Dua tahun sudah berlalu, semenjak kejadian itu, Lembayung perlahan mulai membuka hati. Ia sudah bisa menerima Nia dan Afno sebagai orang tuanya, begitupula Rosa dan Soni yang selamanya menjadi figur orang tua baginya.
Sekarang, Lembayung sudah duduk di kelas XII di SMA. Beberapa tahun belakangan ia memang menghadapi ujian yang cukup berat, yang menguji mentalnya berkali-kali. Tapi tak apa, semua itu akan ia jadikan pelajaran pada kehidupannya di masa yang akan datang.
"Bayung, nih, gue rencananya mau daftar di UGM! Lo sendiri gimana?", tanya Meitha lalu duduk disebelah Lembayung.
Lembayung masih nampak ragu. "Gue juga mau UGM, sih. Tapi gue juga mau banget masuk IPB, mau ambil ilmu gizi."
Meitha mengangguk-angguk mendengarkan ucapan Lembayung. Fokusnya memang lebih tertuju pada selebaran di tangannya.
Pandangan Lembayung terhenti pada Tyas. Gadis itu sedang sibuk menelpon. Barulah jika sudah selesai, Tyas akan menghampiri mereka lagi.
"Telponan sama siapa lo?", tanya Lembayung dengan tawa kecil.
"Sama kak Fery."
Sejak setahun yang lalu, Fery dan Tyas memutuskan untuk berpacaran. Awalnya memang Tyas menyukai Mehregan, tapi entah karena apa, ia akhirnya luluh juga pada Fery, sahabat Mehregan.
Lembayung jadi berpikir, masa SMA ini memang masa yang paling menyenangkan, tapi di tahun terakhir ini, begitu banyak hal yang perlu dipikirkan. Salah satunya, memikirkan jurusan kuliah dan perguruan tinggi.
Apa Mehregan juga merasakan hal yang sama?
Berbicara soal Mehregan, hubungannya dengan pemuda itu kini masih baik-baik saja, walaupun Lembayung harus menahan diri agar tak menunjukkan perasaan pada pemuda itu.
Ia masih ingat, hubungan mereka sudah sangat berbeda.
Hubungan Mehregan dan Lembayung sudah diketahui sahabat-sahabat mereka, termasuk Alisa juga.
Alisa, gadis itu sangat baik. Saat tahu jika Afno memiliki anak dari perempuan lain, Alisa menerimanya dengan ikhlas, hanya saja tak begitu dengan Aline, ibunya. Wanita itu akhirnya melayangkan gugatan cerai pada Afno, dan menikah dengan pria lain yang jauh lebih kaya. Lembayung sendiri sudah tidak tahu bagaimana keadaan mantan istri ayahnya itu.
Tak sampai sebatas perceraian, rupanya ada hal yang harus Alisa terima. Soal dirinya, ia bukanlah anak kandung Afno. Alisa adalah anak Aline bersama lelaki lain. Lembayung masih ingat bagaimana hancurnya Alisa saat itu. Mereka berdua sama-sama hancur dengan kenyataan yang menyakitkan.
Tetapi, semua itu sudah berlalu. Kini, Lembayung dan Alisa sudah bisa menjalani hidup mereka dengan baik. Afno dan Nia sudah berdamai, dan bahkan sudah menikah. Begitupun dengan Rosa dan Soni, mereka menikah dan kini Rosa mengandung bayi pertamanya.
Menjelaskan semua rentetan peristiwa itu, akan sangat panjang. Jadi Lembayung hanya menetapkan dalam hati dan pikirannya, semua yang awalnya buruk akan berakhir baik-baik saja.
Lembayung tersenyum kala Alisa berjalan ke arahnya. "Eh, lo udah tau nggak besok malam kak Regan bakalan pulang?"
Kepala Lembayung mengangguk. "Iya, nenek sama kakek udah kasih tau, kok." Lembayung tersenyum tipis. "Kalau Regan pulang, berarti kak Alex juga pulang dong?"
Alisa mengangguk antusias. "Iya. Gue nggak sabar banget ketemu sama dia. Kangen."
Lembayung tertawa kecil menanggapi ucapan Alisa. "Ayo ke kantin!", ajaknya pada Alisa.
****
Malam ini, semua orang sibuk di rumah Naya dan Mahendra. Mehregan akan kembali ke rumah, sebab pemuda itu tengah libur kuliah. Ia rindu bertemu dengan orang rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wonderlove
Teen FictionLembayung Kirana, pensiunan copet yang ingin membahagiakan ayah dan ibunya, mempunyai 3 sahabat, yaitu Koko, Aldo, dan Kenny yang juga sudah memutuskan untuk menjadi pensiunan copet. Suatu hari, Lembayung bertemu dengan Karnia Maheswagayatri, seoran...
