21. Artha Tetaplah Artha

3.6K 260 27
                                        

"Kau percaya aku?"

Launez yang baru saja mengecek Vanessa yang tengah tertidur sontak saja menghadapkan tubuhnya pada sang tuan.

"Lo percaya gue?"

Launez mengangguk tak berani menatap wajah sang tuan. Pria dihadapan Launez tersenyum sinis kemudian menarik dagu Launez agar menghadap kepadanya.

"Anda percaya saya!?"

"Ya, tuan!" jawab Launez tegas.

Sosok lelaki tersebut pergi begitu saja hingga membuat Launez menarik napasnya dalam-dalam kemudian kembali mengecek keadaan Vanessa yang nampak nyenyak dalam tidurnya.

Launez tersandar pada dinding, matanya terpejam perlahan. Kedua tangannya memegang kepala dan punggungnya mulai merosot kebawah hingga ia benar-benar terduduk dilantai.

"Argh!"

Launez menampar wajahnya sendiri.

"Sialan!"

"Bodoh!"

Pria itu masih menampar wajahnya berkali-kali seolah tak ada rasa sakit sama sekali. Ia memegang dadanya kemudian menamparnya dengan cukup kuat. Isakan kecil terdengar dari bibirnya, air matanya mulai jatuh secara perlahan.

Launez bangkit kemudian mengusap air matanya secara kasar. Ia berlari secepat mungkin meninggalkan kamar Vanessa. Larinya terhenti saat ia sudah mencapai lantai tertinggi gedung tersebut.

"VIKAAA!!!"

"MAAFIN SAYA!"

"SAYA CINTA SAMA KAMU!"

"VIKAAA!!!"

Anggaplah kalau Launez sekarang sebagai lelaki pecundang.

"SAYA CINTA KAMU NENEK LAMPIR!!!"

"VIKAAA!"

Launez telentang dilantai dengan tatapan sayup pada langit yang dipenuhi bintang-bintang.

"Vika..." guman Launez memejamkan matanya.

"Maafin saya..."

"Maafin saya... Saya cinta kamu... Vika..."

Mata Launez terbuka perlahan dan mendapati seorang wanita merebahkan diri disampingnya.

"Langitnya indahkan? Cantikan gue apa bintang-bintang? Serius nanya!"

Launez terdiam kemudian menyentuh pelan pipi wanita itu. Benarkah yang berada disampingnya sekarang adalah Vika?

"Heh! Ngapa lo kek!?" tanya wanita disampingnya itu.

"Saya cinta sama kamu..." Launez memejamkan matanya kembali dan sebuah kecupan mendarat dipipinya.

"VIKA!"

Launez tersadar dengan tubuh dipenuhi keringat, ia tengah bermimpi? Lokasinya masih sama yaitu rooftop gedung apartemen yang berhadapan langsung dengan langit malam. Jam berapa sekarang? Lelaki itu langsung bangkit dengan tatapan kosongnya.

"Argh!" kakinya menendang cukup kuat pada beberapa benda yang dilewatinya. Ia kembali berantakan seperti sebelumnya. Karna titik kebahagiaannya adalah seorang Vika.

•••

"Selena?"

Wanita rambut sebahu itu memanggil sosok anak kecil yang berdiri didepan kulkas.

"Oh Bibi Vika..." kekeh Selena malu-malu.

"Kau lapar?" tanya Vika tersenyum.

"Ini jam dua pagi, ayo kembali kekasur," titah Vika lalu meraih sebotol air dari dalam kulkas.

"Ramsey kelaparan," ucap Selena jujur lalu duduk disamping Vika yang tengah meneguk air tersebut.

"Mana Ramsey?" tanya Vika memperhatikan sekitar.

Guk!

Seolah tahu namanya dipanggil, Ramsey si anjing langsung melompat ketubuh Selena dan gadis kecil itu langsung memeluk anjingnya. Dasar anjing...

"Kau tidak bisa tidur?" tanya Selena.

"Aku biasa terbangun," jawab Vika santai.

"Bibi... Didalam tatapanmu hanya ada dia kan?"

Vika mendelik kebingungan.

"Maksudmu?" tanya Vika datar.

"Artha." Selena menampilkan deretan giginya hingga membuat Vika terdiam kemudian mengusap pucuk kepala gadis itu.

"Yang lalu, biarlah berlalu." Vika langsung pergi meninggalkan Selena dan Ramsey.

Guk!

"Oh iya kau lapar! Mari kita kekamar Kak Van, dengan mengganggu Kak Van, kau akan kenyang. Benar bukan? Hahaha!" Selena berjalan meninggalkan dapur diikuti Ramsey.

"Hey?"

Vika menoleh pada Rama yang ternyata juga terbangun dari tidurnya.

"Kamu kenapa?" tanya Rama, suami dari Vika.

"Enggak, tadi ketemu Selena didapur," jawab Vika mengalihkan pembicaraan.

"Aku tau, kamu ada apa-apa dan itu selalu terjadi," kekeh Rama mengajak Vika duduk disofa kamar.

Vika langsung memeluk suaminya itu dengan erat hingga membuat Rama bingung.

"Maafin aku, aku masih cinta sama dia. Maaf..."

Rama melepas paksa pelukan Vika dengan pelan kemudian tersenyum.

"Aku tau kok," ucap pria itu dengan senyum tulusnya.

"Yaudah, yuk tidur."

Keduanya kembali merebahkan diri kekasur dengan posisi rebahan saling membelakangi.

Btw, selama dikarantina kalian udah rebahan gaya apa aja? Hahaha...

Selena terdiam didepan kamar sang kakak, tanpa permisi atau mengetuk ia langsung masuk karena ia tahu kalau kamar Alevan tak pernah terkunci. Benar saja kalau sang ibu tidur disamping sang kakak.

"Dasar Kak Van," gerutu Selena iri.

Guk!

Ramsey menggonggong tanda sejutu atas ucapan Selena. Rupanya anjing itu punya dendam dengan Alevan, ada-ada saja.

"Mom!" panggil Selena. Seketika mata Alea terbuka, ia menatap Selena hangat kemudian mengajak gadis itu merebahkan diri disampingnya. Untung saja ukuran kasur Alevan besar hingga Ramsey dapat ikut merebahkan diri disana. Alevan terlihat nyaman dengan tidurnya.

"Mom--"

"Jangan ganggu Kak Van, dia lelah," potong Alea berbisik. Selena membuang napas pasrah kemudian memejamkan matanya dipelukan sang ibu.

Beberapa menit kemudian, Alea memastikan Selena sudah tertidur. Ia turun dari kasur kemudian melangkah keluar dari kamar membiarkan kakak beradik itu tidur bersama, jarang-jarangkan mereka akur?

Guk!

"Sttt..." ucap Alea pada Ramsey. Ramsey menghampiri Alea dan ikut pergi bersama wanita itu. Alevan dan Selena sama-sama nyaman dalam tidurnya.














Tbc!
Kayaknya sampai sini aja deh dipart ini. Karna aku cuma mau ngejelasin kisah cinta Vika sama Artha. Maaf kalau singkat.
Komen ya guys! Ada yg masih ngarep mereka balikan?

Te Amo 2 ( Alevan Dykara )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang