini menjadi istri Afno, dan merupakan ibu kandung Alisa, temannya sendiri.
"Astaga, ya Allah, kenapa...bisa seperti ini....." Lembayung memegangi kepalanya yang serasa mau meledak.
"Ada apa, nak?", tanya Rosa dengan suara serak.
"Perempuan bernama Aline, yang merupakan istri pak Afno, dia mama kandung Alisa, bu.Teman baik Lembayung."
"Astaga...," gumam Rosa frustasi. "Kenapa dunia bisa sesempit ini?"
Lembayung langsung memeluk Rosa dan menangis di pangkuan ibunya dengan isakan yang keras. "Bu..., Lembayung nggak sanggup ngejalanin ini, Bu. Lembayung capek, Lembayung sakit hati..."
"Kenapa kita harus mengalami ini, Bu? Apa ini hukuman buat kita?"
Rosa hanya bisa diam dengan air mata ikut membasahi pipi. Tangannya hanya bisa mengusap kepala anaknya dengan perasaan sedih tertahan.
****
Hai, terima kasih sudah mampir ke cerita Mehregan dan Lembayung
Jangan lupa vote dan komentarnya
Salam hangat,
Dhelsaarora
KAMU SEDANG MEMBACA
Wonderlove
Novela JuvenilLembayung Kirana, pensiunan copet yang ingin membahagiakan ayah dan ibunya, mempunyai 3 sahabat, yaitu Koko, Aldo, dan Kenny yang juga sudah memutuskan untuk menjadi pensiunan copet. Suatu hari, Lembayung bertemu dengan Karnia Maheswagayatri, seoran...
