بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
-•o•-
Pagi ini, zahra berangkat ke sekolah lebih pagi. Ia tak sabar untuk bertemu dengan Irene lalu meminta maaf pada gadis itu. Ia sangat ingin hubungan persahabatannya baik-baik saja
Kaki Zahra melangkah dengan terburu-buru di koridor sekolah, ah, kelasnya berada di lantai tiga, tentu saja Zahra akan kewalahan kali ini karena langkah cepatnya itu
'Bruk'
Zahra menabrak seorang gadis karena ia taj terlalu melihat jalan, sepertinya gadis itu adalah adik tingkatnya
"Eh, maaf Kak, saya nggak sengaja" ujar gadis itu
Zahra menggeleng dan tersenyum "Saya yang nabrak kamu, harusnya saya yang minta maaf, kan?"
"Em... Saya permisi kalo gitu kak" Zahra mengangguk lalu gadis itu berlalu dari hadapannya
Setibanya di kelas, ternyata suasana memang masih sangat sepi baru beberapa siswi saja yang sudah datang, Zahra hanya bisa berharap bahwa ketika Irene datang, Irene bisa bersikap seperti biasanya
"Halo ustadzah Zahra" suara yang amat nyaring itu berasal dari Raya yang saat ini sudah berada di hadapan Zahra. Se isi kelas hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan Raya tersebut, gadis itu selalu berteriak dengan heboh
"Bisa nggak sih, nyapa nya pelan aja. Aku kan nggak tuli" ujar Zahra halus
Raya mengeluarkan cengiran Khas nya "Ya kan gue terlalu antusias buat nyapa elo, Btw kemarin malem nyokapnya si Irene nelfon gue tuh, dia nyariin Irene, Tumben dah si Irene pergi tanpa pamit"
Zahra tercekat, ia benar-benar tak tau jika Irene tak pulang hingga larut malam, Zahra pun kembali di selubungi oleh perasaan bersalah, karenanya Irene jadi menghilang tanpa Kabar "Tapi, Irene udah pulang kan?' tanya Zahra memastikan, ia sangat Khawatir dengan kondisi Irene yang sampai melakukan hal seperti itu
"Nah, itu dia Ra, gue nggak tau" Ujar Raya lemas, sejujurnya ia juga sangat menghawatirkan salah satu sahabatnya tersebut. Tak biasanya Irene seperti ini
"Entar deh kita tanya sama Irene, tapi tumben dia belum datang, biasanya dia udah datang jam segini" Ah, benar. Lima meni lagi lonceng akan berbunyi sebagai pertanda bahwa jam pelajaran akan segera di mulai, namun Irene tak kunjung menampakkan batang hidungnya
-
-
-
Waktu terus berjalan hingga semua mata pelajaran telah usai, sejak tadi Zahra gelisah memikirkan Irene yang ternyata tak datang ke sekolah
Apa sahabatnya itu baik-baik saja? Jika baik-baik saja, maka kemanakah Irene pergi sampai tak ada kabar seperti ini
Haruskah Zahra pergi ke rumah Irene untuk melihat keadaan gadis itu?
Zahra duduk di halte yang terletak di samping pintu masuk kawasan sekolah, ia menunggu ojek online yang sudah ia order sejak tadi dan akhirnya wanita berjaket hijau itu berhenti di hadapannya dengan motor matic berwarna hitam. Kebetulan hari ini Dodi meminta izin untuk cuti karena ada acara keluarga di kampungnya
"Mba Zahra ya?" Zahra mengangguk lalu menaiki kendaraan beroda dua itu saat setelah sang empu memberikan helm nya
Wanita yang berbalut jaket hijau itu mungkin seumuran dengan Ratna, Zahra sangat beruntung karena bisa mendapatkan driver ojek seorang wanita
Motor mulai bergerak menjauh dari area sekolah Zahra, namun fikiran Zahra masih berkecamuk saat ini, ia masih terus memikirkan Irene
"Saya lihat mba nya dari tadi kok kayaknya lagi nggak tenang, lagi ada masalah ya mba?"
KAMU SEDANG MEMBACA
THE MUBRAM
Fiksi RemajaHidup bukan hanya tentang bagaimana cara kita mencari suatu kebahagiaan. Hidup merupakan bagaimana kita singgah dan menerima titipan dari Allah dengan baik di dunia yang fana ini Apa yang di rasa baik, belum tentu baik untuk kita dan apa yang dirasa...
