Happy Reading
Boy mengendari sepeda motornya menuju rumahnya untuk mengambil beberapa barang dan segala keperluan.Dia berniat kabur dari rumahnya.
Kebetulan sebelum mamahnya meninggal,ia ditinggalkan beberapa warisan yang menurut Boy sangatlah banyak.
Sebuah perusahaan yang lumayan besar,Apartemen,Resto,cafe,rumah mewah sangat beaar menurutnya.Dan semua itu tidak diketahui papahnya.
Motornya berhenti disebuah rumah mewah.Rumah papahnya.Boy turun dari motornya lalu melangkah memasuki rumah.
Dari ruang tamu,ia dapat mendengar suara seseorang berbincang dan tertawa.Itu papahnya dan sekertarisnta itu.
Boy berjalan dengan acuh menuju kamarnya"Dari mana kamu?!"tajam wirawan papahnnya.
"Dari mana juga bukan urusan anda!"balasnya.
Boy tidak sudi memanggil Wirawan dengan sebutan papah lagi.Ia sudah muak diperlakukan seperti ini.Papahnya selalu mengaturnya dan menyuruhnya padahal selama ini papahnya tidak pernah memperhatikan dan merawatnya.
"BOY!Sejak kapan kamu tidak sopan berbicara dengan orang tua?Papah tidak pernah mengajarkanmu!"
"Ck!kan emang saya sudah tidak punya orang tua.Dan papah ku memang tidak pernah mengajarkan apapun padaku!"
Boy berjalan memasuki kamar.Meningalkan Wirawan dengan persaan bersalahnya.
Boy turun dari kamarnya dengan tas besar.Ia turun tanpa melihat kearah papahnya yang sedang bermesraan dengan sekertarisnya itu.
"Mau kemana kamu?Pergi?bisa apa kamu tanpa papa?"ucap papahnya.
Boy menjawab tanpa menoleh."Saya sudah terbiasa tanpa sosok anda!"
Boy tersenyum miris membayangkan kehidupannya setelah mamahnya pergi meningalkannya untuk selamanya.
"Dasar anak tidak tau diri!"
Wirawan berjalan ke arah Boy lalu menamparnya.Boy tidak terkejut ia malah tersenyum sinis memandang papahnya,walu di relung hatinya ia sangat terluka atas perlakuan papahnya.
"Astaga den Boy,"bi sum datang menghampiri boy dengan raut wajah khawatir.
"Pergi kamu dari sini.Dan tinggalkan semua fasilitas yang saya berikan!"tegas wirawan.
Boy mengeluarkan kartu-kartu kredit yang jarang sekali ia pakai dari dompetnya.Menyerahkan kunci mobilnya,dan uang tunai yang berada di dompetnya.
"Bi sum sama mang asep ikut Boy ya?"
Bi sum mengangguk dengan menahan air mata.Ia lalu pergi menghampiri suaminya itu untuk segera berkemas.Beberapa menit kemudian ia kembali dengan mang asep dengan membawa tas yang besar.
Wirawan memandang heran Boy."Mau kamu gaji apa mereka?"
"Bukan urusan anda!"balas Boy.
Boy pergi dengan bi sum dan mang asep menggunakan taksi menuju rumah simpanan mamahnya.Ia tidak jadi ke apartemen karena menurutnya lebih baik ia tinggal dirumah peninggallan mamahnya.Toh ia tidak tinggal sendirian jadi tidak terlalu kesepian jika tinggal dirumah besar peningallan mamahnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Boy (Completed)
Teen FictionSedang di REVISI!!! BOY WILIAM selalu menutupi kerapuhannya,dengan sikap dingin nya. Dalam hidupnya tidak ada yang berkesan selain menatap Bintang di tengah malam. Sampai ada seorang gadis yang mampu membuatnya tersenyum kembali.Setelah bertahun-tah...