49. Pengakuan dan Sebuah Alasan

38 8 9
                                        

Lembayung berbalik dan melirik keempat pemuda itu tengah berusaha menyembunyikan diri agar tidak terlihat. Senyum Lembayung terukir begitu saja kala ia memandang Mehregan, pemuda itu nampak was-was sekali.

Lembayung berusaha mengumpulkan fokusnya saat ini. Ia akhirnya memilih salah satu kursi yang ia duduki kini.

Untuk sejenak, gadis itu mengedarkan pandangan hampir ke segala penjuru kafe ini.

Afno memilih bertemu di tempat mahal seperti ini, Lembayung sebenarnya tidak nyaman berada di tempat kafe ini. Gaya hidupnya, membuatnya sulit beradaptasi dengan hal mewah semacam ini.

"Sudah lama menunggu?"

Lembayung menaikkan sebelah alis kala Afno sudah berada dengan setelan pakaian formalnya. Pria itu duduk dihadapan Lembayung, sembari tersenyum sangat tipis.

"Saya masih ingat, waktu itu kamu menolak memberitahu saya motif kamu sampai bisa menyusup ke rumah saya, lalu kenapa sekarang kamu mau memberitahu saya? Apa ini ada hubungannya dengan Soni? Atau...kamu mau menjebak saya?"

Punggung Lembayung langsung menegak. Semudah itu Afno membaca gelagatnya? Tidak, gadis itu berusaha tenang. Wajah Lembayung memberi sorot menantang. "Saya tidak akan mengiyakan atau mengatakan tidak atas tudingan bapak ke saya. Seharusnya, pertanyaan bapak tadi, harus saya yang mengajukan. Apa alasan bapak mengintai rumah majikan saya, Ibu Karnia Maheswagayatri?"

Kali ini Afno yang tersentak. Wajahnya perlahan mulai memias. "Kamu...bekerja pada Karnia?"

Tanpa ragu Lembayung menganggukkan kepala. "Benar, beliau adalah majikan saya. Sekarang anda sudah tau apa tujuan saya mengintai rumah anda. Oh bukan, lebih tepatnya ingin melihat mobil anda, apakah mobil anda itu adalah mobil yang mengintai rumah ibu Nia. Saya hanya memastikan."

Kali ini Afno nampak menggelengkan kepalanya pelan. "Semudah itu kamu menyimpulkan sesuatu?"

Wajah Lembayung berubah serius. "Tidak, tidak semudah itu." Gadis itu menghembuskan napas panjang. "Awalnya saya pikir, saya yang salah. Tapi, setelah kedatangan bapak membawakan baju olahraga Alisa yang tertinggal waktu itu, saya nggak sengaja melihat mobil hitam milik bapak. Saya yang merasa familiar berusaha melihat mobil itu dengan teliti. Mobil bapak yang saya lihat, tidak ada yang menunjukkan tanda tanda kerusakan parah, karena mobil yang kami lempari waktu itu, saya rasa punya kerusakan parah." Senyum Lembayung terbentuk. "Hingga pada akhirnya, saya bisa melihat, ada goresan yang di mobil bapak. Saya mencocokkan goresan itu dengan goresan mobil yang dimiliki pengintai rumah majikan saya. Terdengar tidak masuk akal, atau mungkin kekanak-kanan ? Tapi pada saat saya dan teman saya menyusup rumah bapak, teman saya sudah berhasil memotret mobil milik bapak, tepatnya di bagian mobil yang tergores. Dan juga, pada saat bapak terakhir kali mengintai rumah majikan saya, saya sempat merekam mobil milik bapak, dan semua itu ada di kamera adik kandung majikan saya."

Afno sudah benar-benar dibuat bungkam sekaligus panik dengan ucapan gadis ini. Apakah ini artinya kebenaran akan segera terkuak?

"Jadi apa yang kamu mau?", tanya Afno dengan suara pelan. Lembayung tergelak. Pria ini mungkin berusaha menyuruhnya diam, dengan perantara materi, mungkin saja.

"Saya tidak minta yang muluk-muluk pada bapak. Saya hanya ingin bapak menjelaskan, alasan mengapa bapak mengintai rumah majikan saya. Saya tidak mau menduga-duga, saya hanya ingin masalah ini terselesaikan dengan menembak tepat ke intinya."

Afno tidak percaya, jika ia dibuat bungkam dengan gadis yang seusia dengan anak perempuannya.

Kegelisahan Afno mulai terlihat jelas, berkali-kali ia mengepalkan tangan.

Lembayung kini sudah penasaran apa motif Afno mengintai rumah Nia. "Tolong, Pak, jangan buang-buang waktu, hanya karena ini saya bertemu bapak kesini. Bapak tidak tau saja, jika majikan saya dalam kondisi cukup tertekan saat ini, jadi tolong bekerja samalah, Pak, jika memang ini bukan masalah bisnis. Apa perlu saya memberi tahu ibu Nia sekarang juga?"

"Baik, jika kamu memang ingin mengetahui alasannya." Afno nampak makin gelisah, ancaman Lembayung pada akhirnya bisa membuatnya mengungkap maksudnya mengintai rumah Nia selama ini. "Sebenarnya, saya ada masalah dengan Nia. Dia...adalah perempuan yang membuat saya merasa bersalah sampai detik ini, saya sudah sangat menyakiti dia."

Otak Lembayung mulai berpikir keras. Berusaha mencerna tiap kata yang Afno sampaikan. Hingga gadis itu terdiam dengan wajah tertegun, perkataan Mehregan di teras rumah Nia waktu itu, soal Nia di masa lalu dan album biru itu, apa ini memang ada kaitannya?

Mengumpulkan keberanian, Lembayung membalas tatapan Afno. "Apa...Bapak adalah laki-laki yang telah...melakukan pelecehan pada ibu Nia, saat ibu Nia baru lulus SMA waktu itu?"

Bagai bom yang meledak dengan dahsyat, itulah yang Afno rasakan saat ini. Pertanyaan gadis itu sukses membuatnya hampir hilang tenaga, hingga napasnya perlahan tercekat.

"Kamu...tau semua ini dari Nia?", tanya Afno dengan suara lirih.

Menggeleng, itulah respon yang Lembayung beri. "Tidak, saya mengetahui ini karena adik kandung ibu Nia yang memberitahu."

Kedua orang itu tidak sadar, jika di tempat lain Mehregan sudah mengepalkan tangan kuat-kuat. Ia sudah benar-benar marah.

"Mas bos, jangan!", cegah Koko saat melihat Mehregan bangkit berdiri.

"Jangan halangi gue, gue perlu bicara sama om Afno!" Mata Mehregan sudah memerah.

Sadar situasi sudah hampir tak terkendali, Koko memberi isyarat pada Kenny dan Aldo agar segera menahan Mehregan.

"Lepasin gue!"

Tak peduli Mehregan yang meronta hingga menyita perhatian sebagian kecil pengunjung kafe, ketiga pemuda itu memilih menyeret Mehregan keluar kafe.

Kembali pada Afno dan Lembayung, kedua orang itu sama-sama terdiam.

"Lembayung, saya mau bertemu Nia."

Pengakuan Afno membawa Lembayung pada situasi tak tertebak. Gadis itu memainkan jarinya dengan bingung diatas meja. Gadis itu melirik ke arah dimana keempat pemuda itu duduk tadi. Tapi keempatnya sudah tidak ada.

"Kalau urusan itu, saya tidak ada hak untuk menjawab Apa lagi mempertemukan bapak dengan Ibu Nia."

"Jadi, apa yang harus saya lakukan?", tanya Afno dengan wajah frustasi. "Sejak dulu, saya ingin mempertanggungjawabkan perbuatan saya kepada Nia, tapi ada saja hambatan. Setiap ingin menemui Nia, saya selalu menemui jalan buntu. Hingga dulu, Pak Mahendra, ayah Nia sampai turun tangan menghadapi saya."

Lembayung bisa memahami kesulitan yang Afno alami. Ia sudah tahu persis kisah mereka yang terjadi di masa lalu.

Satu nama yang membuat Afno tak berhasil memberi tanggung jawab atas kejadian yang menimpa Nia.

Aline, wanita yang merupakan istri dan ibu dari anaknya.

"Bapak tak usah khawatir, urusan ini akan saya beritahu pada adik ibu Nia. Dia yang akan membantu bapak menyelesaikan semuanya."

Lembayung bangkit berdiri. "Saya pamit."

Gadis itu berlalu, meninggalkan Afno yang masih terpaku di kursi kafe.

Selepas kepergian Lembayung, Afno kembali dikejutkan dengan kehadiran wanita yang berhasil memporak-porandakan hidupnya selama ini.

"Ada apa kamu bertemu dengan anak Rosa?"

"Aline?"



*****

Hai, terima kasih sudah mampir ke cerita Mehregan dan Lembayung

Jangan lupa vote dan komentarnya

Salam hangat,
Dhelsaarora

WonderloveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang