بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
-•o•-
Kafka terbangun dari tidurnya, tubuhnya terasa pegal karena semalaman ia tidur di sofa
"Sial!" Rutuknya
Kafka berjalan ke arah kamar Zahra dengan sekuat tenaga. Rupanya gadis itu belum pulang
Kemarin ia meminta izin untuk menginap di rumah Irene
Hubungannya dengan Zahra sedang tidak baik saat ini, sama seperti hubungannya dengan Irene yang sudah tak jelas kondisinya
Di baringkannya tubuh jangkungnya itu di atas ranjang dengan bed cover bergambar kaktus milik Zahra. Gadis itu suka kaktus dan tanaman sukulen, bahkan di tepi meja belajarnya terdapat beberapa sukulen yang tumbuh dengan subur
Hobi itu baru di temukan Zahra saat keduanya berbelanja bersama. Manik mata gadis itu tak pernah berhenti menatap tanaman kecil itu. Kafka pun membelikannya
"Lo itu manusia apa malaikat sih?" Tanya Kafka bermonolog. Fikirannya tertuju pada perilaku Zahra belakangan ini
Kafka tau bahwa gadis itu mendengar semua pembicaraan Kafka dan Irene dengan jelas. Gadis itu juga tau apa yang di perbuat oleh Kafka dan Irene
Ajaibnya, tak terlihat sedikitpun raut msrah di wajah Zahra. Gadis itu terlihat sangat tenang dengan wajah teduhnya
Apa karena Irene sahabatnya? Tapi bukankah hubungan persahabatan mereka seharusnya membuat hubungan keduanya berantakan?
Ah, Kafka hampir lupa, Irene tak tau tentang pernikahannya dengan Zahra. Irene tak tau bahwa pacarnya adalah suami dari sahabatnya
Kafka merasa seperti orang jahat saat ini. Ia sangat menyayangi Irene. Setiap bertemu, ia selalu berusaha mati-matian untuk menjaga nafsunya, bahkan hingga berkeringat dingin
Irene tak pernah lelah untuk mengundang syahwatnya itu
Irene adalah gadis baik, Kafka tau itu. Ia melakukan hal tersebut karena tak mau kehilangan Kafka
Tapi kafka mulai tak yakin dengan hubungannya itu. Semua itu adalah kesalahan besar
Beberapa malam kemarin bahkan ia habiskan untuk menenangkan diri di club malam. Hanya itu tempat pelariannya. Hanya itu tempatnya untuk mencari ketenangan dari semua masalah
Netra Kafka menyusuri setiap sudut kamar Zahra. Semua tertata rapi, kamar ini mampu memberi ketenangan. Aroma khas Zahra pun masih tercium jelas
Pandangannya beralih pada sebuah foto di dalam bingkai berwarna putih yang terletak di nakas. Tangannya meraih bingkai foto tersebut
Dilihatnya seorang gadis dengan rambut pendek sedang tertawa bahagia dengan dua orang paruh baya. Kafka tau, sudah pasti gadis itu adalah Zahra dengan kedua orang tuanya. Kafka sangat mengenal tawa itu. Kafka sangat mengenal tawa yang tak pernah surut dalam kondisi rapuh sekalipun itu
"Gue jahat ya?" Gumamnya tanpa sengaja
Selama ini Kafka sadar bagaimana kurang ajarnya dirinya terhadap Zahra. Ia tau sikapnya itu sangat tak pantas, terlebih saat ia mempermalukan gadis itu di lapangan basket. Tapi tetap saja, gadis itu tak menunjukkan perasaan marah padanya. Tentu saja Kafka jadi merasa bersalah
Akan tetapi, egonya terlalu besar. Ia merasa gengsi apabila harus meminta maaf pada Zahra secara langsung
Kafka mengeluarkan ponselnya di saku celana, tangannya mengetikkan nomer telefon seseorang
KAMU SEDANG MEMBACA
THE MUBRAM
Fiksi RemajaHidup bukan hanya tentang bagaimana cara kita mencari suatu kebahagiaan. Hidup merupakan bagaimana kita singgah dan menerima titipan dari Allah dengan baik di dunia yang fana ini Apa yang di rasa baik, belum tentu baik untuk kita dan apa yang dirasa...
