Lembayung dan Mehregan berdiri saling berhadapan kini. Mehregan menatap tajam Lembayung. "Kenapa lo nggak biarin gue nyeret om Afno langsung ke mbak Nia?!"
Gadis itu menghela napas, sedangkan Aldo, Kenny, dan Koko hanya diam menyimak situasi ini. "Bisa nggak lo sabaran dikit? Lo sendiri yang bilang Ibu Bos beneran terguncang karena masa lalunya ini. Yang ada, bukannya membaik ibu bos bakalan lebih terpuruk. Ditambah lagi anak kandungnya belum ditemuin."
Mehregan berteriak frustasi. Pemuda itu lalu duduk dengan wajah kesalnya.
Kepala Lembayung menggeleng pelan. Gadis itu lalu menyodorkan sebotol air mineral yang dibelinya tadi. "Minum, biar emosi lo nggak nyampe ubun-ubun."
Mehregan mendengus pelan. Ia lalu menerima air mineral yang diberikan Lembayung. Pemuda itu meneguk hingga setengah botol.
"Jadi, sekarang gimana?", tanya Koko pada semua yang ada disana.
"Kalau boleh kasih saran, mending kita kembali susun rencana, deh. Terus, sebelum Pak Afno sama Ibu bos ketemu, video tadi perlu kita kasih liat ibu bos dulu, biar nggak kaget." Aldo menyuarakan pendapatnya.
"Iya, gue setuju banget kalau begitu. Mas bos, gimana?", tanya Kenny pada Mehregan.
Setelah amarah pemuda itu mereda, pemuda itu menganggukkan kepala. "Gue setuju."
Senyum Lembayung merekah sempurna. Harapannya, semoga Nia kembali menemukan bahagianya.
***
Lembayung kini memakai pakaian terbaik yang dimilikinya. Malam ini ia dan Rosa akan berangkat menuju ke rumah Nia untuk makan malam.
Gadis itu berulang kali mengecek penampilannya di cermin. "Ini kok gue jadi heboh begini, sih?", gumam gadis itu sembari memutar tubuhnya, memperhatikan gaun sederhana yang setidaknya bisa dianggap baik, yang ia pakai kini.
"Aihh, mending gue pake kaos biasa aja kalau gitu," kata gadis itu mendecak frustasi. Baru saja hendak mengambil baju kaos di lemari, Lembayung dibuat takjub dan terkesima dengan penampilan Rosa.
"Wahhhhh, ibu cantik banget," gumam Lembayung dalam mode terpesona. Mulut gadis itu sedikit menganga. Apakah wanita yang berdiri dihadapannya itu adalah ibunya?
Rosa tertawa melihat raut wajah sang anak. "Kamu ini, ngeledek ibu aja."
"Ya Allah, Bu, ibu cantik banget. Bayung sampai dibuat pangling," aku Lembayung masih dalam raut takjubnya.
Rosa tersenyum kecil, kala melihat Lembayung untuk kali pertama memakai gaun. "Kamu cantik sekali, nak," puji Rosa lalu mengusap lembut kepala anaknya.
Lembayung malah berdecak. "Bayung mau ganti baju deh, Bu. Bayung jelek pake baju begini. Mending pake baju kaos, kayak biasanya."
"Eh, jangan! Sini, biar ibu dandanin."
Rosa menyuruh Lembayung duduk di kursi. Ia meraih sisir dan menyisirkan rambut panjang Lembayung. Diam-diam Rosa tersenyum dan terharu. "Ibu masih ingat, waktu bayi ibu yang merawat kamu, makein baju, gantiin popok, nyuapin makanan, minumin susu. Badan kamu yang mungil waktu itu awalnya takut ibu sentuh, karena akan melukai kamu. Tapi, rasa takut itu hilang, saat melihat senyum kecil kamu waktu itu. Ibu masih nggak nyangka, sekarang kamu sudah sebesar ini. Udah mikul tanggung jawab."
Lembayung menatap Ibunya, dan mengusap punggung Ibunya. "Walau udah sebesar ini, Bayung nggak keberatan dianggap anak kecil sama ibu. Karena selamanya, Lembayung adalah anak ibu."
"Iya, kamu akan tetap jadi anak kecil kesayangan ibu."
Rosa meletakkan sisir kembali diatas meja. Setelah menyisir rambut Lembayung, Rosa lalu mendandani Lembayung dengan sapuan make up tipis."Tunggu sebentar, ibu mau ambil sesuatu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Wonderlove
Teen FictionLembayung Kirana, pensiunan copet yang ingin membahagiakan ayah dan ibunya, mempunyai 3 sahabat, yaitu Koko, Aldo, dan Kenny yang juga sudah memutuskan untuk menjadi pensiunan copet. Suatu hari, Lembayung bertemu dengan Karnia Maheswagayatri, seoran...
