18. Sama Gue Aja

682 39 0
                                    

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

-•o•-


Hari ini merupakan hari yang sangat di tunggu-tunggu oleh Kafka. Bagaimana tidak? Hari ini merupakan hari kelulusannya dan malam nanti sekolah akan mengadakan prom night untuk pelepasan siswa siswi kelas dua belas

"Gue pake baju apaan ya ra? Gue bingung! Gue udah nggak punya baju nih" ujar Irene frustasi

Saat ini Irene, Raya serta Zahra sedang berada di kamar milik Irene. Gadis itu tengah heboh sendiri mempersiapkan penampilan untuk prom night nanti malam dengan Kafka

Soal masalah tempo hari, Irene dan Kafka sudah berbaikan, begitupun dengan Kafka dan Zahra. Sebenarnya sulit untuk Kafka dan Zahra berbaikan karena Zahra sering membawa-bawa masalah perceraian. Namun Kafka tak pernah mau menggubrisnya

Kafka memang egois, bahkan nasehat dari Leo tak di dengarnya. Akhirnya Leo memutuskan untuk tak ikut campur karena lelah dengan sifat keras kepala Kafka

Tapi masalah menceraikan Zahra, ia benar benar tak siap dan tak ingin kejadian kelam di masa lalu ter ulang lagi walaupun sekarang keadaannya berbeda

"Gila lo Ren! Baju sebanyak ini lo bilang nggak punya? Stres gue!" Nyinyir Raya saat menyaksikan Irene membongkar seisi lemari

"Tapi kan semua udah pernah gue pake Ray!"

"Ren, ini kan banyak, nggak mungkin sering kamu pake kan?" Kali ini Zahra berani membuka suara

Irene melirik Zahra sekilas "Emang nggak sering sih. Tapi kan ini acara berharga buat gue. Gue nggak mau tampil jelek di depan Kafka"

Sungguh, hati Zahra teriris saat ini. Zahra yang merupakan Istri Kafka saja tak pernah berusaha tampil cantik di depan suaminya, malahan Irene yang punya hubungan sebatas kekasih berusaha mati-matian agar tampil cantik di depan Kafka

Padahal, istri harus tampil menarik di depan suaminya. Namun begitulah Zahra, ia menginginkan kebahagiaan Irene hingga melupakan ridha suaminya

"Kita ke mall aja yuk" ajak Irene. Zahra dan Raya hanya bisa melempar pandangan satu sama lain

Tiga jam mereka habiskan hanya untuk mencari kebutuhan Irene. Raya dan Zahra hanya setia membuntuti gadis itu dan menjadi komentator perihal penampilan Irene, tapi tetap saja, ujung-ujungnya gadis itu menggunakan pendapat pribadinya

"Ren, pulang yuk. Aku belum sholat Zuhur ini" ajak Zahra saat melihat arloji di tangannya sudah menunjukkan pukul dua siang

"Iya, lagian udah semua kan? Kurang apalagi coba?"  Pungkas Raya

"Yaudah deh" ujar Irene pasrah

Zahra pulang bersama Raya, sedangkan Irene memilih untuk naik taksi online. Katanya, ia tak mau merepotkan Raya yang tinggal berlawanan arah dengannya. Lagipula, ia sudah membuat Zahra dan Irene menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menemaninya saja

"Ra, lo naik aja duluan. Gue mau ke mini market dulu" ujar Raya. Zahra mengangguk faham, namun baru saja kakinya melangkah di lobby, ia melihat sosok Zafran yang berdiri di hadapannya dengan membawa paper bag berwarna merah muda

"Assalamualaikum Ra" sapanya. Zahra tak mendongak. Niatnya hanya mau menjaga pandangan dari yang bukan mahram

"Waalaikumussalam. Ada apa Ran?"

"Nih" tangan Zafran menyodorkan paper bag tadi

"Ini apa?"

Zafran tersenyum "Jangan di buka sekarang. Nanti aja bukanya. Ini untuk keperluan jurnalistik. Nanti malam kita di suruh ngeliput sama Bu Rusma" jelas Zafran. Zahra hanya mangut mangut saja. Ia tak tau apa Kafka akan mengizinkannya

THE MUBRAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang