Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

23. Mulai Habis Kesabaran

40 5 4
                                        

Lembayung menggigit bibirnya, matanya menatap Mehregan was-was.

"Gue nggak bakalan berhenti interogasi lo sebelum gue dapat jawaban soal mobil yang kalian kejar kemarin," kata  Mehregan dengan sikap keras kepalanya.

Lembayung tertawa pelan. "Emangnya gue ini soal ujian yang kudu' lo tau jawabannya?"

"Gue lagi nggak bercanda, yah!", bentak Mehregan dengan mata melotot.

Senyum kecil Lembayung terbit. "Mau banget lo gue seriusin?"

Napas Mehregan memburu. Selalu saja, gadis itu berhasil membuatnya kesal. Tidak di sekolah, ataupun dimanapun mereka bertemu, akan ada saja tingkah Lembayung yang memicu amarah Mehregan.

"Ini soal mbak Nia, dan gue nggak bercanda! Kalau lo tau sesuatu, bilang sama gue!"

Lembayung menelan saliva susah payah. Kali ini wajah dan ekspresi Mehregan membuatnya sedikit takut.

Ingat, hanya sedikit.

Mehregan berbalik badan dan melangkah cepat. Pemuda itu...sangat marah sekarang ini.

"Bayung!"

Sedikit terkesiap, pandangan Lembayung beralih pada Meitha dan Tyas yang sudah berjalan ke arahnya.

"Kok lo disini, bukannya lo mau ke perpus, yah?", tanya Tyas heran.

"Oh, gue baru aja dari perpus, mau ke kelas, eh ketemu kalian disini," jawab Lembayung, sedikit kikuk.

"Yaudah yuk ke kelas aja," ajak Meitha.

Ketiga gadis itu pun melangkah bersama menuju ke kelas. Di tengah perjalanan, rupanya mereka tak luput dari pandangan Jovita cs.

Tyas nampak sudah jengah, tapi Meitha berusaha menenangkan gadis itu. Sementara Lembayung, tak henti membalas tatapan mengejek Jovita dengan begitu tajam.

Kakak kelas dengan segala drama dan sifat sok-nya, memang akan selalu menjadi momok menyebalkan di bangku sekolah.

"Udah, Ty, Kak Jovita sama dayang-dayangnya nggak perlu lo tanggapin. Biasalah, yang hobi nyari sensasi, kuper." Lembayung menepuk-nepuk pelan pundak Tyas.

Mereka kembali melanjutkan langkah.

"Eh, itu 'kan Om Afno!", seru Meitha.

"Iya!", balas Tyas setelahnya.

"Om Afno?", gumam Lembayung.

Senyum Meitha terkembang. "Iya, om Afno. Dia itu papanya Alisa."

Kepala Lembayung mengangguk pelan. Papanya Alisa, om Afno.

Meitha dan Tyas berlari kecil ke arah Alisa dan papanya. Kedua gadis itu sudah menyalimi tangan Afno.

Lembayung sendiri memilih berjalan pelan. Hubungannya yang masih belum membaik dengan Alisa menghalanginya untuk berjalan bersama Tyas dan Meitha.

Saat berada di dekat Afno dan Alisa, Lembayung sempat melirik sekilas. Afno bahkan mengajak Meitha dan Tyas untuk berbicara dan bercanda sebentar.

Ternyata mereka begitu dekat.

Menghembuskan napas pelan, Lembayung melanjutkan langkah. Ia tak mau merusak suasana hati Alisa jika gadis itu sampai melihatnya.

"Nak, tunggu!"

Langkah Lembayung mendadak berhenti saat suara pria itu masuk ke gendang telinganya. Ia berbalik, memastikan siapa yang dipanggil dan siapa yang sedang memanggil.

Saat berbalik, papa Alisa, Afno berjalan ke arahnya. Lembayung dibuat bingung karenanya.

"Iya, pak?", tanya Lembayung heran.

WonderloveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang