Lembayung merasa sangat gelisah. Tangannya terus memegangi keningnya yang tertutupi plester obat.
Luka di kening Lembayung lumayan parah, sejak tadi Lembayung kewalahan menghentikan laju darahnya.
Bukan cuma di keningnya. Lembayung juga mengalami luka pada bagian siku dan lututnya.
Menghembuskan napas panjang, Lembayung melangkah dengan sedikit tertatih keluar dari UKS. Luka di kakinya masih terasa sangat perih. Tapi dibandingkan luka di kakinya, luka di kening Lembayung terasa dua kali lipat lebih sakit.
"Luar biasa tuh kakak kelas, bisa buat gue lemas kayak begini," gumam Lembayung masih berusaha tetap fokus. Matanya sudah nampak menggelap, karena rasa sakit di kepalanya.
"Nggak, nggak! Gue nggak boleh lemah, apalagi sampai kakak kelas itu tau gue kemas karena perbuatannya! Semangat Lembayung Kirana! Lo pasti bisa!"
Lembayung terpaksa berpegangan pada tiap pilar di jalan yang ia lewati, ia tak mau jatuh karena keseimbangan gadis itu yang sedang tidak bagus.
Lembayung tak kuat lagi berjalan ke kelas. Gadis itu terduduk lemas tepat di depan toilet.
Kepalanya bersandar pada dinding luar toilet. Pandangannya makin lama makin memburam.
Rasa sakit di kepalanya kembali menghantam, setelahnya pandangan Lembayung menggelap dan gadis itu jatuh tak sadarkan diri.
***
Lembayung meringis pelan saat baru saja membuka kedua matanya. Rasa pusing itu mendera kepalanya.
Saat kedua matanya terbuka, orang pertama yang ia lihat adalah Meitha.
"Bayung, lo ngerasain sakit, nggak? Mau gue ambilin apa?"
Lembayung yang masih merasa lemah berusaha bangun dari posisi terbaringnya. "Mei, kok lo malah disini? Lo nggak ke kelas?"
Meitha yang ditanya Lembayung hanya menggelengkan kepala. "Gue nggak tenang ninggalin lo sendiri disini. Tyas udah ijin ke guru, bahkan Alisa ke kantin beliin lo makanan."
Lembayung merasa bahagia sebab masih ada yang peduli padanya. Ia pikir, setelah apa yang menimpanya tadi, tak akan ada yang peduli. Rupanya ia salah.
"Jujur sama gue, lo tadi diapain sama kak Regan?", tanya Meitha dengan wajah khawatir.
Kepala Lembayung menggeleng cepat. "Nggak, gue nggak diapa-apain, kok."
"Lo bohong. Tadi gue liat kak Regan narik tas lo, terus pas lo jatuh, gue liat jidat lo luka. Gue juga langsung nyamperin kak Regan. Pas gue tanya, dia malah bersikap nggak peduli. Sumpah, tuh orang emang jahat. Gimana ceritanya Alisa naksir sama tuh orang?"
Setelah mengatakan semuanya pada Lembayung, Meitha langsung merutuki mulutnya.
"Nggak bakalan gue kasih tau siapa-siapa. Makanya, kita nggak perlu bahas kakak kelas yang namanya Regan. Kalau orang nanya sama lo, termasuk Alisa, bilang aja gue jatuh karena jalan nggak hati-hati."
Mau tidak mau, kepala Meitha hanya mengangguk.
Tak lama kemudian, Alisa dan Tyas sudah kembali ke UKS. Nampak Alisa membawa beberapa kantung berisi makanan dan minuman. "Maaf yah gue agak lama di kantin." Alisa lalu meletakkan bungkusan itu diatas nakas.
"Gimana?", tanya Meitha pada Tyas.
"Tenang, gue udah ijinin." Tyas tersenyum tipis. "Gimana keadaan lo sekarang? Udah enakan?", tanya Tyas.
"Iya, udah lebih mendingan," jawab Lembayung.
Alisa menatap Lembayung dengan sorot khawatir. "Kenapa lo bisa luka kayak gini?" Lembayung memberi isyarat pada Meitha.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wonderlove
Ficção AdolescenteLembayung Kirana, pensiunan copet yang ingin membahagiakan ayah dan ibunya, mempunyai 3 sahabat, yaitu Koko, Aldo, dan Kenny yang juga sudah memutuskan untuk menjadi pensiunan copet. Suatu hari, Lembayung bertemu dengan Karnia Maheswagayatri, seoran...
