بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
-•o•-
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabaHai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabarHai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar
Qs al-Baqarah 153
"Kamu bilang, kamu nggak punya rumah" ujar Zahra saat ia dan Kafka baru sampai ke apartemen Kafka
Kafka mengangguk-anggukkan kepalanya "Gue memang nggak punya rumah. Yang gue punya cuma apartemen" zahra tampak berfikir, dengan mudahnya dia menggunakan kata 'cuma'
Zahra berdecak kagum, tak pernah sedikitpun terbayang di benaknya bahwa ia akan berada di tempat elit. Tapi ternyata ia malah akan tinggal di kawasan elit
Kafka duduk di mini bar apartemennya, ia tengah meminum secangkir kopi yang ia buat sendiri. Pasalanya Zahra tak tau selera minuman Kafka
Kafka mendegus "Oke, dengan senang hati gue terima elo. Gue sudah nikahin elo, gue sudah bertanggung jawab kesalah fahaman itu, dan gue juga bikin lo bebas dari hawa nafsu abang lo yang liar itu. Gue tau lo itu istri gue. Tapi lo harus ingat kenapa ini bisa terjadi. Gue cuma mau bikin simbiosis di sini. Elo untung, gue untung. Elo masih enam belas tahun dan gue juga masih delapan belas, umur kita masih muda. Kita juga masih sekolah. Gue nggak akan ngekang elo" Zahra mengernyit tak faham
"Walaupun kita suami istri, kita nggak akan saling ikut campur. Cukup lo urus kehidupan lo sendiri, dan gue urus hidup gue sendiri. Jadi nggak akan ada istilah ngekang. Dan karena pernikahan kita cuma formalitas, gue rasa, gue masih bisa ngelakuin kebiasaan gue sesuka hati"
Kafka bangkit lalu mulai menjauh, namun langkahnya terhenti dan ia kembali membalikkan badan "Gue punya pacar. Gue harap elo nggak keberatan. Gue juga nggak keberatan kok, kalo elo cari cowo. Atau mau balikan sama si Dirga itu" Kafka langsung masuk ke kamarnya
Zahra tak kuat. Air matanya lolos begitu saja. Kemana sosok Kafka yang ia kenal kemarin. Kemana sosok Kafka yang mampu menenangkannya. Zahra kini hanya bisa mengangguk setuju dengan apa yang sudah jadi keputusan Kafka. Ingin rasanya ia menolak, tapi ia sadar, ia harus tau diri karena bagaimanapun Kafka lah yang menyelamatkannya
-
-
-
Pukul 02.30 dini hari, Zahra terbangun. Zahra sudah terbiasa terbangun, menurutnya, alam sudah memanggilnya untuk bermunajat pada Allah Swt
Ia bangkit dari tidurnya, disibaknya bedcover putih yang ia gunakan sebagai penghangat di ruang ber ac tersebut. Fikirannya tertuju pada kejadian semalam dimana Kafka membuat dirinya tersakiti dengan perlakuannya. Zahra akui, Kafka tidak kasar untuk sikapnya kepada perempuan. Tapi bagi zahra omongannya sangat menyayat untuk seorang istri. Terlebih kamar mereka terpisah atas keinginan Kafka
Zahra lekas berwudhu, lalu melakukan tahajjud. Tahajjudnya masih sama seperti biasanya, diiringi tangisan. Zahra hanya bisa berkeluh kesah pada penciptanya. Hanya Allah lah yang ia punya saat ini
KAMU SEDANG MEMBACA
THE MUBRAM
Teen FictionHidup bukan hanya tentang bagaimana cara kita mencari suatu kebahagiaan. Hidup merupakan bagaimana kita singgah dan menerima titipan dari Allah dengan baik di dunia yang fana ini Apa yang di rasa baik, belum tentu baik untuk kita dan apa yang dirasa...
