27. Menyembunyikan Masalah

40 5 0
                                        

"Mbak, gue nginap yah malam ini", kata Mehregan melempar asal tas bawaanya ke sofa, hingga tas itu mengenai tangan Nia.

Nia berdecak kesal. "Biasa aja dong, lo! Sakit nih tangan gue!"

"Ya maap, mbak! Gue sengaja!", balas Mehregan seraya tertawa.

Mata Nia berputar malas. Berurusan dengan Mehregan sama saja dengan menjebloskan diri untuk terkena penyakit darah tinggi.

"Tumben lo mau nginap lagi disini," kata Nia dengan pandangan tertuju ke layar laptop.

Mehregan memilih diam. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia bekerja sama dengan Lembayung dan teman-temannya untuk mencari tahu siapa pemilik mobil hitam itu.

"Suka-suka gue lah, mbak! Lagian mama sama papa lagi nginap juga di rumah nenek, gue kan jadi sendirian." Alasan Mehregan ini memang benar, Mahendra dan Naya, orang tuanya sedang ke rumah neneknya untuk menengok neneknya yang kurang sehat.

"Iya, semalam mama sama papa ngasih tau ke gue," kata Nia. Perempuan itupun meletakkan laptop itu di meja setelah berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

Punggungnya bersandar pada sandaran sofa. "Gan, selama ada Lembayung sama temannya kerja disini, gue berasa aman banget. Seru aja ada mereka."

Mehregan terdiam, ia ingin mendengar cerita Nia lebih lanjut. Sekarang saja Nia sudah tersenyum begitu lebar. "Mereka itu....apa adanya. Mereka nggak malu sama masa lalu mereka, bahkan mereka mencoba jadi orang yang lebih baik."

Mehregan mengerutkan kening. "Apa mbak nggak takut kalau seandainya...mereka mencuri disini? Mbak kan banyak duit."

Nia nampak berpikir, perempuan itu lalu bangkit dan duduk bersebelahan dengan Mehregan. Ia menatap Mehregan lekat. "Dengerin gue yah, adekku yang paling ganteng," kata Nia lalu menabok kepala Mehregan dengan gerakan sepenuh hati. Membuat Mehregan langsung meringis kesal di tempatnya.

"Sakit, mbak!", omel Mehregan lalu mengusap kepalanya yang terasa berdenyut itu.

"Di dunia ini, nggak ada kok yang mau kerja sebagai pencopet, pencuri, maling, jambret. Semuanya pasti mau ngerjain hal yang sifatnya terhormat." Nia tersenyum tipis sekali. "Gue sempat nanya sih sama mereka, alasan mereka dulunya jadi copet. Dan lo tau, itu semua mereka lakuin supaya orang tua mereka nggak capek kerja. Mereka masih muda, bahkan usia mereka dibawah lo, tapi pemikiran mereka bisa sedewasa itu. Walaupun, cara mereka itu salah."

Mehregan menghembuskan napas panjang. Dalam hati kecilnya ia setuju dengan ucapan Nia. Memangnya ada di dunia ini yang mau mengerjakan pekerjaan yang hina?

"Gue tau nggak semudah itu lo merubah penilaian lo sama mereka. Apalagi, mama juga jadi korban copet. Tapi ingat aja, dunia ini selalu sejalan dengan yang namanya perubahan. Orang yang bersalah nggak akan selamanya salah. Mereka akan cari jalan yang benar."

Nia bangkit dari duduknya, meraih laptop dan berjalan menaiki anak tangga. "Eh, jangan lupa! Beresin tuh tas lo!", ujar Nia lalu kembali melangkah menaiki tangga.

Mehregan menyandarkan punggungnya di sofa. Apakah selama ini Mehregan terlalu dendam pada Lembayung? Mengingat cara ia mempermalukan gadis itu, jujur Mehregan merasa sedikit bersalah.

"Kalau orang lain, pasti bakalan malu banget, dan nggak bakalan mau masuk sekolah. Tapi dia? Dia tetap masuk sekolah, dan dia seolah-olah menganggap hinaan itu nggak pernah ada. Ternyata dia sekuat itu, ngelebihin apa yang gue pikirin selama ini."

***

Hari Jumat telah tiba, sepulang sekolah nanti Lembayung dan ketiga temannya akan ke rumah Nia untuk bekerja.

WonderloveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang