بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
-•o•-
"Mba Zahra!" Teriakan itu menghentikan langkah kaki Zahra. Zahra berbalik badan.
Seorang perempuan dengan rambut kuncir kudanya datang menghampiri Zahra dengan senyum lebar.
Zahra membalas senyum itu. Perlu diketahui bahwa Zahra senang melihat gadis itu datang dengan senyuman.
Toko milik Zahra sedang berada di jam istirahat, saat ini Zahra hanya bisa melakukan beberapa rutinitas ringan karena dirinya sedang berhalangan untuk sholat, biasanya ia akan sholat di masjid yang berjarak sekitar delapan puluh meter dari tokonya.
"Una.. bisa nggak kalo misalnya una kerja paruh waktu, soalnya ini udah deket pts, kalo Una jarang masuk takut ketinggalan pelajaran, lagipula ibu juga masih sakit" Zahra mengernyit bingung, ia tau bahwa gadis bernama Ayuna itu masih sekolah. Gadis itu masih duduk di bangku SMA semester dua.
Malam tadi saat ia melihat gadis itu mengambil pesanan, ia menawarinya pekerjaan. Gadis itu memang sering mengunjungi toko Zahra karena majikan di tempat ibunya bekerja sangat suka kue buatan Zahra.
Zahra kagum dengan sosok gadis ceriwis di depannya itu. Di usianya yang masih belia ia harus menghidupi ibunya yang sakit. Ternyata kemarin adalah hari terakhir ibunya bekerja di rumah mewah yang sering diceritakannya.
Ibunya tak bisa lagi melakukan pekerjaan rumah tangga itu. Ibunya punya penyakit stroke dan akhirnya Ayuna lah yang harus turun tangan.
Terlihat senyum kecil di sudut bibir Zahra "Loh, kok mba Zahra malah senyum sih? Nggak bisa ya mba? Ya udah deh, kalo gitu Una cari pekerjaan lagi" Ayuna tertunduk lesu.
"Emang muka mba kelihatan kayak lagi nolak ya?" Ayuna kembali mendongakkan kepalanya. Ia menatap Zahra penuh kebingungan.
"Una... Tanpa kamu kasih tau ataupun kamu minta juga mba tau lah. Kamu itu kan masih sekolah" Zahra menjeda kalimatnya "Justru mba kagum loh sama kamu karena waktu seusia kamu, mba cuma ngandalin uang su.." Zahra tersadar. Ia tak bisa berkata sejujurnya.
Kafka pernah meminta agar status keduanya ditutupi dan laki-laki itu juga tak permah berkata bahwa suatu saat Zahra boleh memberitahukannya pada orang lain.
Una menautkan kedua alisnya. Ia bingung karena kaliat Zahra yang berhenti di tengah jalan.
"Emm... Kamu pts nya kapan?"
Una tampak berfikir, is mencoba mengingat pemberitahuan dari pihak sekolah "Sekitar tanggal tiga belas april deh kayaknya mba, Una juga lupa-lupa ingat"
"Tiga belas? Na, itu bulan depan loh, sempat kamu belajar?"
"Sempat aja kok, lagipula kalo una nggak cepet-cepet kerja, nggak ada biaya buat ibu berobat" ujar Una lesu. Zahra merasa sangat iba pada gadis itu. Harusnya Una bisa menikmati masa mudanya dengan teman-teman seumuran.
"Na, kan mba udah bilang kalo soal itu mba bisa..." Kalimat Zahra terpotong
"Mba.. Una kan juga udah bilang kalo Una nggak mau nerima bantuan secara cuma-cuma. Una mau menghasilkan uang pakai keringat una sendiri"
Zahra tersentuh, apa dirinya bisa se sabar Ayuna? Bahkan di saat ia terkena sedikit saja masalah maka ia akan menangis, lihatlah seorang Ayuna yang terus bersabar mengganti semua kepedihannya dengan senyuman yang sangat tulus.
"Mba nggak tau mau ngomong apa lagi, Na. Yang jelas mba bangga sama kamu karena emba nggak nyangka bisa ketemu sama gadis hebat kayak kamu"
-
-
-
KAMU SEDANG MEMBACA
THE MUBRAM
Teen FictionHidup bukan hanya tentang bagaimana cara kita mencari suatu kebahagiaan. Hidup merupakan bagaimana kita singgah dan menerima titipan dari Allah dengan baik di dunia yang fana ini Apa yang di rasa baik, belum tentu baik untuk kita dan apa yang dirasa...
