Rabu, pukul 18.30
Aku menarik satu sudut bibir. Ada perasaan bangga saat aku berhasil datang lebih awal dari perjanjian. Sejak Senin—hari aku mendial nomor Papa Kimkim, Mbak Velia mendadak jadi reminder. Kerjaannya mengingatkan aku mengenai 'Tepat waktu', 'Jangan telat', 'Datang lebih awal'. Dan Yes, aku berhasil. Tentunya atas kerjasama dari Bapak Grab.
Aku segera menuju musolah di lantai atas untuk menjalankan ibadah lalu turun satu lantai ke bioskop sekedar mengecek film yang sedang tayang. Syukur syukur kalau ada yang cocok dan bisa dicantumkan ke rencana weekend ini.
Papa Kimkim
Malam, miss. Saya sudah di GI.
Aku menimbang balasan apa untuk membalas SMS Papa Kimkim. Harus yang sopan, sekaligus ramah dan baik hati. Orang-orang mengharapkan anak mereka diajar oleh guru yang baik luar dalam, hal itu perlu tercermin pula di chat.
Aku
Saya sedang di bioskop. Kita bertemu dimana pak?
Satu detik.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Mana balasannya, Pak? Bathinku.
Aku duduk di bangku depan bioskop sembari menatap layar ponsel. Takut aku tidak menyadari pesan masuk.
Lima menit berlalu tanpa balasan. Aku mendengkus. Begini sebalnya kalau menunggu klien kali ya, pikirku membayangkan omongan orang-orang yang bekerja dengan meeting dan appointment padat.
"Miss Sandra."
Aku mengangkat kepala untuk melihat si pemilik suara. Papa Kimkim sudah berdiri di depanku. Jika aku memotret penampilannya sore ini lalu kupamerkan ke para miss ceriwis, pasti liur mereka menetes.
"Miss." Dahi Papa Kimkim berkerut. Mungkin bingung melihat aksi diamku.
"Apa kabar, Pak?" Aku bangkit berdiri. Berbasa-basi tanpa berusaha menawarkan jabat tangan. Bukan maksud sombong, cuma menghindari khilaf kulit. Sentuhan dengan laki-laki kece berpotensi membawa dosa. Aku cukup sadar diri pada level penyakit jomlo nelangsa yang aku idap. Sebaiknya tidak ada sentuhan sama sekali dan jiwaku tetap di jalur yang tepat.
"Kabar baik, Miss sendiri apa kabar?" Senyumnya mengembang menyebabkan hati jomlowatiku lumer. Kan, susah menjaga imej.
"Baik juga, Pak." Aku mendadak mati gaya, padahal aku biasa berhadapan dengan orang tua murid sejak memilih profesi ini enam tahun lalu. Bertemu orangtua murid pada malam hari pasti adalah alasan aku kaku. Aku yakin itu. Orangtua murid, pukul tujuh malam, GI, dan wajah pasca naik ojek adalah kompilasi sempurna aku canggung bersikap di depan Papa Kimkim.
"Kita mau mengobrol dimana, Miss?"
"Di emm.." Aku mati gaya. GI bukan lahan jajahanku. Mestinya di awal aku menolak bertemu di sini dan memilih Blok M yang jelas lebih dekat dari sekolah. Demi murid ya sudah jalani, suara malaikat hatiku. "Sini," lanjutku dengan tampang sok ceria— yang barangkali juga dungu.
Mata Papa Kimkim membesar sepersekian detik lalu balik normal. Kaget pasti. Aku menunjuk ke arah sofa yang barusan kududuki. "Di sini?" tanyanya sarat akan kehati-hatian.
Aku mengangguk. Maaf maaf saja, ini keputusan mendadak. Memilih tempat makan bukan keahlianku. Semua makanan enak asal tidak membuat lidahku kepanasan, kepedasan, dan keasaman, serta familiar di perut. Sementara lawan bicaraku tidak tampak seperti seseorang yang punya selera sekelasku. Aku duduk lagi, berpura-pura tidak menyadari gelagat ketidaknyamanannya. Mau diadukan ke Mbak Velia pun aku pasrah. Aku menolak keras jika nanti ada pemberitahuan penolakan reimburse makan bersama orangtua murid di luar lingkungan sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
You TOLD Me So
ChickLit''Miss, kenapa aku merasa jelek pagi ini?'' What?? Pertanyaan apa tuh?? Kenapa anak TK udah nanya yang susah gini? Miss aja nggak tau kenapa Miss belum punya pacar ampe sekarang, bathinku. ### Kedatangan murid baru bukan jadi hal yang seru. Kalau ta...
