بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
-•o•-
"Jadi lo ketemu sama dia?" Setelah keheningan yang terjadi begitu lama, akhirnya Leo mau membuka suara.Leo tau bahwa Zahra bertemu dengan Kafka. Zahra menjatuhkan pandangannya pada wajah Leo, dengan penuh keraguan ia menganggukkan kepalanya.
"Kenapa? Beneran masih sayang sama dia?" Zahra terdiam, ia tak tau hendak menjawab apa. Ita takut jawabannya akan membuat perasan Leo menjadi semakin tak enak.
"Hubungan Zahra sama Kafka.."
"Jangan ngomongin itu dulu. Gue tau hubungan lo sama dia nggak bisa di selesain begitu aja. Kafka bisa ngenalin siapa elo?"
Zahra menggeleng "Zahra nggak tau, tapi emang kayaknya Kafka udah lupain Zahra. Zahra kan cuma singgah sebentar" Air mata gadis itu kembali menetes.
"Terus kalo udah begini, gimana lo ngelanjutin hidup? Elo butuh pasangan Ra, pasangan yang nggak busuk kayak dia!"
Kali ini tak ada sepatah pun kata yang mampu di lontarkan Zahra. Lidahnya serasa kelu untuk membela Kafka, ia tak mau kakak laki-lakinya itu menjadi semakin emosi. Kafka Kafka dan Kafka. Sudahlah, bagi Leo sudah sepatutnya Zahra melupakan laki-laki itu, namun bagaimana dengan Zahra sendiri?
"Gue bakal bantu lo supaya lepas dari laki-laki itu"
-
-
-Hari ini suasana toko tak seramai biasanya. Hujan mengguyur kota tanpa ampun, bahkan beberapa daerah sudah terkena banjir.
Hujan deras seperti ini tak di sukai oleh Zahra, namun mau bagaimana lagi, semua ini merupakan rahmat dari Allah yang harus di syukuri.
Pandangan Zahra terfokus pada sepasang kekasih yang sedang bermain di bawah guyuran hujan. Pakaian biru putih mereka sudah basah kuyup karena air yang menetes dari langit itu.
Zahra tersenyum singkat karena melihat pancaran kebahagiaan pada wajah sepasang umat manusia itu, namun ia juga prihatin karena kedekatan mereka. Zahra tak bisa melarang, di Indonesia tak ada undang-undang yang melarang masyarakatnya berpacaran. Agama memang melarang, namun Zahra rasa ia tak bisa turut campur karena kedua remaja itu punya hak mengambil keputusannya sendiri.
Sudah beberapa kali sepasang kekasih yang masih dilanda cinta monyet itu datang ke tokonya untuk membeli kue buatan Zahra, bahkan tingkah mereka seperti sepasang pengantin baru yang masih sangat harmonis.
Enyahlah, tak usah membahas yang tak perlu untuk di bahas, mata Zahra kali ini beralih ke sudut teras sebuah toko yang sedang tutup.
Seekor kucing kecil berbulu cokelat sedang meringkuk kedinginan, bahkan di sana tak ada induk dari kucing tersebut tentu saja Zahra tak tega melihatnya.
Zahra langsung kalang kabut sendiri mencari payung untuk mendatangi kucing tersebut. Ia tak bisa membiarkan kucing itu sakit karena kehujanan.
"Mba Zahra cari apa?" Pertanyaan itu lolos daei mulut Ayuna yang sedang mengelap etalase.
"Kamu lihat payung nggak?"
Ayuna menautkan kedua alisnya "bukannya payung dibawa sama tante Ratna ya?"
Gerakan Zahra terhenti. Beberapa hari lalu Ratna membawa payung itu karena hujan deras juga "Iya ya, kok mba bisa lupa sih?"

KAMU SEDANG MEMBACA
THE MUBRAM
Roman pour AdolescentsHidup bukan hanya tentang bagaimana cara kita mencari suatu kebahagiaan. Hidup merupakan bagaimana kita singgah dan menerima titipan dari Allah dengan baik di dunia yang fana ini Apa yang di rasa baik, belum tentu baik untuk kita dan apa yang dirasa...