بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
-•o•-
Sunyi, beberapa hari ini suasana tampak seperti itu.
Kini Zahra kembali menghuni salah satu ruangan di rumah keluarga Pradipta, rumah yang awalnya dia fikir merupakan istana terakhirnya kini harus ia tinggalkan.
Berat, namun hanya ini satu-satunya jalan bagi Zahra.
Bukan keinginan Zahra seperti ini, namun laki-laki itu dengan lugasnya mengusir Zahra keluar dari rumahnya.
Zahra tau, seburuk-buruknya kondisi rumah tangga, seorang istri tetaplah harus berada di sisi suaminya, cukup saat itu saja ia pergi ke tempat yang lebih aman.
Zahra selalu bertanya-tanaya, apa akan selalu seperti ini, kehidupan orang Kaya? Semua itu ia perhatikan dari banyak orang di sekitarnya.
Kebanyakan teman-teman di sekolahnya adalah anak broken home, dan tentunya mereka anak dari jutawan ataupun konglomerat. Apa memang takdir di gariskan seperti ini.
Zahra tak pernah merasakan kondisi sulit seperti ini sewaktu ia masih hidup dalam kesederhanaan. Apa semua orang kaya mudah bertindak semaunya? Apa semua sama seperti Kafka?
Ah, mungkin kalimat tersebut terkesan memaki laki-laki itu. Namun itulah yang ada di dalam fikiran Zahra saat ini.
Keluarga Raya juga punya masalah pelik. Zahra tau penyebab gadis sepantarannya itu memilih untuk tinggal sendirian di apartemen tanpa siapapun. Keluarganya Kacau, kedua orang tuanya selalu bertengkar hebat, sang ayah punya wanita lain, sang ibu juga terlalu gila harta, Raya yang menceritakan semua itu, namun belakangan ini hubungan keluarganya sedikit membaik.
Tunggu, apakah hubungnanya dengan Kafka akan berjalan seperti itu. Wanita lain? Apa akan hadir sosok itu? Tidak-tidak, fikirannya terlaku jauh.
Irene? Apa gadis itu bisa dikatakan wanita lain, atau malah Zahra yang wanita lain?
Tidak, Zahra harus membuang fikiran buruk itu jauh-jauh.
"Pergi dan jangan pernah balik lagi" apa kalimat tersebut bermakna bahwa dirinya dan Kafka bercerai.
Tolonglah, Zahra tak boleh berfikiran seperti itu. Semua itu hanya hasutan setan, Zahra tak boleh terpengaruh akan hal itu.
'Enghh'
Erangan itu keluar dari Zahra, ia tertunduk sembari meremas perut bagian bawahnya, saat ini Zahra hanya merasakan perih ya.ng tiba-tiba terasa menusuk perutnya.
"Ya Allah, apa lagi ini?" Desis Zahra. Untunglah, rasa sakit yang menghampirinya tak bertahan lama, dalam waktu sekitar dua menit-an rasa itu menghilang dengan sendirinya.
Jika ditanya Zahra menangis atau tidak, jawabannya adalah tidak, itu untuk saat ini.
Kemarin satu hari penuh ia habiskan waktunya untuk menangisi laki-laki yang telah menyuruhnya pergi dari rumah itu.
Ratna telah menguatkannya, wanita paruh baya itu memiliki jiwa keibuan yang sangat besar, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya mampu mengurangi semua rasa sakit pada Zahra.
"Kamu sayang sama Kafka kan, kalo gitu jangan nangis. Kasihan di akhirat nanti kalo kamu terus netesin air mata karena dia"
Kalimat itu memang biasa saja, namun sosok yang mengucapkannya adalah sosok yang menurut Zahra sosok luar biasa. Zahra harus bangkit dari keterpurukannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
THE MUBRAM
Teen FictionHidup bukan hanya tentang bagaimana cara kita mencari suatu kebahagiaan. Hidup merupakan bagaimana kita singgah dan menerima titipan dari Allah dengan baik di dunia yang fana ini Apa yang di rasa baik, belum tentu baik untuk kita dan apa yang dirasa...