Perkataan Mehregan terus saja mengiang-ngiang dalam pikiran Lembayung. Apakah ia sejahat itu hingga diperlakukan dengan sangat kasar oleh Mehregan?
Rosa yang baru saja melihat Lembayung pulang segera menghampiri anaknya itu. "Kamu kenapa, Bayung? Ini seragam sekolah kamu kenapa kotor dan basah seperti ini?"
Lembayung diam. Gadis itu tidak menjawab, menambah rasa khawatir itu dalam hati Rosa.
"Kamu dijahatin di sekolah kamu?", tanya Rosa dengan penuh selidik. Kepala Lembayung hanya mengangguk lemah.
"Cuma salah paham kok, bu."
Lembayung memilih masuk ke dalam rumah. Mengabaikan tatapan penasaran Rosa di luar sana.
"Kasih tau ibu, siapa yang berbuat jahat sama kamu?", tanya Rosa, lagi.
Lembayung menaikkan bahu acuh. Tak akan ia beritahu kepada ibunya jika di sekolah adalah tempat dimana masa-masa sulitnya akan segera dimulai.
"Lembayung nggak papa, Bu. Ini cuma masalah kecil. Sekarang Lembayung mau mandi, habis itu cuci baju."
Meski berusaha baik-baik saja, Lembayung tetap terbayang ucapan Mehregan saat di kelas dan di aula.
Nasib orang miskin selalu saja berakhir dengan hinaan yang tak ada habisnya. Miskin harta, ternyata begitu mudah pula di cap miskin etika.
Semenyedihkan ini fakta yang orang lain anut.
***
Mehregan berdiri di di balkon kamarnya.
Ia merasa aneh, ketika perasaan puas dan perasaan bersalah itu berebut menguasai pikirannya.
Jika Mehregan pikir-pikir, ucapan kasar yang ia lontarkan kepada Lembayung saat di.sekolah tak sepenuhnya benar, ada yang hanya didasarkan karena emosi. Disisi lainnya, Mehregan puas mempermalukan Lembayung.
"Tapi kenapa dia kebanyakan diam? Nggak melawan?", gumam Mehregan dengan wajah tidak mengerti.
Setelahnya Mehregan malah menggelengkan kepala. Ia mengusap wajahnya. "Kenapa gue malah mikirin tuh cewek, sih? Harusnya gue mikirin gimana kondisi Alisa!"
Mehregan memilih masuk kembali dan melentangkan tubuhnya diatas tempat tidur. Pikirannya melayang entah kemana.
Bruk!
Mehregan terkejut saat pintu kamarnya dibuka paksa dari luar. Bahkan pemuda itu sampai terbangun dari posisi berbaring saking terkejutnya.
Mehregan mendengus. "Ya elah, mbak! Bikin gue kaget aja! Masuk kamar orang tuh ngucap permisi kek, salam kek,atau ketok pintu dulu."
Sebelah alis Nia terangkat. "Emangnya lo orang?"
Mehregan mendengus.
Nia ikut duduk di sebelah Mehregan. "Lo kenapa? Udah jelek, makin lo jelek-jelekin muka lo."
"Mbak, lo pernah suka orang, nggak? Maksud gue, jatuh cinta gitu?"
Nia tergelak. "Lo seriusan nanya kayak gitu ke gue?"
Hening sesaat.
"Bwahahahahaha! Ternyata adek gue udah dewasa, tapi sayang pubernya lambat dikit lah, yah."
"Gue serius, mbak!", ujar Mehregan sedikit kesal.
Nia menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Matanya nampak menerawang. "Mmm, suka sama seseorang sih, pernah. Pas SMA. Namanya gue cewek cantik normal, pasti pernah, lah. Bahasanya, cinta-cinta monyet gitu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Wonderlove
Novela JuvenilLembayung Kirana, pensiunan copet yang ingin membahagiakan ayah dan ibunya, mempunyai 3 sahabat, yaitu Koko, Aldo, dan Kenny yang juga sudah memutuskan untuk menjadi pensiunan copet. Suatu hari, Lembayung bertemu dengan Karnia Maheswagayatri, seoran...
